Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Proyeksi Harga Emas Tembus 5.000 Dolar AS pada 2027
ilustrasi emas (pexels.com/Pixabay)
  • Morgan Stanley melihat harga emas berpeluang melampaui 5.000 dolar AS per troy ounce pada 2027.

  • Kenaikan didukung arus masuk ETF emas, pembelian bank sentral seperti China dan Polandia, ekspektasi suku bunga The Fed lebih rendah, serta kekhawatiran utang pemerintah AS.

  • Kenaikan inflasi dapat memperpanjang kebijakan ketat The Fed, menguatkan dolar AS serta imbal hasil riil yang menekan emas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Morgan Stanley memperkirakan harga emas berpeluang menembus 5.000 dolar AS per troy ounce pada 2027. Proyeksi tersebut muncul setelah harga emas melampaui perkiraan sebelumnya lebih cepat dari jadwal.

Pada Kamis (27/8), harga emas bertahan di atas 4.500 dolar AS per troy ounce. Angka tersebut telah melewati proyeksi Morgan Stanley untuk kuartal IV 2026 sebesar 4.450 dolar AS.

Pendorong harga emas menuju 5.000 dolar AS pada 2027

Analis Morgan Stanley, Amy Gower, mengatakan harga emas telah mencapai proyeksi kuartal IV 2026 lebih cepat dari perkiraan.

“Emas telah mencapai perkiraan kuartal keempat kami sebesar US$4.450/oz lebih cepat dari yang diperkirakan,” ujar Gower, dikutip Kamis (27/8).

Morgan Stanley melihat tren kenaikan masih dapat berlanjut hingga 2027. Arus dana ke ETF emas, pembelian bank sentral, dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi sejumlah faktor pendukung.

“Kami melihat jalur menuju >US$5.000/oz pada 2027, tetapi dengan potensi volatilitas juga,” kata Gower.

Meski demikian, Morgan Stanley tidak menetapkan 5.000 dolar AS sebagai target harga pasti. Level tersebut merupakan proyeksi yang masih dapat berubah seiring pergerakan pasar.

Arus dana ETF emas kembali meningkat

Salah satu faktor yang diperhatikan Morgan Stanley adalah perubahan arus dana pada produk investasi berbasis emas, khususnya exchange-traded fund (ETF). Data bank tersebut menunjukkan ETF emas mencatat arus keluar sekitar 93 ton pada Mei dan Juni 2026. Kondisi kemudian berbalik pada Juli dan Agustus dengan tambahan sekitar 70 ton.

Perubahan itu terjadi ketika probabilitas kenaikan suku bunga The Fed yang tercermin di pasar menurun. Morgan Stanley memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026.

Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat mendukung permintaan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Penurunan imbal hasil obligasi juga dapat meningkatkan daya tarik aset tersebut bagi investor.

Pembelian bank sentral menjadi faktor lain

Selain ETF, pembelian emas oleh bank sentral menjadi faktor lain dalam proyeksi Morgan Stanley. China tercatat menambah sekitar 60 ton emas sepanjang 2026. Angka tersebut menjadi akumulasi tahunan terbesar negara itu sejak 2023.

Polandia juga menambah 82 ton sehingga kepemilikan emasnya mencapai sekitar 632 ton. Negara tersebut masih bergerak menuju target cadangan sebesar 700 ton.

Pembelian oleh bank sentral membantu menjaga permintaan fisik emas ketika harga mengalami tekanan. Morgan Stanley mencatat bank sentral masih menggunakan periode pelemahan harga untuk menambah cadangan.

Kekhawatiran fiskal AS turut menopang harga emas

Morgan Stanley juga melihat faktor fiskal mulai memengaruhi pergerakan harga emas. Hal ini terlihat pada awal Agustus ketika harga emas tetap menguat meski imbal hasil riil jangka panjang AS masih relatif tinggi.

Menurut Morgan Stanley, kondisi tersebut menunjukkan pasar tidak lagi hanya mempertimbangkan tingkat imbal hasil. Kekhawatiran terhadap tingginya utang pemerintah AS turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Dukungan lain datang dari kebijakan Treasury AS. Rencana peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang sempat menekan imbal hasil obligasi dan dolar AS. Pelemahan keduanya menjadi sentimen positif bagi harga emas.

Inflasi dan kebijakan The Fed jadi risiko

Morgan Stanley mengingatkan harga emas tetap berisiko mengalami volatilitas meski berpeluang menembus 5.000 dolar AS per troy ounce pada 2027. Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah perkembangan inflasi AS.

Jika inflasi kembali meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil riil sehingga menekan harga emas.

Morgan Stanley saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026. Namun, perubahan prospek inflasi dapat mengubah arah kebijakan bank sentral dan memicu pergerakan harga emas.

Potensi kenaikan dari penutupan posisi short juga mulai terbatas. Posisi short spekulatif di COMEX berada di sekitar level terendah sejak April 2020, sehingga dorongan harga dari aksi short covering diperkirakan tidak sebesar sebelumnya.

FAQ seputar proyeksi harga emas tembus 5.000 dolar AS

Apa yang mendorong proyeksi harga emas tersebut?

Arus ETF emas, pembelian bank sentral, dan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi sejumlah pendorongnya.

Berapa target emas Morgan Stanley untuk kuartal IV 2026?

Target sebelumnya sebesar 4.450 dolar AS per troy ounce telah tercapai lebih cepat dari perkiraan.

Apa risiko bagi harga emas?

Inflasi AS, kebijakan The Fed yang lebih ketat, penguatan dolar, dan kenaikan imbal hasil riil dapat menekan emas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article