Comscore Tracker
NEWS

Ekonomi Indonesia Melambat, Prospek Pertumbuhan 2021 Lebih Rendah

Perekonomian diprediksi hanya tumbuh maksimal 4,5 persen.

Ekonomi Indonesia Melambat, Prospek Pertumbuhan 2021 Lebih RendahANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Perekonomian Indonesia hampir bisa dipastikan akan kembali tumbuh positif pada keseluruhan tahun ini. Namun, bisa jadi, capaiannya belum akan menyamai level rata-rata sebelum pandemi Covid-19. Perlambatan aktivitas akibat pengetatan pembatasan sosial pada kuartal ketiga 2021 disinyalir menjadi faktor utama penghambat prospek ekonomi 2021 untuk tumbuh lebih tinggi.

Bank Pembangunan Asia (ADB) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 3,5 persen dari 4,5 persen dalam proyeksi sebelumnya. Ramalan tersebut tercantum dalam Asian Development Outlook 2021 Update, September 2021.

ADB memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini akibat perlambatan terutama sejak kuartal ketiga 2020. Ekonomi melambat karena pemerintah harus memperketat kebijakan pembatasan sosial demi membendung kenaikan kasus Covid-19.

Berdasarkan catatan ADB, perlambatan tampak dari sejumlah indikator. Pertama, indeks Purchasing Managers’s Index (PMI Manufaktur) Indonesia yang jatuh pada Juli dan Agustus, yang masing-masing mencapai 40,1 dan 43,7. Padahal, angka PMI sempat ekspansif pada Mei dan Juni pada level 55,3 dan 53,5.

Indikator lain, lanjut ADB, yakni indeks keyakinan konsumen (IKK) Juli yang turun drastis menjadi 80,2. Sebagai perbandingan, IKK pada April mencapai 101,5, mengindikasikan masyarakat kembali optimistis setelah terakhir berada pada kondisi sebaliknya pada April 2020.

“Perekonomian Indonesia mengalami penurunan relatif ringan pada 2020 berkat kebijakan pemerintah yang berani dan tepat waktu untuk memberikan stimulus fiskal dan bantuan sosial kepada mereka yang rentan. Perekonomian terus pulih pada paruh pertama tahun 2021 karena kebijakan tersebut dan ekspor yang kuat,” kata Country Director ADB untuk Indonesia, Jiro Tominaga, Rabu (22/9).

Menurut Jiro, sektor perdagangan dan keuangan global akan menjadi tantangan bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Dia menyebut, penting bagi pemerintah Indonesia untuk untuk terus mengambil langkah-langkah kebijakan terutama demi mengatasi pandemi, mendukung pemulihan ekonomi, dan menerapkan reformasi domestik.

Dia menambahkan, inflasi tahun ini juga diperkirakan masih rendah pada level 1,7 persen, turun dari 2,4 persen dalam perkiraan sebelumnya. Tipisnya inflasi, menurutnya, akibat laju pemulihan ekonomi yang lebih lambat.

ADB bahkan juga memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 menjadi 4,8 persen. Padahal, perkiraan sebelumnya adalah 5,0 persen. “Risiko penurunan tetap ada termasuk potensi pandemi Covid-19 baru dan gangguan terhadap kegiatan ekonomi Indonesia dan luar negeri,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia saat pandemi pertama mewabah pada 2020 terkontraksi 2,07 persen. Sebelum krisis kesehatan merebak, ekonomi Indonesia pada 2019, 2018, dan 2017 berturut-turut tumbuh 5,02 persen, 5,17 persen, dan 5,07 persen.

OECD: Ekonomi Indonesia Lebih Rendah Dari G20

Sementara itu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga menyesuaikan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 ini menjadi 3,7 persen, lebih rendah dari perkiraan ADB. Proyeksi OECD saat ini juga lebih rendah dari Mei lalu, yakni 4,7 persen.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga lebih rendah dari sejumlah negara G20 seperti Brasil, Tiongkok, dan India. Akan tetapi, statistik Indonesia masih lebih baik dari negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Secara umum, OECD memperkirakan perekonomian global tahun ini bisa tumbuh 5,7 persen. Angka ini 0,1 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

“Pemulihan ekonomi global diproyeksikan akan terus berlanjut, namun tetap tidak merata. Tingkat vaksinasi berbeda di seluruh dunia serta skala dukungan kebijakan makroekonomi di tiap negara juga berbeda,” demikian OECD dalam Economic Outlook Interim Report Keeping the Recovery On The Track.

Menurut OECD, kehadiran varian baru Covid-19 Delta telah membuat banyak negara menerapkan kembali pembatasan sosial secara ketat. Pada saat sama, tingkat vaksinasi Covid-19 di beberapa negara juga masih rendah. Kondisi ini jelas berpengaruh pada upaya pemulihan ekonomi.

OECD memperkirakan, pertumbuhan ekonomi memang melambat pada pertengahan 2021. Tetapi, pemulihan lebih cepat akan terjadi pada 2022 secara global termasuk Indonesia. Lembaga ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 bisa mencapai 4,9 persen, turun dari prediksi sebelumnya 5,1 persen.

Proyeksi Pemerintah

Bank Indonesia sebelumnya juga memperkirakan perekonomian dalam negeri tahun ini dapat tumbuh pada kisaran 3,5 sampai 4,3 persen. Perkiraan bank sentral ini seiring upaya pelonggaran pembatasan pada periode Agustus hingga awal September 2021. Menurut BI, kinerja ekspor juga terus membaik sejalan dengan kenaikan permintaan dari negara mitra dagang utama.

“Ke depan, perbaikan ekonomi diperkirakan terus berlanjut sejalan dengan akselerasi vaksinasi, kinerja ekspor yang tetap kuat, pembukaan sektor-sektor prioritas yang semakin luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers.

Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat mengatakan, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini mampu mencapai batas atas 4,5 persen. Prediksi pemerintah ini lebih tinggi dari bank sentral.

“Kita akan mendekati outlook yang atas apabila pemulihannya bisa berjalan mulai bulan September hingga akhir tahun 2021 tanpa mengalami disruspsi kasus Covid-19 lagi,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (25/8), seperti dikutip dari Antara.

Dia mengatakan target tersebut dapat digapai jika masyarakat tetap waspada dengan protokol kesehatan serta kesiapan fasilitas kesehatan dan implementasi 3T (tracing, testing, dan, treatment). Di saat bersamaan, percepatan program vaksinasi massal juga mesti diperkuat.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, saat ini capaian vaksinasi Covid-19 satu dosis baru mencapai 82,73 juta orang atau 39,72 persen dari target 208,27 juta penduduk. Sedangkan, capaian vaksinasi virus corona dua dosis sebesar 47,78 juta orang, atau 22,46 persen dari target.

Related Articles