Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada September 2026 bertengger pada level 51,93. Meskipun masih berada dalam fase ekspansi, rekaman itu menunjukkan perlambatan 0,37 poin dibandingkan dengan Agustus 2026 yang mencapai 52,30 akibat tekanan rantai pasok yang dipicu oleh gejala iklim, super El Nino.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan perlambatan kinerja industri pengolahan nasional ini tidak terlepas dari perubahan cuaca ekstrem. Fenomena tersebut memberikan tekanan multidimensi pada rantai pasok, mulai dari keterbatasan pasokan bahan baku, energi, ketersediaan tenaga kerja, pengelolaan pergudangan, hingga kelancaran pengiriman barang.
“Menteri Perindustrian telah memerintahkan jajarannya agar memitigasi dampak El Nino pada industri, baik terhadap bahan baku, energi, pekerja, pergudangan atau pengiriman barang,” kata Febri dalam konferensi pers virtual, Rabu (30/9).
Dinamika tersebut tecermin pada variabel pembentuk IKI. Indeks pesanan baru pada September sebenarnya mengalami peningkatan 0,27 poin menjadi 53,40. Namun, indeks produksi justru merosot 1,32 poin ke level 53,78, sementara indeks persediaan tertekan di zona kontraksi sebesar 45,45 (turun 0,57 poin).
Kondisi ini disebabkan oleh lonjakan biaya logistik serta keputusan sebagian pelaku industri untuk menunda pengiriman barang dari gudang sembari mencermati pergerakan pasar domestik.
“Pesanan masih ekspansif dan bahkan mengalami peningkatan. Artinya, permintaan terhadap produk industri masih ada. Namun, pada saat yang sama pelaku industri melakukan penyesuaian terhadap produksi dan persediaannya,” ujar Febri.
Dampak El Nino juga memunculkan dinamika unik pada tingkat sektoral. Kenaikan suhu udara mendorong permintaan produk minuman sehingga meningkatkan utilisasi pabrik. Alhasil, industri minuman mencatatkan IKI tertinggi pada September bersama subsektor industri alat angkutan lainnya.
Di sisi lain, Kemenperin mulai menerima laporan terkait kendala pasokan air untuk proses manufaktur serta disrupsi pengiriman logistik via jalur sungai.
Secara keseluruhan, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 15 subsektor masih berada pada zona ekspansi dan menyumbang 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada kuartal II-2026.
Sementara itu, delapan subsektor sisanya mengalami kontraksi, yaitu industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki; kayu, barang dari kayu dan gabus; kertas dan barang dari kertas; pencetakan dan reproduksi media rekaman; karet, barang dari karet dan plastik; komputer, barang elektronik dan optik; peralatan listrik; serta mesin dan perlengkapan.
Berdasarkan orientasi pasar, industri berorientasi ekspor mencetak IKI sebesar 52,60 (turun 0,49 poin dari 53,09 pada Agustus).
IKI industri berorientasi domestik mencapai 50,94 (melambat 0,19 poin dari 51,13). Kendati sama-sama mengalami penurunan tipis, kedua kelompok industri tersebut dipastikan masih konsisten berada di fase ekspansi.