Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Menkeu Sebut Obligasi SMI dan SMF Jadi Underlying Repo BI

2 min read
Menkeu Sebut Obligasi SMI dan SMF Jadi Underlying Repo BI
Obligasi
  • Obligasi PT SMI dan PT SMF telah diterima sebagai underlying repo dalam operasi moneter Bank Indonesia.

  • Perluasan underlying mencakup obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi untuk memperkuat operasi moneter pro-market.

  • Transaksi repo dan aktivitas pasar sekunder PT SMF meningkat setelah implementasi dilakukan secara bertahap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa dampak utama perluasan underlying operasi moneter?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bahwa obligasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) dan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF) atau lembaga spessial mission vehicle Kementerian Keuangan, telah diterima sebagai underlying repurchase agreement (repo) dalam operasi moneter Bank Indonesia.

Menurut Suahasil, hal ini akan berdampak positif ke perekonomian Indonesia.

“Ini akan menggulirkan perekonomian dan ini adalah fundamental yang baik bagi perekonomian kita ke depan,” kata Suahasil di Jakarta, Kamis (1/10).

Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan dalam Operasi Moneter (underlying) dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Perluasan ini merupakan salah satu upaya penguatan pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi moneter pro-marketyaitu operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).

Repo sendiri adalah suatu kesepakatan untuk menjaminkan asset yang dimiliki agar bisa mendapatkan pinjaman dana.

Dalam acara terpisah, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan bahwa perluasan underlying ini diharapkan dapat terus berkembang, mendorong transaksi pasar sekunder, memperkuat pembentukan harga, dan pada akhirnya mendukung pembiayaan bagi sektor riil, termasuk perumahan dan infrastruktur.

“Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," ujar Destry, Kamis (1/10).

Implementasi perluasan underlying operasi moneter telah dilakukan secara bertahap. Sejak diluncurkan pada 10 November 2025 hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlyingobligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF telah mencapai Rp1,25 triliun.

Perluasan underlying tersebut kemudian dilakukan dengan menambahkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, dengan lelang repo perdana pada 28 September 2026 sebesar Rp60 miliar.

Kebijakan ini juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas di pasar keuangan, tercermin dari peningkatan volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder dari rata-rata Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026.

Pada periode yang sama, kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18 persen, dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar yang perlu terus didorong untuk mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.

Perluasan underlying operasi moneter tersebut diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan, mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More