Comscore Tracker
NEWS

Pemerintah Targetkan Sektor Pertanian Tumbuh 4 Persen pada 2022

Sektor pertanian berhasil tumbuh positif 1,8% pada 2021.

Pemerintah Targetkan Sektor Pertanian Tumbuh 4 Persen pada 2022Sawah dan Petani. (Pixabay)

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - Sektor pertanian, yang punya peran penting dalam ketahanan pangan, tahun lalu mampu tumbuh positif pada level 1,84 persen. Per Februari 2022, nilai tukar petani (NTP) mengalami kenaikan tinggi yakni 108,83, meningkat 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah terus melakukan penyederhanaan perizinan, pembentukan Badan Pangan Nasional, pembentukan Holding BUMN Pangan (ID FOOD), dan sinergi BUMN untuk mendistribusikan pangan dari daerah surplus ke daerah defisit, menguatkan kerja sama antar daerah dalam pemenuhan pangan, memperkuat cadangan pangan pemerintah, serta memfasilitasi pembiayaan sektor pangan melalui kredit usaha rakyat, lembaga pengelola dana bergulir, dan lainnya.

“Berbagai kebijakan dan program ketahanan pangan terus didorong pemerintah, sehingga sektor pertanian diharapkan bisa tumbuh antara 3,6 persen – 4 persen di tahun 2022,” kata Airlangga dalam keterangan resminya, Rabu (16/3).

Dorongan itu melalui korporasi petani dan nelayan, program food estate, klaster pertanian, dan urban farming. “Tentunya, yang penting juga mendorong supply chain dan sistem distribusi pangan. Untuk aspek konsumsi, dilakukan juga kebijakan seperti diversifikasi pangan untuk mengurangi food lost atau food waste,” ujarnya.

Dorongan bagi BUMN Pangan untuk fokus pada pengembangan

Airlangga berharap BUMN Pangan dapat terus melakukan transformasi bisnis dan berfokus kepada pengembangan skala dan rantai nilai sehingga komoditas inti utama seperti beras, jagung, gula, ikan, garam, unggas, dan sapi bisa tersedia.

Sejalan dengan momentum Presidensi G20 Indonesia, Airlangga menegaskan optimalisasi peran publik dan swasta di sektor pertanian perlu dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk mempersiapkan dukungan teknologi pangan dalam bentuk kantor perwakilam di negara-negara G20.

Menurutnya, perlu dilakukan pertukaran teknologi dalam sektor pertanian antar negara G20 dan kerja sama penelitian.

“Selain itu, kerja sama transaksi perdagangan juga dilakukan dengan mempermudah izin ekspor baik untuk UMKM maupun produk pertanian sebagai gateway dan kerja sama bilateral yang dapat memfasilitasi berbagai keringanan fiskal,” ujarnya.

Percepat adopsi teknologi

Akan hal adopsi teknologi, penggunaan teknologi digital yang tepat guna dapat membantu petani dalam meningkatkan daya saing, khususnya dalam rantai pasok global.

“Rendahnya produktivitas masih menjadi masalah dalam sektor pertanian Indonesia. Adopsi teknologi diharapkan dapat membuat pemanfaatan input pertanian menjadi lebih maksimal,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Azizah Fauzi, Rabu (16/3).

Berdasarkan penelitian CIPS, produktivitas padi, kedelai dan bawang merah cenderung landai dalam beberapa tahun terakhir dengan masing-masing di angka 5 ton per hektare; dan gabah kering giling, 1,5 ton per hektare. Hanya produktivitas jagung menunjukkan tren yang meningkat dengan capaian 5,5 ton pipilan kering per hektare pada 2019.

Penerapan Internet of Things (IoT) dalam pertanian, contohnya, mampu membantu petani mendeteksi kondisi tanah, cuaca, memantau hama dan lain sebagainya.

Sementara di hilir, kehadiran teknologi digital pertanian dapat membuka akses yang lebih besar untuk pada petani kepada pasar. Teknologi dapat menghubungkan petani langsung dengan konsumen, sehingga hal ini dapat mempersingkat rantai pasok. Kehadiran beberapa marketplace produk pertanian membantu menjalankan fungsi tersebut.

Kendala yang dihadapi petani

Menurut Azizah, belum semua petani memiliki akses terhadap teknologi digital pertanian. Salah satu tantangannya, infrastruktur pertanian yang mendukung belum memadai. Sudah begitu, pemahaman dan literasi digitalnya masih minim.

Selain itu, teknologi yang dimaksud juga biasanya relatif sulit dijangkau oleh petani. Harga yang relatif tinggi dan belum tentu sesuai dengan skala usaha petani akhirnya membuat mereka enggan mengadopsinya.

Menurut data BPS, generasi yang berusia di bawah 40 di sektor pertanian hanya 8 persen dari total jumlah petani di Indonesia. Mayoritas pekerja sektor pertanian domestik sudah berusia di atas 45.

Related Articles