Jakarta, FORTUNE – Lembaga pemeringkat global, Moody's, resmi menyematkan rapor perdana kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Untuk pertama kalinya, DIM mengantongi peringkat emiten Baa2 dengan outlook (prospek) negatif. Peringkat ini dipatok untuk program surat utang jangka menengah (MTN) global serta obligasi tanpa jaminan perusahaan.
Analis Senior Moody's Ratings, Rachel Chua, menjelaskan keputusan ini mengekor peringkat kedaulatan (sovereign rating) pemerintah Indonesia. Saat ini, peringkat Indonesia berada pada level Baa2 negatif. Di sisi lain, posisi pemerintah sebagai pengendali penuh Danantara dinilai dapat mengurangi kredibilitas dari lembaga.
“Hubungan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikannya di dalam kerangka institusional Danantara serta ekspektasi kami akan adanya dukungan luar biasa dari pemerintah," ujar Rachel dalam laporan yang dikutip Kamis (4/6).
Moody's mengklasifikasikan DIM sebagai entitas yang terkait dengan pemerintah atau Government Related Issuer (GRI). Pendekatan yang digunakan adalah top-down.
Sebaliknya, Moody's tidak memberikan Baseline Credit Assessment (BCA) untuk DIM. Hal ini mencerminkan rekam jejak emiten yang masih seumur jagung. Selain itu, belum ada operasi mandiri yang signifikan dari perusahaan tersebut.
DIM lahir dari rahim Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025. Perusahaan menjadi bagian dari arsitektur kelembagaan Danantara. Regulasi tersebut menetapkan BPI Danantara sebagai entitas induk. Penggawa induk ini memikul tanggung jawab mengelola serta mengoptimalkan aset dan investasi BUMN.
“Oleh karena itu, peringkat ini utamanya didorong oleh keterkaitan kedaulatan alih-alih kekuatan kredit mandiri," ujar Rachel.
Kendati demikian, Moody's mencatat kondisi likuiditas DIM masih terhitung sehat dan stabil. Likuiditas holding mendapat pasokan ekuitas dari BPI Danantara.
Perusahaan juga giat membangun jalur pendanaan eksternal demi memperkuat diri. Berikut adalah perincian dana yang berhasil dihimpun oleh perusahaan:
Penerbitan Obligasi Patriot: mengantongi dana Rp68,4 triliun.
Fasilitas Kredit Bergulir: menyediakan pagu US$10 miliar, yang US$1 miliar di antaranya telah dikomitmenkan.
