Comscore Tracker
NEWS

6 Peradaban Dunia yang Hancur Karena Perubahan Iklim

Di antaranya adalah Angkor dan Maya.

6 Peradaban Dunia yang Hancur Karena Perubahan IklimIlustrasi kekeringan. Shutterstock/Iamadventure

by Bonardo Wahono

Jakarta, FORTUNE - Anda mungkin mendengar atau melihat berita. Dalam satu provinsi, ada dua bencana berseberangan: satu kekeringan, lainnya banjir bandang. Peristiwa itu tidak saja terjadi di ranah lokal. Berbagai negara di semua benua mengalaminya. Berita itu terus saja berdatangan. Kekeringan di Aceh, banjir di Aceh; kekeringan di Cina, banjir di Cina; kekeringan di Eropa, banjir di Eropa. Dan seterusnya. 

Iklim berubah, kata banyak peneliti. Tidak sedikit yang berpikir bagaimana dampaknya terhadap masa depan peradaban manusia. Perubahan iklim yang terhitung singkat memang bukan terjadi kali ini saja. Peradaban kuno pun mesti bergelut dengan dampak tak terperi perubahan iklim. 

Dalam banyak riset, terlihat bahwa ada peradaban dunia di masa lalu yang harus hancur karena tersambar efek perubahan iklim. Manusia berabad-abad lalu telah menghadapi rupa-rupa tekanan alam seperti kekeringan, banjir, dan bencana alam. Ada peradaban yang selamat, dan ada pula yang terlaknat. Dalam daftar berikut, ada beberapa peradaban yang dilumat dampak perubahan iklim.

1. Peradaban Pueblo Kuno

Ini salah satu peradaban terkenal yang dihancurkan oleh perubahan iklim.  Masyarakat Pueblo mendiami kawasan Dataran Tinggi Colorado--sekitar barat daya Amerika Serikat--pada periode 300 SM. Kebanyakan sukunya tinggal di dekat Chaco Canyon, Mesa Verde, dan Rio Grande. 

Untuk bertahan hidup, mereka bersandar pada hasil panen--terutama jagung. Irigasi mengandalkan sungai, dan juga tadah hujan. Lahan dibuka dengan cara membuka hutan.

Seiring waktu, mereka kena batu dari tindakannya sendiri. Karena pohon-pohon ditebangi, lahan pun menjadi kurang subur. Pada saat bersamaan, iklim berubah. Masa tanam menjadi lebih pendek dan curah hujan menyusut. Hasilnya, terlihat pada panenan yang tidak memuaskan. Permukiman Pueblo Kuno mulai menghilang kira-kira pada 1225 M. 
 

2. Peradaban Angkor

Skala kota ini teramat luas pada masa praindustri di Kamboja, dan dibangun pada 1100-1200 M. Ia merupakan kebanggaan Kekaisaran Khmer dan dikenal dengan sistem perairan dan kuil-kuilnya yang canggih. Karena terletak di pesisir, Angkor terbiasa dengan hujan monsun. Air dari hujan itu disimpan di jejaring waduknya yang luas. 

Perlahan, musim monsun mulai sulit diprediksi. Angkor pun harus menanggung monsun ekstrem yang disusul kekeringan dalam waktu lama atau monsun dengan kekuatan lemah. Pada 1300-1400 M, kota itu didera sejumlah monsun yang terhitung ganas. Akibatnya, banjir menaklukkan saluran air dan waduk, dan kekeringan mengganggu produksi pangan. Banyak peneliti yang percaya peradaban ini hancur karena krisis air dan pangan. 
 

3. Peradaban Skandinavia

Para imigran Skandinavia datang dari Eropa utara ke Greenland barat sekitar 900-1000 M. Kedatangan mereka berbarengan dengan Periode Hangat Abad Pertengahan pada 800-1200 M yang suhu udaranya tidak ideal untuk pertanian. Orang-orang Skandinavia itu lama berjaya mengolah lahan pertanian. Namun, pada 1300 M, Periode Es Kecil mulai dan temperatur turun. Laut membeku, musim tanam memendek, dan satwa liar hengkang dari wilayah itu untuk mencari daerah lebih hangat. 

Peradaban Skandinavia di Greenland tidak siap dengan cuaca dingin. Banyak peneliti percaya suhu dingin mengancam gaya hidup mereka yang terbentuk dari perburuan hewan, pertanian, dan perdagangan. Pada sekitar 1550 M, semua permukiman Skandinavia di sana ditinggalkan. 

4. Peradaban Rapa Nui

Masyarakat ini bermula pada sebuah pulau yang sekarang menjadi Chile pada 400-700 M. Selama berabad-abad hidup mereka disokong pertanian. Kemudian, banyak orang Eropa yang mendatangi kawasan itu sejak 1700-an. Penduduk lokal dihabisi secara besar-besaran, dan membuka jalan bagi kedatangan lebih banyak imigran. Populasi wilayah itu pernah mencapai 20.000 jiwa. 

Banyak periset yang berspekulasi bahwa Rapa Nui jatuh karena perubahan iklim dan kelebihan penduduk. Sekitar 1300 M, Periode Es Kecil menyebabkan kekeringan jangka panjang. Bersamaan dengan itu, tanah yang dulunya subur mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Panen berkurang, tapi permintaan akan pangan bertambah. Hasilnya, peradaban itu dihantam kekurangan pangan berkepanjangan dan runtuh sebelum 1800. 
 

5. Peradaban Maya

Peradaban Maya kolaps pada sekitar abad ke-8 atau ke-9. Didirikan pada 2600 SM di Semenanjung Yucatan, peradaban ini menonjol pada bidang seni, arsitektur, dan teksnya yang kompleks. Peradaban Maya adalah pusat kultural Mesoamerica hingga kejatuhannya. 

Hingga saat ini masih jadi pertanyaan kenapa orang-orang Maya meninggalkan piramida dan istananya. Banyak yang menuding penyebabnya adalah perubahan iklim, yakni kekeringan dahsyat pada 800-1000 M. Fosil-fosil ditilik untuk mencari bukti kekeringan parah pada periode tersebut. Pada 950 M, peradaban Maya telah sepenuhnya ditinggalkan. 
 

6. Peradaban Lembah Sungai Indus

Sekitar 3000 M, sebuah peradaban muncul di Lembah Sungai Indus di wilayah yang sekarang bernama Pakistan. Juga termasyhur sebagai Peradaban Harappa, masyarakatnya dikenal karena permukiman urban dan jejaring gudang airnya. Peradaban perkotaan nan padat itu sangat bergantung pada perdagangan dan pertanian. Setelah nyaris satu milenium, perubahan iklim mengancam dua andalan tersebut. 

Menurut para peneliti, kekeringan kemungkinan berperan dalam hancurnya masyarakat Harappa. Menurunnya curah hujan saat monsun berkorelasi dengan tergerusnya jumlah penduduk secara tajam sekitar 2000 M. Pada saat bersamaan, peradaban Asia lainnya mengalami tekanan yang bertaut dengan iklim dan merusak alur perdagangan. Setelah berjibaku dengan kondisi tersebut selama dua tahun, kebanyakan dari sisa penduduk Lembah Sungai Indus pindah ke timur. 
 

Related Articles