Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit Lagi di Juni 2026

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit Lagi di Juni 2026
Potret defisit neraca perdagangan Indonesia (YouTube/BPS Statistics)
Intinya Sih

  • BPS mencatat neraca perdagangan Juni 2026 defisit US$450,5 juta, lebih rendah dari defisit US$1,61 miliar pada Mei.

  • Defisit Juni terutama dipicu sektor migas sebesar US$3,49 miliar, sementara nonmigas surplus US$3,04 miliar.

  • China menjadi penyumbang defisit nonmigas terbesar semester I sebesar US$14,26 miliar, sedangkan surplus total terbesar berasal dari AS, India, dan Filipina.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE Neraca perdagangan Indonesia defisit lagi di Juni 2026. Kali ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit capai 450,5 juta dolar AS, lebih rendah dibandingkan 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.

"Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS. Defisit pada bulan Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit komoditas migas," ujar Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8).

Meski defisit selama dua bulan berturut-turut, neraca perdagangan sepanjang semester I-2026 masih surplus US$3,58 miliar. Surplus pada Januari hingga April menutup defisit pada Mei dan Juni.

Defisit dipicu perdagangan migas, nonmigas masih surplus

Data BPS menunjukkan defisit RI terjadi ketika nilai ekspor Juni mencapai 25,45 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 25,9 miliar dolar AS. Akibatnya, impor kembali melampaui ekspor.

BPS juga mencatat sumber utama defisit berasal dari perdagangan migas. Sepanjang Juni 2026, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar 3,49 miliar dolar AS, terutama berasal dari komoditas hasil minyak dan minyak mentah.

Di sisi lain, perdagangan nonmigas masih memberikan bantalan bagi kinerja perdagangan nasional. Neraca nonmigas pada Juni mencatat surplus sebesar 3,04 miliar dolar AS.

Menurut Ateng, surplus terutama ditopang komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sektor nonmigas membukukan surplus US$19,35 miliar. Setelah dikurangi defisit sektor migas sebesar US$15,77 miliar, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,58 miliar.

China masih jadi penyumbang defisit terbesar

Menurut BPS, China masih menjadi negara penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia sepanjang semester I-2026. Untuk perdagangan nonmigas, defisit dengan China mencapai 14,26 miliar dolar AS. Komoditas penyumbang defisit terbesar dari mesin dan peralatan mekanis (HS84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), serta plastik dan barang dari plastik (HS39).

Selain China, Indonesia juga mencatat defisit perdagangan nonmigas dengan Australia sebesar 3,97 miliar dolar AS. Terutama dipengaruhi impor serealia (HS10), logam mulia dan perhiasan (HS71), serta bahan bakar mineral (HS27).

Sementara itu, defisit perdagangan nonmigas dengan Prancis mencapai 1,49 miliar dolar AS. Hal tersebut didorong impor kendaraan udara dan bagiannya (HS88), mesin dan peralatan mekanis (HS84), serta instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis (HS90).

Surplus terbesar masih berasal dari AS

Indonesia tetap mencatat surplus perdagangan dengan beberapa mitra utama. Pada perdagangan nonmigas, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus terbesar sekitar 10,44 miliar dolar AS. Surplus berasal dari ekspor mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), pakaian rajut (HS61), dan alas kaki (HS64).

Posisi berikutnya ditempati India dengan surplus 6,73 miliar dolar AS, yang ditopang ekspor bahan bakar mineral (HS27), lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), serta besi dan baja (HS72).

Surplus perdagangan Indonesia dengan Filipina mencapai 4,02 miliar dolar AS, berasal dari ekspor kendaraan dan bagiannya (HS87), bahan bakar mineral (HS27), dan lemak serta minyak hewani atau nabati (HS15).

Jika memperhitungkan perdagangan migas dan nonmigas, tiga negara penyumbang surplus terbesar Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 adalah Amerika Serikat (8,55 miliar dolar AS), India (6,68 miliar dolar AS), dan Filipina (4,24 miliar dolar AS).

Hasil Juni lebih baik dari proyeksi pasar

Sebelum data resmi dirilis, sejumlah ekonom memperkirakan Indonesia masih akan mencatat defisit perdagangan pada Juni 2026, tapi dengan nilai yang lebih besar. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memproyeksikan defisit mencapai sekitar 1 miliar dolar AS.

Sementara itu, konsensus pasar memperkirakan defisit sebesar 790 juta dolar AS. Sedangkan, proyeksi Trading Economics berada di kisaran 600 juta dolar AS.

Realisasi BPS menunjukkan defisit Juni sebesar 450 juta dolar AS. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan berbagai proyeksi meski Indonesia melanjutkan defisit sejak Mei 2026.

FAQ seputar neraca perdagangan Indonesia

Berapa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026?

BPS mencatat defisit sebesar 450,5 juta dolar AS.

Apa penyebab utama defisit perdagangan Juni 2026?

Defisit terutama berasal dari neraca perdagangan migas yang mencapai 3,49 miliar dolar AS.

Apakah Indonesia masih surplus secara kumulatif pada 2026?

Ya, surplus Januari–Juni 2026 mencapai 3,58 miliar dolar AS.

Negara mana yang menjadi penyumbang defisit terbesar?

China menjadi penyumbang defisit perdagangan nonmigas terbesar hingga Juni 2026.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More