Jakarta, FORTUNE – Ada banyak cara mengenal sebuah kota. Bagi Febry Arnold, salah satunya adalah berlari melintasinya sejauh 42,195 kilometer. Sejak 2007, perempuan asal Jakarta yang kini menetap di San Francisco, Amerika Serikat, itu menjadikan maraton sebagai cara menjelajah.
Nomor peserta berganti, rute berubah, begitu pula kota dan negara yang menjadi latar perlombaan. Namun, selalu ada satu hal yang sama: garis finis yang menunggunya.
Hampir dua dekade kemudian, jumlahnya bukan lagi belasan. Setelah menyelesaikan Maybank Marathon 2026 di Bali United Training Center (BUTC), Kabupaten Gianyar, Bali (23/8), Febry mencatatkan maraton ke-86 dalam kiprah larinya.
Maybank Marathon tahun ini sekaligus menjadi kunjungan keduanya ke Bali untuk mengikuti ajang tersebut. Namun, yang dibawa pulang Febry bukan hanya tambahan satu angka dalam koleksi maratonnya. Di sepanjang lintasan, dia kembali menemukan alasan mengapa terus berlari. Ada orang-orang baru yang ditemui, suasana kota yang berbeda, serta kebiasaan masyarakat setempat yang tidak selalu ditemukan pada perlombaan lain.
Maraton, dengan demikian, berkembang menjadi lebih dari sekadar olahraga. Catatan waktu memang tetap ada, begitu pula jarak yang harus dituntaskan. Tetapi bagi Febry, pengalaman di antara titik start dan finish justru menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Kebiasaan itu juga tumbuh dari lingkaran pertemanannya. Banyak orang terdekat Febry merupakan pelari yang aktif mengikuti berbagai perlombaan. Ajakan untuk mendaftar lomba baru pun sering kali menjadi alasan sederhana untuk kembali mengambil sepatu lari.
"Saya bisa rajin ikut karena punya teman-teman yang penggila maraton. Seluruh teman saya kebanyakan pelari, jadi kalau diajak, saya OK saja untuk ikut," kata perempuan berusia 51 itu kepada Fortune Indonesia (23/8).
Febry belum membayangkan bahwa satu keputusan pada usia 31 akan membawanya begitu jauh.
Pada 2007, setelah menetap di San Francisco, dia mencoba mengikuti San Francisco Marathon. Saat itu, maraton masih menjadi pengalaman baru.
