Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Ekspor Manufaktur Tumbuh 12,48 Persen, Ekspor RI Capai US$26,61 Miliar

3 min read
Ekspor Manufaktur Tumbuh 12,48 Persen, Ekspor RI Capai US$26,61 Miliar
ilustrasi ekspor (unsplash.com/John Simmons)
  • Ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar, naik 6,72 persen secara tahunan, didorong pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 12,48 persen.
  • Sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor mencapai US$193,64 miliar dan surplus perdagangan US$7,25 miliar; besi baja, produk sawit, serta batu bara menopang ekspor nonmigas.
  • Kemendag mengoptimalkan perjanjian dagang dan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara untuk memperluas pasar, termasuk Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Industri manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor Indonesia pada Agustus 2026.

Kinerja ekspor industri pengolahan tumbuh 12,48 persen di tengah dinamika perekonomian global, mendorong nilai ekspor nasional mencapai US$26,61 miliar atau meningkat 6,72 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan capaian tersebut mencerminkan daya tahan fundamental perdagangan Indonesia. Pertumbuhan ekspor juga menunjukkan produk nasional masih memiliki daya saing dan diminati pasar internasional.

Berdasarkan komposisinya, ekspor nonmigas pada Agustus 2026 mencapai US$25,62 miliar. Dari jumlah tersebut, industri pengolahan tumbuh 12,48 persen, memperlihatkan peran sektor manufaktur dalam menjaga momentum ekspor nasional.

Tren tersebut juga terlihat secara kumulatif. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$193,64 miliar atau meningkat 4,74 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya.

Ekspor industri pengolahan mencapai US$159,55 miliar atau tumbuh 7,87 persen secara tahunan.

Peningkatan ekspor manufaktur mencerminkan pergeseran struktur ekonomi Indonesia menuju produk bernilai tambah.

“Hilirisasi ini terbukti menjadi katalis utama yang melipatgandakan nilai ekspor, memperkuat daya saing industri nasional, serta menciptakan dampak berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Budi dalam keterangannya dikutip Jumat (2/10)..

Penguatan ekspor tersebut turut menopang neraca perdagangan Indonesia.

Pada Agustus 2026, neraca perdagangan mengalami surplus US$3,55 miliar, dengan sektor nonmigas menyumbang surplus US$6,09 miliar. Sementara itu, sejumlah komoditas yang menopang ekspor nonmigas meliputi besi dan baja, minyak kelapa sawit beserta produk turunannya, serta batu bara.

Dari sisi pasar, Cina, Amerika Serikat (AS), dan India menjadi tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 membukukan surplus US$7,25 miliar, dengan surplus nonmigas US$28,54 miliar.

AS, India, dan Filipina menjadi negara penyumbang surplus nonmigas terbesar.

Menurut Budi, pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar sekaligus mengurangi hambatan perdagangan. Langkah tersebut dinilai penting demi menjaga keberlanjutan surplus perdagangan dan meningkatkan peluang eksportir nasional menembus pasar global.

“Surplus perdagangan yang terus terjaga menjadi modal penting bagi perekonomian nasional. Kementerian Perdagangan akan terus mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan capaian ekspor hingga Agustus 2026 menjadi momentum memperkuat ekosistem ekspor nasional dari hulu hingga hilir.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah diversifikasi pasar ke kawasan nontradisional, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.

Guna mendukung upaya tersebut, Kemendag mengoptimalkan peran 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara. Para perwakilan tersebut bertugas mengidentifikasi peluang pasar, mempertemukan eksportir dengan calon pembeli, serta mendampingi pemenuhan standar mutu hingga pengawalan kesepakatan dagang.

“Dengan langkah ini, kami optimistis kinerja ekspor nasional dapat terus tumbuh hingga akhir 2026,” ujarnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More