Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Gas Air Mata Terbuat dari Apa? Ini Kandungan dan Dampaknya

gas air mata
Ilustrasi gas air mata (pexels.com/Valentin Angel Fernandez)
Intinya sih...
  • Gas air mata terbuat dari senyawa kimia seperti Chlorobenzylidene malononitrile (CS), Chloroacetophenone (CN), Dibenzoxazepine (CR), dan Oleoresin Capsicum (OC).
  • Saat ditembakkan, partikel kimia dalam gas air mata menyebar ke udara dalam bentuk aerosol dan dapat menyebabkan reaksi tubuh seperti mata berair, pandangan kabur, dan kesulitan bernapas.
  • Dampak gas air mata bagi kesehatan termasuk luka bakar ringan hingga sedang pada kulit, kebutaan sementara, pendarahan pada jaringan mata atau hidung, kerusakan jaringan pada kontak jarak dekat, dan risiko kematian jika tidak segera mendapatkan udara segar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Gas air mata sering digunakan sebagai alat pengendalian massa dalam aksi demonstrasi. Alhasil, banyak orang yang penasaran sebenarnya gas air mata terbuat dari apa? Terlebih, tabung kecil yang ditembakkan oleh aparat ini memiliki sejumlah efek, seperti mata perih, sesak napas, hingga menimbulkan rasa terbakar pada kulit.

Meski namanya “gas”, nyatanya zat ini bukan berupa gas murni. Sebagian besar komponennya adalah serbuk kimiawi halus atau cairan yang diubah menjadi aerosol sehingga bisa menyebar di udara. Efeknya memang cepat dirasakan, tapi biasanya bersifat sementara, antara 5 hingga 30 menit, tergantung intensitas paparan.

Walau begitu, kandungan kimia di dalamnya tetap berbahaya bagi kesehatan, terutama bila seseorang memiliki penyakit bawaan seperti asma atau gangguan pernapasan. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan tentang komposisi, cara kerja, bahaya, hingga langkah perlindungan dari gas air mata.

Gas air mata terbuat dari apa?

Gas air mata terbuat dari sejumlah senyawa kimia yang bekerja sebagai agen iritan. Beberapa di antaranya yang paling umum digunakan adalah:

  • Chlorobenzylidene malononitrile (CS): jenis yang paling banyak dipakai di seluruh dunia, termasuk produksi PT Pindad di Indonesia. CS bekerja cepat menimbulkan iritasi, membuat mata sulit terbuka, dan menimbulkan rasa terbakar di saluran pernapasan.

  • Chloroacetophenone (CN): Dulu populer digunakan sebagai komponen utama semprotan pertahanan diri (Mace). Efeknya menimbulkan rasa perih pada mata hingga pandangan kabur.

  • Dibenzoxazepine (CR) dan Diphenylaminechlorarsine (DM): Digunakan lebih jarang, tetapi senyawa ini bisa menimbulkan efek iritasi yang lebih kuat.

  • Oleoresin Capsicum (OC): Lebih dikenal sebagai semprotan merica, berasal dari ekstrak cabai. Kandungan capsaicin di dalamnya memicu sensasi terbakar pada mata, kulit, dan saluran pernapasan.

  • Capsaicin sintetis (PAVA): Versi buatan dari senyawa cabai alami yang sering dipakai pada semprotan pertahanan modern.

Cara kerja gas air mata

Saat tabung gas air mata ditembakkan, partikel kimia di dalamnya menyebar ke udara dalam bentuk aerosol. Partikel halus ini akan masuk ke tubuh melalui mata, hidung, mulut, atau menempel di kulit.

Hanya dalam waktu sekitar 30 detik, reaksi tubuh mulai muncul, seperti:

  • Mata berair deras dan sulit dibuka.

  • Pandangan kabur atau kehilangan penglihatan sementara.

  • Hidung berair, bersin, dan tenggorokan terasa perih.

  • Batuk hebat, dada sesak, hingga kesulitan bernapas.

  • Rasa terbakar pada kulit yang terpapar.

Biasanya, gejala tersebut mereda setelah korban menjauh dari sumber paparan dan mendapatkan udara segar. Namun, pada orang dengan penyakit bawaan seperti asma, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Dampak gas air mata bagi kesehatan

Meskipun digolongkan sebagai senjata non-mematikan, efek gas air mata tidak bisa dianggap remeh. Sensasi terbakar yang ditimbulkan bisa 10 ribu kali lebih kuat daripada rasa pedas wasabi, terutama dari senyawa CS dan CR. Dampak yang mungkin terjadi antara lain:

  • Luka bakar ringan hingga sedang pada kulit.

  • Kebutaan sementara akibat iritasi mata.

  • Pendarahan pada jaringan mata atau hidung.

  • Kerusakan jaringan pada kontak jarak dekat.

  • Risiko kematian jika tidak segera mendapatkan udara segar. Hal tersebut penuh terjadi ketika kejadian Tragedi Stadion Kanjuruhan pada tahun 2022 silam di mana salah satu penyebabnya karena sejumlah aparat keamanan menggunaan gas air mata sehingga tidak adanya jalur evakuasi bagi penonton saat kerusuhan.

Cara melindungi diri dari gas air mata

Gas air mata bukanlah gas murni, melainkan campuran senyawa kimia yang disebarkan dalam bentuk aerosol. Zat seperti CS, CN, CR, hingga OC bekerja sebagai iritan yang menimbulkan rasa sakit luar biasa pada mata, kulit, dan saluran pernapasan. Meski efeknya biasanya sementara, paparan berlebihan tetap berisiko menimbulkan kerusakan serius.

Jika terjebak dalam situasi yang melibatkan gas air mata, ada beberapa cara untuk melindungi diri dan mengurangi efek paparan, di antaranya:

  • Menjauh dari sumber paparan dan segera mencari udara segar.

  • Menggunakan masker dan goggles agar hidung, mulut, dan mata lebih terlindungi.

  • Menghindari lensa kontak, karena partikel kimia bisa menempel dan merusak mata.

  • Memakai pakaian tertutup agar kulit tidak langsung terpapar.

  • Menghindari produk berbahan minyak, karena minyak bisa menyerap partikel gas dan memperburuk iritasi.

  • Jika sudah terpapar, lakukan langkah berikut:

  • Bilas mata dengan air mengalir atau air garam steril selama 10 menit.

  • Jangan menggosok mata meski terasa perih.

  • Lepas pakaian yang terkena paparan dan segera mandi dengan sabun serta air mengalir.

  • Cari bantuan medis bila mengalami sesak napas berat atau gejala tidak mereda.

Itulah beberapa informasi mengenai kandungan gas air mata dan dampaknya. Semoga kita dapat lebih waspada serta tahu langkah perlindungan yang tepat bila suatu saat berada di situasi yang melibatkan gas air mata.

FAQ seputar gas air mata

1. Apakah gas air mata berbahaya bagi semua orang?

Ya, gas air mata bisa menimbulkan iritasi pada siapa pun. Namun, orang dengan riwayat penyakit pernapasan lebih berisiko mengalami gejala berat.

2. Apakah gas air mata masih dipakai untuk militer?

Awalnya memang dikembangkan untuk kebutuhan militer, tetapi kini lebih banyak digunakan aparat sebagai alat pengendalian massa.

3. Bagaimana cara paling efektif mengurangi efek gas air mata?

Segera menjauh dari area paparan, bilas mata dengan air mengalir, lepas pakaian terkontaminasi, lalu mandi. Gunakan masker dan goggles bila memungkinkan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda DS
EditorYunisda DS
Follow Us