Comscore Tracker
NEWS

BI: Industri Manufaktur Menggeliat, Serapan Tenaga Kerja Meningkat

Industri beroleh tambahan jutaan tenaga kerja.

BI: Industri Manufaktur Menggeliat, Serapan Tenaga Kerja MeningkatSejumlah pekerja menata kain sarung di industri kain sarung Asaputex, Tegal, Jawa Tengah, Senin (27/12/2021). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/hp.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Industri manufaktur atau pengolahan Indonesia terus menunjukkan perbaikan pada akhir 2021. Roda aktivitas pabrik dalam negeri kembali berputar dan penyerapan tenaga kerjanya mulai meningkat.

Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), angka Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal keempat 2021 mencapai 50,17 persen, naik dari 48,75 persen pada kuartal sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada kuartal keempat 2020, angka PMI manufaktur Indonesia hanya 47,29 persen.

“Kinerja sektor Industri pengolahan triwulan empat 2021 terindikasi meningkat dan berada pada fase ekspansi,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan resmi, Jumat (14/1). Sebagai informasi, angka PMI di atas 50 persen mengindikasikan industri sedang ekspansif, dan sebaliknya di bawah 50 persen aktivitasnya sedang terbatas.

BI memperkirakan angka PMI manufaktur pada kuartal pertama tahun ini akan kembali meningkat menjadi 53,8. Jika prediksi bank sentral benar, maka ekspansi industri berlanjut.  Angka PMI tersebut juga melebihi posisi sebelum COVID-19 mewabah di Indonesia atau pada 2019.

Volume produksi meningkat, penyerapan tenaga kerja membaik

Menurut catatan BI, ada tiga faktor penting yang menyokong kinerja manufaktur pada kuartal keempat 2021, yakni volume pesanan, volume persediaan barang jadi, dan volume produksi. Ketiga faktor tersebut memiliki angka PMI di atas 50 persen atau dalam posisi ekspansif.

Indikator tersebut menyiratkan tingkat permintaan pada industri manufaktur yang positif. Dengan begitu, produksinya meningkat, dan suplai barang jadinya juga sedang baik.

Namun, bank sentral menemukan bahwa masih ada dua perkara yang belum ekspansif, yakni kecepatan penerimaan barang input dan penyerapan tenaga kerja. Meskipun kedua masalah itu sudah membaik dari sebelumnya

Faktor penerimaan barang input, misalnya, masih 46,24 persen, namun lebih baik dari 44,05 persen pada kuartal sebelumnya dan 42,27 persen secara tahunan. Sedangkan, penyerapan tenaga kerja juga sudah membaik menjadi 48,16 persen dibandingkan posisi kuartalan maupun setahunan.

Temuan BI itu boleh jadi menyiratkan perbaikan kondisi industri manufaktur soal kecepatan pengiriman bahan baku. Sedangkan, penyerapan tenaga kerja juga berangsur-angsur membaik.

Menperin: manufaktur bangkit, tambah jutaan tenaga kerja

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan seiring bangkitnya manufaktur, diperkirakan industri mampu menyerap jutaan tenaga kerja tahun lalu.

“Ada tambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang di tahun 2021, sehingga jumlah tenaga kerja di sektor industri saat ini meningkat menjadi 18,64 juta orang,” kata Agus dalam keterangannya, Rabu (12/1), seperti dikutip dari Antara. Menurutnya, pada sektor ketenagakerjaan, industri manufaktur mulai pulih dari dampak pandemi COVID-19.

Kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) mencapai 17,33 persen, kata Agus. Angka itu tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya.

Demi mendorong pertumbuhan industri, lanjut Agus, pemerintah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 dengan salah satu prioritasnya peningkatan SDM. Menurutnya, perbaikan SDM akan mampu mendorong tujuh sektor utama, yaitu makanan-minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, serta alat kesehatan.

“Ketujuh sektor ini memberikan kontribusi sebesar 70 persen dari total PDB manufaktur, 65 persen ekspor manufaktur, dan menyerap 60 persen pekerja industri,” ujarnya.

Related Articles