Comscore Tracker
NEWS

Kunjungan Wisatawan Asing pada Maret 2022 Naik 206,25% Dibanding 2021

Pintu masuk mulai dibuka bagi wisatawan asing.

Kunjungan Wisatawan Asing pada Maret 2022 Naik 206,25% Dibanding 2021Kepala BPS, Margo Yuwono. (dok. Badan Pusat Statistik)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia melalui pintu masuk utama pada Maret 2022 mencapai 40.790 kunjungan. Seiring dibukanya akses perjalanan internasional, angka itu naik hingga 206,25 persen dari periode yang sama di tahun 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pencapaian kunjungan ini terdiri dari wisman yang berkunjung menggunakan angkutan udara sebanyak 39.060 kunjungan, moda angkutan laut sejumlah 1.409 kunjungan, dan dengan angkutan darat sebesar 319 kunjungan. “Jumlah kunjungan wisman pada Maret 2022 naik sangat impresif jika dibandingkan Maret 2021,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Senin (9/5).

Ia juga menyampaikan, bila dibandingkan Februari 2022, kenaikan ini mencapai 121,02 persen. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk memulihkan ekonomi nasional dengan membuka kembali pintu masuk bagi para wisatawan asing kian membuahkan hasil, setelah dampak pandemi Covid-19 menjangkit hampir di semua lini.

Peningkatan kunjungan wisman pada Januari-Maret 2022

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Margo Yuwono juga menyampaikan kunjungan wisman secara kumulatif, dari Januari hingga Maret 2022 yang mencapai 74.383 kunjungan. Secara tahunan, jumlah ini meningkat sebesar 228,24 persen dari periode yang sama di tahun 2021.

Margo mengatakan bahwa kunjungan wisman di periode Januari hingga Maret ini memang mengalami peningkatan tajam dibandingkan tahun 2021. Namun, bila menengok kembali ke tahun-tahun sebelumnya yang menyentuh angka hampir 3 juta kunjungan, maka pencapaian ini masih jauh lebih rendah.

“Ini jadi tantangan kita semua, karena kunjungan wisman itu memberi efek berganda yang besar. Kalau pariwisata pulih, itu akan mempercepat pemulihan ekonomi yang ada di Indonesia,” ujar Margo Yuwono dalam paparannya.

Peningkatan yang terjadi di tiap Bandara

Bila diuraikan berdasarkan Bandara yang menjadi pintu masuk utama moda angkutan udara para wisman, peningkatan signifikan terjadi di Bandara Ngurah Rai, Bali, yakni sebesar 487.133,33 persen atau dari 3 menjadi 14.617 kunjungan.

Sementara, Bandara Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengalami peningkatan sebesar 500 persen. Sedangkan, Bandara Soekarno Hatta mencatat kenaikan hingga 128,90 persen. Ada pun kunjungan wisman yang melalui Bandara Juanda, Jawa Timur, adalah kenaikan yang terendah dengan 9,62 persen.

Meski demikian, terdapat beberapa Bandara lain yang justru mengalami penurunan, seperti Bandara Ahmad Yani, Jawa Tengah, dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau, yang menurun hingga 100 persen. Kemudian, Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, dan Bandara Sam Ratulangi, Sulawesi Utara, mengalami penurunan kunjungan wisman masing-masing sejumlah 75,56 persen dan 58,42 persen.

Lima pilar pariwisata berkelanjutan

Pada kesempatan berbeda, Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 menunjukkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang dikelola mulai jangka menengah hingga jangka panjang.

Untuk itu, ucap Frans, melalui Presidensi Indonesia di forum G20, khususnya dalam kelompok kerja pariwisata, akan difokuskan lima pilar aksi utama, “untuk memastikan SDM pariwisata teredukasi secara optimal, keterampilan meningkat seiring dengan arus digitalisasi yang semakin maju, dan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek pariwisata berkelanjutan” ujar Frans di laman Kemenparekraf, Senin (9/5).

Pertama, adalah human capital yang berkaitan dengan pekerjaan, skills, enterpreneurship, dan edukasi. Kemudian, inovasi, digitalisasi, dan ekonomi kreatif. Ketiga, adalah pemberdayaan perempuan dan generasi muda.

Selain itu, climate action, biodiversity conservations, dan circular economy juga jadi perhatian utama. Ada pun yang terakhir atau pilar kelima adalah kerangka kebijakan, tata kelola, dan investasi, dengan fokus membuat kebijakan dan langkah-langkah pariwisata yang lebih holistik guna mendukung empat pilar sebelumnya.

Related Articles