Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Risiko Pasar Turun ke Frontier Belum Hilang, Bisa Ada Outflow Rp80 T
Ilustrasi MSCI (Dok MSCI)
  • Risiko Indonesia turun dari emerging ke frontier market masih ada hingga November 2026, dengan potensi outflow asing mencapai Rp80 triliun jika penurunan status benar terjadi.
  • MSCI menuntut konsistensi reformasi pasar modal seperti peningkatan free float emiten dan transparansi kepemilikan saham agar Indonesia tetap bertahan di kategori emerging market.
  • Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,8% pada 2026 akibat kebijakan moneter global yang ketat, namun peluang investasi tetap terbuka lewat saham unggulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Risiko reklasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging ke frontier market masih belum sepenuhnya hilang. Meski demikian, otoritas dan pelaku pasar modal masih memiliki kesempatan untuk berbenah hingga November 2026.

Berdasarkan data terbaru dari MSCI, dana investor yang dikelola dalam kategori emerging market berjumlah sekitar US$1,8 triliun. Sementara di frontier market, dana kelolaannya hanya sekitar US$15 miliar.

"Ini perbandingannya 1:120. Makanya ini menjadi kekhawatiran, karena jika katakanlah kita pindah ke frontier, maka kita berpindah dari kolam yang besar ke kolam yang kecil," kata Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin kepada pers dalam Media Day Mirae Asset Juli, Selasa (21/7).

Ia mengatakan, apabila hal tersebut terjadi, bobot saham Indonesia di kategori itu mungkin akan lebih besar dibandingkan saat berstatus emerging market. Itu karena saham-saham Indonesia akan dibandingkan dengan milik negara-negara yang lebih kecil.

Secara historis, bobot saham Indonesia di indeks MSCI pernah mencapai 3,2 persen pada Juni 2012. Namun terus menyusut seiring berjalannya waktu. Pada Desember 2025, besarannya sudah berkurang menjadi 1,2 persen. Bahkan telah mencapai 0,4 persen per Juni 2026.

Selain itu, dalam skenario pasar Indonesia turun kelas, maka aliran dana asing yang keluar (outflow) akan berlanjut, dengan mempertimbangkan perbandingan dan potensi dana masuk dari kategori frontier. "Kami memperkirakan, dalam skenario terburuk [jika pasar Indonesia turun ke frontier market], maka ada sekitar Rp80 triliun dana asing yang mungkin keluar," kata Wilbert.

Apabila itu benar-benar terjadi, maka itu akan memberatkan pasar. Sebab, secara year to date, outflow dari pasar Indonesia telah mencapai sekitar Rp90 triliun.

Dalam pengumuman pada akhir Juni, MSCI memang masih mempertahankan Indonesia di emerging market. Namun dengan syarat menjaga konsistensi perbaikan reformasi pasar modal yang mulai digenjot sejak akhir Januari 2026. Beberapa langkahnya, yakni: perubahan kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia; keterbukaan informasi kepemilikan saham lebih detail, termasuk 1 persen; daftar saham terkonsentrasi (high shareholding concentration); kenaikan batas minimal free float emiten secara bertahap menjadi 15 persen.

"Yang mereka perhatikan adalah konsistensinya. Mereka tidak mau hanya melihat data perubahan sekejap dan langsung memberi kelonggaran. Mereka masih memantau perkembangan kita sampai November. Jika tidak ada perbaikan atau konsistensi tidak terjadi, maka masih ada risiko kita ke frontier," ujar Wilbert.

Faktor fundamental ekonomi dan prospek emiten

Selain sentimen MSCI, pada semester-II ini, apa lagi yang akan mempengaruhi kondisi pasar? Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar saham Indonesia.

Namun, setelah fase technical rebound, perhatian investor akan semakin tertuju pada kualitas fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.

Di sisi lain, tantangan utama pasar pada semester II-2026 masih berasal dari kebijakan moneter global. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026 sehingga kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) diperkirakan masih berlanjut.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," kata Rully.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027, dari proyeksi sebelumnya masing-masing 5,0 persen dan 5,1 persen. Itu karena melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang kurang kondusif, serta kebijakan moneter global yang masih ketat. Inflasi diperkirakan mencapai 4,0 persen pada 2026 sebelum kembali ke kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5 persen–3,5 persen pada 2027.

Meski demikian, Rully menilai peluang investasi tetap terbuka. Stabilitas nilai tukar rupiah, musim laporan keuangan emiten kuartal II, serta kepastian arah kebijakan dinilai dapat menopang pemulihan pasar secara bertahap pada semester kedua tahun ini.

Beberapa saham pilihan Mirae pada semester-II 2026 adalah BBCA, BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP.

Curated For You

Editorial Team

Related Article