Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mirae Asset Revisi Target IHSG 2026 Usai Saham HSC Dikeluarkan
Mirae Asset Sekuritas. (Dok. Mirae Asset)
  • Mirae Asset akan merevisi target IHSG akhir 2026 setelah indeks menyentuh skenario terburuk 5.500, berbeda dari proyeksi awal Oktober di level 6.900.
  • BEI akan mengecualikan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG, meski tetap diperdagangkan; bobotnya sekitar 18 persen dan dievaluasi tiap tiga bulan.
  • Pasar Indonesia menghadapi tekanan global dan domestik: rupiah sekitar Rp18.000 per dolar AS, suku bunga BI 5,75 persen, serta proyeksi inflasi akhir tahun 4 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) berencana merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di penghujung 2026, sejalan dengan langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapuskan saham High Shareholding Concentration (HSC) di penghitungan indeks.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto, mengatakan, situasi pasar saat ini jauh berbeda dari ekspektasi tim riset. Pada awal Oktober 2026, Mirae Asset Sekuritas masih memproyeksikan IHSG dapat ditutup di level 6.900 pada akhir 2026.

"Kami sedang melakukan kalkulasi lagi. Tak bisa kita pungkiri bahwa sepertinya memang arah pasar itu sudah berbeda dibandingkan ekspektasi kami sebelumnya. Memang saat ini sendiri IHSG sudah menyentuh level worst case kita, di 5.500," kata Rully dalam Media Day Oktober 2026, Selasa (20/10).

Kendati demikian, menurutnya, langkah bursa mengecualikan saham-saham HSC dari penghitungan indeks acuan adalah keniscayaan. Khususnya untuk mengurangi risiko perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) di pasar.

"Kalau kita lihat sebenarnya hal ini merupakan suatu keputusan yang memang diperlukan untuk saat ini agar pergerakan dari indeks itu tidak dipengaruhi oleh saham-saham yang sebenarnya tidak terlalu aktif, tidak likuid, dan tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Mungkin ini memiliki dampak baik dari jangka panjang dan jangka pendek," jelasnya.

IHSG sendiri ditutup menguat 5,65 persen ke level 5.278,89 pada akhir perdagangan Selasa.

Sehari sebelumnya, BEI mengumumkan rencana untuk tidak lagi memperhitungkan bobot saham dalam HSC terhadap IHSG, walau masih bisa diperdagangkan di bursa. Bobotnya sendiri mencapai sekitar 18 persen terhadap indeks. Saham-saham tersebut baru akan kembali diperhitungkan lagi ke indeks jika sudah keluar dari daftar HSC.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan, kriteria utama saham-saham adalah kepemilikan yang terkonsentrasi pada beebrapa pihak saja. Selain itu, terdapat price impact ratio (PIR) tertentu pada saham tersebut, juga adanya kekhawatiran dari segi pengawasan.

"Kalau kriteria-kriteria tersebut sudah tidak terpenuhi, akan masuk kembali dalam perhitungan IHSG. HSC berdasarkan PIR secara reguler akan dievaluasi 3 bulan sekali, menyesuaikan dengan review IHSG dan indeks utama," kata Iding kepada media, Selasa.

Langkah baru BEI soal saham HSC tersebut merupakan salah satu dari 2 inisiatif yang diumumkan sejalan dengan wacana MSCI mereklasifikasi pasar modal Indonesia ke Standalone Market, dari sebelumnya Emerging Market.

Menurut Rully, usulan tersebut belum menjadi keputusan final. Proses konsultasi masih berlangsung, sementara otoritas pasar modal tengah menjalankan sejumlah langkah pembenahan untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperkuat keterbukaan informasi, dan memperbaiki kualitas pasar.

Ia menilai, arah reformasi tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan kepercayaan investor ke depan. Konsistensi pelaksanaan dan hasil yang dapat diverifikasi akan menjadi perhatian utama pasar, terutama di tengah kekhawatiran mengenai potensi perubahan aliran dana asing apabila kebijakan MSCI berubah.

Secara menyeluruh, Mirae menilai, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan dari kombinasi ketidakpastian global dan tantangan domestik. Di pasar global, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi, serta kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan meningkatkan volatilitas arus modal.

Tekanan tersebut turut tercermin pada nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan Oktober 2026. Di sisi domestik, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah. Sementara itu, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen, tetapi Mirae Asset memperkirakan inflasi dapat mencapai 4,0 persen pada akhir tahun, terutama dipengaruhi pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan.

"Investor perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh, karena tekanan global tidak hanya berdampak pada pergerakan saham, tetapi juga nilai tukar, imbal hasil obligasi, dan arus modal. Di tengah kondisi ini, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif resilien, tetapi tekanan terhadap daya beli dan risiko inflasi tetap perlu dicermati," ujar Rully.

Curated For You

Editorial Team

Related Article