Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Reli Bitcoin Butuh Rp17,9 Triliun, Menanti Modal Jumbo Institusi

Reli Bitcoin Butuh Rp17,9 Triliun, Menanti Modal Jumbo Institusi
ilustrasi Bitcoin (Unsplash/Kanchanara)
Intinya Sih
  • CryptoQuant menilai Bitcoin butuh lebih dari Rp17,9 triliun modal baru agar bisa memulai reli besar berikutnya, seiring meningkatnya kebutuhan dana di setiap siklus bullish.

  • Efisiensi modal Bitcoin terus menurun karena struktur pasar makin matang, membuat harga tak lagi mudah terdorong hanya oleh likuiditas kecil dari investor ritel.

  • Reli selanjutnya diperkirakan bergantung pada masuknya dana institusi besar seperti dana pensiun dan sovereign wealth fund, sementara minat investor institusional saat ini masih terbatas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Peluang Bitcoin kembali mencetak reli besar dinilai semakin bergantung pada masuknya dana segar dari investor institusi. Seiring bertambah besarnya kapitalisasi pasar aset kripto tersebut, kebutuhan modal untuk mendorong kenaikan harga kini jauh lebih besar dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

Laporan CryptoQuant memperkirakan Bitcoin membutuhkan aliran modal baru lebih dari US$1 triliun atau sekitar Rp17.991 triliun agar dapat memulai fase reli berikutnya.

Menurut CryptoQuant, setiap siklus bullish Bitcoin kini memerlukan suntikan dana yang semakin besar untuk menghasilkan kenaikan harga yang setara dengan periode sebelumnya.

Pada 2011, arus modal bersih sekitar US$2,8 miliar atau sekitar Rp50,375 triliun mampu mendorong harga Bitcoin melonjak hingga 55.000 persen.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2015, aset kripto tersebut membutuhkan aliran dana sekitar US$69 miliar atau sekitar Rp1.241 triliun untuk mencatatkan kenaikan harga sekitar 10.000 persen.

Sementara itu, pada siklus yang dimulai sejak 2022, arus modal bersih telah mencapai sekitar US$697 miliar atau setara Rp12.539 triliun, tetapi hanya menghasilkan kenaikan harga sekitar 689 persen.

CryptoQuant menilai penurunan efisiensi modal tersebut mencerminkan perubahan mendasar pada struktur pasar Bitcoin. Dibandingkan beberapa tahun lalu, harga Bitcoin kini tidak lagi mudah terdorong naik hanya karena tambahan likuiditas dalam jumlah terbatas.

Perusahaan riset tersebut juga menilai peluang memperoleh keuntungan besar dari gelombang spekulasi investor ritel mulai berkurang. Pada fase berikutnya, pertumbuhan harga Bitcoin diperkirakan akan lebih banyak ditopang oleh investor dengan kapasitas modal yang jauh lebih besar.

Chief Executive Officer (CEO) CryptoQuant, Ki Young Ju, mengatakan Bitcoin perlu bertransformasi dari aset yang didorong investor ritel dan perdagangan ETF spot menjadi aset makro utama yang dimiliki institusi keuangan berskala besar.

"Lonjakan besar berikutnya hanya mungkin terjadi jika adopsi investor institusi dalam skala besar mampu menyerap lebih dari US$ 1 triliun modal baru," kata dia, mengutip CoinMarketCap.

Namun, Ki menilai kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya mendukung masuknya dana sebesar itu.

Ia menyoroti arus keluar bersih dari ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir, serta kinerja harga Bitcoin yang cenderung melemah sepanjang paruh pertama tahun ini. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan minat investor institusi masih relatif terbatas.

CryptoQuant menilai perubahan dinamika pasar ini menjadi sinyal penting bagi pelaku investasi. Jika sebelumnya Bitcoin mampu menghasilkan lonjakan harga signifikan dengan tambahan modal yang relatif kecil, pola tersebut kini mulai berubah.

Reli harga pada periode berikutnya diperkirakan berlangsung lebih bertahap dan akan sangat bergantung pada keputusan investasi dari dana pensiun, sovereign wealth fund, hingga perusahaan-perusahaan besar yang mulai mengalokasikan dana ke Bitcoin, bukan lagi semata ditopang oleh investor ritel.

Bagi investor individu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap kenaikan harga yang sangat cepat perlu disesuaikan dengan karakter pasar Bitcoin yang semakin matang.

CryptoQuant menyimpulkan bahwa menurunnya efisiensi modal merupakan konsekuensi alami dari berkembangnya pasar Bitcoin. Meski demikian, situasi tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena tanpa arus modal yang besar dan berkelanjutan dari investor institusi, peluang terjadinya reli besar diperkirakan masih terbatas.

Dalam waktu mendatang, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan Bitcoin menarik dana dari investor berskala besar. Masuknya modal institusional dinilai akan menjadi faktor penentu apakah aset kripto terbesar di dunia itu mampu memasuki siklus kenaikan harga berikutnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More