Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mirae Asset Proyeksikan Laba Emiten Consumer Turun 6 Persen pada 2026
Logo Mirae Asset Sekuritas. (Dok. Mirae Asset Sekuritas)
  • Mirae Asset memproyeksikan pendapatan agregat emiten consumer tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada 2026, lebih tinggi dari estimasi pertumbuhan sekitar 4 persen pada 2025.
  • Laba emiten consumer diperkirakan turun sekitar 6 persen pada 2026 karena margin tertekan dan pelemahan rupiah terhadap dolar, mengingat mayoritas bahan baku serta produk masih mengandalkan impor.
  • Sektor ritel consumer diproyeksikan lebih tangguh, dengan pendapatan tumbuh sekitar 8 persen dan laba 12 persen, didukung kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pendapatan agregat emiten consumer mencapai 6,3 persen secara tahunan (YoY) pada akhir 2026, di tengah potensi penyusutan laba akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Proyeksi pendapatan agregat tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan estimasi 2025 pada kisaran 4 persen. Namun, pertumbuhan pendapatan ini tidak berbanding lurus dengan pencetakan laba. Laba emiten justru diperkirakan mengalami penurunan ke kisaran 6 persen (YoY).

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Putu Chantika Putri, menyatakan pelemahan laba dipicu oleh penurunan margin dan faktor fluktuasi mata uang.

"Kami ekspektasikan penurunannya itu di sekitar pertengahan sampai dengan high single digit. Selain dari margin, [tekanan] utamanya yang kami proyeksikan itu dari sisi USD/IDR, terlebih kemarin sudah menyentuh level Rp18.000 [per dolar Amerika Serikat]," kata Chantika, Selasa (20/10).

Mayoritas emiten consumer goods mengandalkan impor untuk bahan baku dan produk. Kondisi tersebut memunculkan potensi kerugian akibat pelemahan kurs.

Di sisi lain, sektor consumer ritel mencatatkan daya tahan terhadap sentimen ekonomi global. Sektor ini memiliki target pasar kelas menengah ke atas dan menerapkan kebijakan pembebanan kenaikan harga bahan baku langsung ke konsumen.

"Akan ada kenaikan dari sisi harga barang-barangnya. Itulah mengapa dari sisi pendapatan kami ekspektasikan lebih tinggi dibandingkan consumer goods, yakni di high single digit, sekitar 8 persen," kata Chantika. "Sementara dari sisi laba kami harapkan sekitar 12 persen."

Sejumlah saham sektor consumer yang diproyeksikan menopang pertumbuhan pendapatan mencakup PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMR) [VERIFIKASI: Kode saham untuk PT Cisarua Mountain Dairy Tbk seharusnya CMRY], dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Chantika mengimbau investor menyeleksi saham pada sektor ini secara cermat. Tekanan pasar memberikan dampak berbeda bagi setiap emiten, bergantung pada kondisi daya beli, biaya operasional, porsi kepemilikan asing, serta kinerja fundamental masing-masing perusahaan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article