Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Apa Itu Super El Nino 2026? Ini Prediksi dan Dampaknya
ilustrasi musim kemarau (pexels.com/Tim Eiden)
  • NOAA memprediksi potensi terbentuknya Super El Nino pada 2026 yang dapat mengubah pola cuaca global.

  • Super El Nino ditandai kenaikan suhu laut Pasifik lebih dari 2°C, berpotensi menimbulkan kekeringan ekstrem, gagal panen, serta gangguan ketahanan pangan.

  • BMKG memperkuat langkah antisipasi melalui peningkatan akurasi prediksi iklim, diseminasi informasi publik, serta Operasi Modifikasi Cuaca.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Pusat Prediksi Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan Super El Nino 2026. Jika terbentuk, fenomena ini dapat memicu perubahan pola cuaca secara signifikan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Senada dengan itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan peluang berkembangnya El Nino di Indonesia mulai terlihat pada semester kedua 2026. Menurutnya, musim kemarau tahun depan diperkirakan akan lebih kering dan berlangsung lebih lama.

“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,” jelas Ardhasena.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berisiko mengganggu produktivitas pertanian hingga menekan ketahanan pangan jika langkah mitigasi tidak dilakukan sejak dini.

Apa itu Super El Nino 2026?

Super El Nino adalah fase El Nino yang berlangsung dengan intensitas sangat kuat. Fenomena ini umumnya ditandai oleh kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Meski sering digunakan dalam pemberitaan, Super El Nino bukan istilah resmi dalam meteorologi. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan peristiwa El Nino yang memicu dampak cuaca sangat luas dan signifikan di berbagai belahan dunia.

Peristiwa El Nino dengan kekuatan ekstrem tergolong jarang terjadi. Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena serupa tercatat pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016. Ketiga periode tersebut memicu kekeringan berkepanjangan hingga peningkatan suhu rata-rata dunia.

Saat ini, para ilmuwan iklim terus memantau perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik untuk melihat kemungkinan terbentuknya El Nino pada 2026. Berdasarkan proyeksi NOAA, peluang kemunculan El Nino diperkirakan meningkat sepanjang 2026 dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Namun, Paul Roundy selaku Profesor Universitas Albany mengingatkan kekuatan El Nino tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan. Dampak tersebut tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kondisi atmosfer dan pola iklim regional di masing-masing wilayah.

Perbedaan Super El Nino dan El Nino

Pada dasarnya, El Nino dan Super El Nino merupakan anomali iklim sama, yang menyebabkan kenaikan suhu perairan di Samudra Pasifik. Namun, keduanya tetap memiliki perbedaan, di antaranya:  

  1. Kenaikan suhu

El Nino memicu kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur sekitar 0,5 derajat Celcius hingga 1,9 derajat Celcius di atas rata-rata suhu normal. Sedangkan, kenaikan suhu Super El Nino dinilai dapat melonjak tinggi melebihi angka 2 derajat Celcius di atas rata-rata normal. 

  1. Intensitas

Fenomena El Nino umumnya berlangsung dalam durasi normal sekitar 9–12 bulan dan bisa terjadi setiap 2–7 tahun sekali. Sementara itu, Super El Nino sangat jarang terjadi, salah satunya pernah terjadi pada tahun 1997 dengan kenaikan suhu ekstrem.

  1. Dampak 

El Nino berpotensi menyebabkan curah hujan menurun dari biasanya dan dapat meningkatkan risiko kekeringan atau kebakaran hutan. Super El Nino dapat memicu dampak lebih besar, seperti bencana iklim berganda, kekeringan ekstrem, hingga kegagalan panen di berbagai belahan dunia.

Dampak Super El Nino terhadap ekonomi Indonesia

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) turut menyoroti potensi dampak Super El Nino 2026 terhadap ketahanan pangan nasional. Organisasi tersebut mengingatkan kekeringan berkepanjangan akibat fenomena iklim ekstrem dapat mengganggu produksi pangan dan memperbesar risiko krisis air bersih di berbagai daerah.

Selain memengaruhi produksi pangan dalam negeri, cuaca ekstrem juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas pangan impor. Karena itu, kombinasi antara perubahan iklim dan tantangan ekonomi global perlu diantisipasi melalui strategi ketahanan pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menurut WALHI, pengalaman peristiwa El Nino sebelumnya menunjukkan sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Curah hujan yang menurun drastis dapat menyebabkan gagal panen, berkurangnya pasokan pangan, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Sejumlah wilayah diperkirakan memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekeringan, terutama Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan beberapa daerah di Kalimantan. Kondisi ini berpotensi menekan produktivitas pertanian jika tidak diantisipasi sejak awal.

WALHI juga mengingatkan dampak El Nino ekstrem 1997–1998 yang menyebabkan produksi padi nasional turun sekitar 3,6 hingga 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan produksi tersebut turut memicu kenaikan harga pangan dan memperparah tekanan ekonomi yang saat itu sedang terjadi.

Upaya BMKG antisipasi Super El Nino 2026

Untuk menghadapi tantangan Super El Nino 2026, BMKG memperkuat antisipasi mulai dari peningkatan akurasi prediksi cuaca dan iklim, penguatan diseminasi informasi, serta optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan perkembangan iklim global saat ini menunjukkan peluang terbentuknya El Nino dan Indian Ocean Dipole fase positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan sektor pangan dan sumber daya air.

Menurutnya, BMKG terus berkomitmen mengembangkan layanan prediksi cuaca dan iklim presisi untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun sektor teknis. OMC juga disiapkan sebagai komponen penting mitigasi darurat penanggulangan dampak kemarau.

Lebih lanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Pembaruan mengenai perkembangan musim kemarau, potensi Super El Nino 2026, dan langkah-langkah mitigasi dapat diakses melalui situs web maupun kanal media sosial resmi BMKG.

FAQ seputar Super El Nino 2026

Apakah tahun 2026 akan ada kemarau panjang?

Ya, BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia akan datang lebih awal, terasa lebih kering, dan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya.

Akankah terjadi Super El Nino pada tahun 2026?

Tahun ini, peningkatan suhu laut di Pasifik menandakan 'El Niño Super' pada pertengahan hingga akhir tahun 2026.

Kapan Super El Nino 2026 terjadi di Indonesia?

Fenomena Super El Nino 2026 diprediksi terjadi Indonesia mulai pertengahan tahun, dengan intensitas kuat pada Juli hingga September 2026.

Editorial Team

Related Article