Jakarta, FORTUNE - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memfinalisasi kerja sama dengan Hong Kong Exchange and Clearing Limited (HKEx) untuk membuka kesempatan kepada investor domestik bertransaksi ke saham-saham global lewat produk derivatif, Single Stock Futures (SSF).
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan, kesepakatan itu berpotensi menjadikan ribuan saham yang tercatat di Bursa Hong Kong sebagai underlying SSF di Indonesia. Diskusi terkait kemitraan itu akan segera mencapai mufakat.
"Nanti, misalnya, nama-nama yang sudah kita kenal seperti BYD dan Tencent, bisa menjadi underlying produk SSF," kata Jeffrey kepada pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/7), bertepatan dengan HUT ke-34 BEI.
Sebelumnya, pada 2025, BEI telah menggunakan saham-saham dalam indeks MSCI Hong Kong Large Cap Index sebagai underlying pada produk derivatif yang sama. Hal tersebut membuat investor domestik memiliki eksposur terhadap instrumen investasi yang dilandasi oleh saham-saham di indeks tersebut.
Sebagai konteks, BEI sendiri telah meneken Nota Kesepahaman atau MoU dengan Bursa Efek Hong Kong sejak 26 Juli 2023. Di luar itu, bursa juga menjalin kerja sama dengan Singapore Exchange (SGX) pada Oktober 2025.
Selain itu, BEI juga sedang berdiskusi dengan Stock Exchange of Thailand (SET). Pada tahap awal, peluangnya adalah menerbitkan Unsponsored DR seperti di Singapura. Khusus untuk Sponsored DR dari Indonesia, pencatatan sudah mulai dilakukan di New York Stock Exchange (NYSE).
"Ke depannya tentu kami harapkan [kerja sama] bisa resiprokal. Artinya, perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa lain pun nantinya bisa dicatatkan di bursa kita," kata Jeffrey. "Tapi tentu kita harus hati-hati di situ karena ada faktor pengawasan yang harus dilakukan atas efek yang tercatat di bursa kita."
