Comscore Tracker
MARKET

Daftar 6 Emiten Baru Melantai Bursa, Blibli dan RS Sandiaga Uno

Saham Blibli menguat pada perdagangan hari pertama.

Daftar 6 Emiten Baru Melantai Bursa, Blibli dan RS Sandiaga UnoTampilan aplikasi Blibli. (Shutterstock/Devina Saputri)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/11). Sahamnya menguat 0,44 persen ke harga Rp452 di sesi perdagangan pagi, lalu naik 1,33 persen siang ini.

Melansir RTI Business pada pukul 13.33 WIB, volume perdagangan saham Blibli mencapai 604,81 juta dengan nilai transaksi Rp276,23 miliar dan frekuensi perdagangan 27.618 kali. Rata-rata harganya mencapai RP456,70.

Blibli melepas 15 persen modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum saham perdana dengan harga penawaran Rp450 per saham. Dana IPO-nya mencapai Rp8 triliun. Adapun, perseroan pun mencatatkan kelebihan permintaan 4,4 kali lipat pada Penjatahan Terpusat, sehingga ada kenaikan jumlah alokasi dari 2,5 persen jadi 5,0 persen.

Sepanjang 2022, Blibli jadi unicorn internet kedua terbesar yang melakukan IPO di Asia Pasifik. Jumlah kapitalisasi pasarnya mencapai Rp53,3 triliun.

Selain Blibli, lima emiten lain termasuk perusahaan rumah sakit yang masuk dalam portofolio Grup Saratoga milik Sandiaga Uno, melakukan aksi serupa. Emiten tersebut adalah PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) atau Primaya Hospital, PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED). 

Berikutnya PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK), PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), dan PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR).

IPO Primaya Hospital yang terafiliasi dengan Sandiaga Uno

Primaya Hospital menawarkan saham sebanyak 302,22 juta saham biasa dengan harga penawaran Rp900 per lembar. Itu mewakili 2,28 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

Adapun, total nilai penawaran umum perdana Primaya Hospital diklaim mencapai Rp272 miliar. Setengah dari dana IPO akan dipakai sebagai tambahan perolehan tanah untuk membangun rumah sakit di kota-kota besar di Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Sementara 25 persen lainnya untuk biaya pengembangan gedung serta layanan rumah sakit yang ada, sedangkan sisanya untuk tambahan pembiayaan pembangunan gedung rumah sakit baru.

Saat ini, Primaya Hospital memiliki 15 rumah sakit dengan lebih dari 2.000 tempat tidur. 9 di antaranya resmi beroperasi dalam tiga tahun terakhir.

IPO Jayamas Medica Industri

Jayamas Medica Industri atau OMED melepas 4,06 miliar saham atau 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawarannya Rp204 per lembar saham. Dus, dana yang didapat perseroan dari IPO ini nilainya mencapai Rp828,01 miliar.

OneMed bakal menjajaki potensi merger dan akuisisi di industri peralatan medis Indonesia yang terfragmentasi, serta memindai kemitraan strategis dan menjalin kerja sama dengan pelaku industri peralatan dan pasokan medis global.

“Tentu strategi itu pun mempertimbangkan sejumlah kriteria, seperti teknologi yang digunakan, paten dan tingkat keahlian, kemitraan dan aliansi serta peluang akuisisi,” kata Direktur Operasi OneMed, Leonard Hartanto.

IPO Wulandari Bangun Laksana

Wulandari Bangun Laksana atau BSBK menjual 2,75 miliar saham dengan harga penawaran Rp100 per lembar. Terjadi kelebihan permintaan sebanyak 25,37 kali dari nilai penjatahan terpusat.

Perseroan pun bakal mengonversi utang kepada kreditur senilai Rp234,17 miliar dengan harga konversi serupa. Dus, kreditur akan memperoleh saham baru sejumlah 2,34 miliar.

Ada pula penerbitan Waran Seri I sebagai insentif. Tiap 100 investor saham baru berhak atas 137 waran, yang berjangka waktu setahun sejak pencatatan. Harga pelaksanaan waran mencapai Rp125 per lembar.

Dari total dana OPO BSBK senilai Rp275 miliar–setelah dikurangi biaya emisi–Rp100 miliar akan digunakan untuk membeli tanah 1,2 hektare di Kota Balikpapan dan sekitarnya. Aksi ini akan menambah jumlah land bank perseroan dan mendukung rencana ekspansi di masa mendatang sekaligus menangkap peluang bisnis dari pengembangan ibu kota negara (IKN). Sementara sisanya untuk operasional dan modal kerja.

IPO Citra Borneo Utama

Citra Borneo Utama (CBUT) melepas 625 juta saham atau 20 persen, dengan harga penawaran Rp690 per lembar. Total dana IPO yang didapat sebesar Rp431 miliar, 54 persen diantaranya akan dipakai untuk ekspansi, berupa membangun refinery extension dan infrastrukturnya, sedangkan sisanya untuk meningkatkan modal kerja.

Dana itu termasuk untuk pembelian bahan baku, yakni CPO dan Palm Kernel guna meningkatkan utilisasi produksi pabrik kernel crushing dan refinery. Hingga tahun lalu, kapasitas refinery perseroan mencapai 2.500 ton per hari dengan total produksi 586.000 MT.

IPO Menthobi Karyatama Raya

Terakhir ada Menthobi Karyatama Raya (MKTR) yang mendulang Rp300 miliar dana IPO berkat menjual 2,5 miliar saham atau 20,83 persen di harga Rp120 per lembar. Pemesanan saham IPO di periode penawaran umum berjumlah Rp1,2 triliun atau oversubscribed 31 kali.

MKTR juga merilis Waran Seri I sebanyak 2,5 miliar secara cuma-cuma. Itu bisa dilaksanakan menjadi saham MKTR di harga pelaksanaan Rp150 per lembar.

Menurut Direktur Utama MKTR, Harry M. Nadir, perseroan telah menyiapkan taktik terintegrasi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Pengembangan bisnis yang terukur, prudent, disiplin dalam eksekusi atas semua strategi kami, MKTR menyiapkan diri untuk menjadi perusahaan investasi bidang komoditi terdepan dengan konsep yang ramah lingkungan dan berkesinambungan,” ujarnya.

Related Articles