Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemerintah Gelar 12 Lelang SBN dan Tarik Pinjaman US$1,8 Miliar Hingga Akhir 2026
ilustrasi surat utang negara (unsplash.com/Tech Daily)
  • Pemerintah menyiapkan 12 lelang SBN reguler dan pinjaman US$1,8 miliar untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN kuartal IV 2026.

  • Lelang SBN terdiri dari enam SBN reguler dan enam sukuk, dengan tambahan penerbitan SBN ritel seri SBR015 dan ST017.

  • Pembiayaan utang hingga September 2026 tercatat Rp494,3 triliun, sementara defisit APBN mencapai Rp319 triliun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Per September 2026

Pembiayaan utang tercatat Rp494,3 triliun. Defisit APBN mencapai Rp319 triliun hingga September 2026.

Senin (12/10)

Suminto menyampaikan pemerintah masih membuka peluang penerbitan SBN valas dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan global.

kuartal IV 2026

Pemerintah menyiapkan 12 kali lelang SBN dan penarikan pinjaman sebesar US$1,8 miliar. Dana pinjaman disiapkan untuk dicairkan pada periode tersebut.

setiap Selasa sepanjang kuartal IV 2026

Lelang SBN dijadwalkan berlangsung setiap Selasa, terdiri dari enam lelang SBN reguler dan enam lelang sukuk atau SBN Syariah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah menyiapkan 12 kali lelang SBN reguler dan penarikan pinjaman sebesar US$1,8 miliar untuk pembiayaan APBN.
  • Who?
    Pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto.
  • Where?
    Pelaksanaan lelang SBN berlangsung di Indonesia; pernyataan Suminto disampaikan di Jakarta.
  • When?
    Rencana pembiayaan dilakukan pada kuartal IV 2026, dengan lelang berlangsung setiap Selasa.
  • Why?
    Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN dengan skenario defisit sebesar 2,85 persen terhadap PDB.
  • How?
    Melalui lelang SBN reguler, sukuk, penerbitan SBN ritel, kemungkinan SBN valas, serta pinjaman bilateral dan multilateral.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemerintah mau mencari uang untuk membayar kebutuhan negara pada akhir 2026. Caranya dengan melelang surat utang negara dan menarik pinjaman. Suminto dari Kementerian Keuangan menjelaskan rencananya. Pemerintah juga menyiapkan SBN ritel dan mungkin SBN valas. Sampai September, APBN masih mengalami defisit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemerintah telah menyiapkan beberapa jalur pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan APBN kuartal IV 2026. Persiapan dokumentasi hukum dan transaksi juga telah dilakukan. Selain lelang SBN, tersedia opsi SBN ritel, SBN valas, serta pinjaman bilateral dan multilateral sesuai kondisi pasar dan kebutuhan pembiayaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah akan melakukan 12 kali lelang Surat Berharga Negara (SBN) reguler dan menarik pinjaman senilai US$1,8 miliar untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal IV 2026.

Strategi pembiayaan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan anggaran dengan skenario defisit APBN sebesar 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto menyampaikan, lelang 12 SBN akan berlangsung setiap Selasa sepanjang kuartal IV 2026 yang terdiri dari lelang 6 SBN Reguler dan 6 lelang sukuk atau SBN Syariah. Pemerintah juga menjadwalkan dua penerbitan SBN ritel, yakni seri SBR015 dan seri ST017.

Pemerintah juga membuka peluang penerbitan SBN dalam valuta asing (valas), dengan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan global.

“Untuk penerbitan SBN valas, kami open minded dengan melihat kondisi pasar keuangan global yang saat ini memang sangat dinamis. Namun, ruang untuk penerbitan itu masih ada, subject to market condition,” ujar Suminto di Jakarta, dikutip Senin (12/10).

Dari sisi persiapan, Kemenkeu telah melakukan persiapan dari sisi dokumentasi hukum, dokumentasi transaksi yang diperlukan.

Selain melalui penerbitan surat utang, pemerintah memiliki potensi penarikan pinjaman bilateral dan multilateral sebesar US$1,8 miliar. Dana tersebut disiapkan untuk dicairkan pada kuartal IV 2026.

"Siap untuk didisburse atau ditarik di kuartal IV 2026," kata Suminto.

Per September 2026, pembiayaan utang tercatat Rp494,3 triliun, turun dari Rp502,9 triliun pada periode yang tahun lalu. Pembiayaan utang terdiri dari surat berharga negara (SBN) Rp497,5 triliun sementara pinjaman negatif Rp3,2 triliun.

Sebagai catatan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 mengalami defisit sebesar Rp319 triliun hingga September 2026. Angka tersebut setara 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pelebaran defisit terjadi akibat posisi belanja negara yang melampaui penerimaan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article