Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
81 Tahun KAI dan Transformasi Perjalanan dari Loket ke Digital
KAI terus mengembangkan layanan untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin terintegrasi. (dok. PT KAI)
  • KAI mentransformasi layanan tiket dari loket dan karcis fisik menuju reservasi digital, termasuk tiket berbasis identitas sejak 2012 untuk mengurangi praktik percaloan.

  • Access by KAI mengintegrasikan pembelian tiket, pemilihan kursi, jadwal, Trip Planner, dan enam layanan rel; hingga 30 Juni 2026 memiliki 30,45 juta pengguna terdaftar.

  • Digitalisasi berlanjut ke boarding: Face Recognition Boarding Gate sejak 2022 memungkinkan verifikasi wajah tanpa dokumen atau tiket fisik, digunakan 5,56 juta pelanggan pada Semester I 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KAI menjalankan transformasi layanan tiket dari loket dan karcis fisik menjadi pemesanan, informasi perjalanan, serta boarding digital melalui Access by KAI dan Face Recognition Boarding Gate.
  • Who?
    PT Kereta Api Indonesia (Persero), KAI Commuter, pelanggan kereta api, serta Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba terlibat dalam perkembangan layanan tersebut.
  • Where?
    Transformasi diterapkan dalam ekosistem KAI Group, termasuk layanan KA Jarak Jauh, KA Lokal, Commuter Line, LRT Jabodebek, KA Bandara, kereta cepat, dan sejumlah stasiun.
  • When?
    Pencantuman identitas pada tiket dimulai 9 Januari 2012, e-ticketing Commuter 1 Juli 2013, Face Recognition Boarding 28 September 2022; data penggunaan tercatat hingga 30 Juni dan Semester I 2026.
  • Why?
    Sistem tiket berbasis identitas diterapkan untuk mengurangi praktik percaloan. Digitalisasi dikembangkan agar pelanggan dapat mengakses kebutuhan perjalanan melalui layanan yang terintegrasi.
  • How?
    Pelanggan menggunakan Access by KAI untuk membeli tiket, memilih kursi, melihat jadwal, dan memakai Trip Planner. Pelanggan terdaftar dapat boarding melalui verifikasi wajah tanpa menunjukkan tiket fisik atau dokumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Sebuah perjalanan dengan kereta api dulu dimulai dari loket stasiun. Calon penumpang datang untuk mencari informasi perjalanan, melakukan pembayaran, lalu membawa pulang karcis fisik yang menjadi tanda untuk naik kereta. Selama puluhan tahun, lembaran tiket menjadi bagian dari pengalaman bepergian masyarakat Indonesia.

Namun, cara masyarakat membeli tiket dan memulai perjalanan berubah seiring berkembangnya teknologi. Bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, perubahan tersebut berlangsung bertahap, dari komputerisasi sistem reservasi hingga digitalisasi hampir seluruh proses perjalanan.

Transformasi itu kini terlihat dalam ekosistem layanan yang memungkinkan pelanggan membeli tiket, merencanakan perjalanan, hingga melakukan boarding melalui perangkat digital.

Salah satu perubahan penting dalam sistem ticketing KAI terjadi pada 9 Januari 2012, ketika perusahaan mulai mencantumkan nama dan nomor identitas pelanggan pada tiket Kereta Api Jarak Jauh dan Menengah.

Langkah tersebut membuat tiket perjalanan terhubung dengan identitas penumpang. Selain menjadi bagian dari pengembangan pelayanan, sistem ini diterapkan untuk mengurangi praktik percaloan tiket.

Pada periode yang sama, pemesanan melalui kanal elektronik mulai berkembang. Pelanggan secara bertahap tidak lagi harus datang ke stasiun untuk mendapatkan tiket, seiring diperkenalkannya layanan pemesanan online dan boarding pass elektronik.

Transformasi serupa terjadi pada layanan kereta komuter. Pada 1 Juli 2013, KAI Commuter menerapkan sistem e-ticketing yang menggantikan tiket kertas dengan Kartu Single Trip (KST) dan Kartu Multi Trip (KMT).

Setahun kemudian, KAI menghadirkan KAI Access. Kehadiran aplikasi tersebut membawa proses reservasi dari loket stasiun ke perangkat yang digunakan pelanggan sehari-hari.

Perubahan ini menjadi salah satu tahap awal pergeseran pengalaman pelanggan KAI dari layanan berbasis lokasi menuju layanan yang dapat diakses secara digital.

Perjalanan digitalisasi kemudian berkembang dari sekadar menjual tiket menjadi mengintegrasikan berbagai kebutuhan perjalanan dalam satu platform.

Melalui Access by KAI, pelanggan kini dapat membeli tiket, memilih tempat duduk, melihat jadwal, memperoleh informasi perjalanan, menggunakan Trip Planner, hingga mengakses berbagai layanan pendukung. Platform tersebut juga menghubungkan enam layanan transportasi berbasis rel dalam ekosistem KAI Group, mulai dari KA Jarak Jauh, KA Lokal, Commuter Line, LRT Jabodebek, KA Bandara, hingga kereta cepat.

Skala penggunaannya menunjukkan perubahan tersebut sudah menjadi bagian dari perilaku pelanggan. Hingga 30 Juni 2026, Access by KAI memiliki 30,45 juta pengguna terdaftar dengan total unduhan 41,01 juta kali.

Sepanjang Januari-Juni 2026, aplikasi tersebut mencatat 17,01 juta transaksi tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal. Angka itu setara dengan 76,34 persen dari total transaksi melalui seluruh kanal penjualan kedua layanan tersebut. Dari sisi volume, sebanyak 24,54 juta tiket dibeli melalui Access by KAI atau 73,68 persen dari total penjualan.

“Perjalanan tiket kereta api menjadi bagian dari cerita panjang transformasi KAI. Dari pelayanan melalui loket stasiun, tiket berbasis identitas, hingga layanan digital dalam satu aplikasi, setiap tahap menunjukkan bagaimana KAI terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelanggan,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.

Dari Digital Ticketing Menuju Digital Boarding

Stasiun Lempuyangan. (Dok. KAI)

Digitalisasi KAI tidak berhenti pada proses pembelian tiket. Tahap berikutnya menyentuh momen ketika pelanggan memasuki stasiun dan bersiap melakukan perjalanan.

KAI mulai menerapkan Face Recognition Boarding Gate pada 28 September 2022. Teknologi ini memungkinkan pelanggan yang telah melakukan registrasi melakukan proses boarding melalui verifikasi wajah, sehingga tidak perlu lagi menunjukkan dokumen atau tiket fisik pada proses tersebut.

Penggunaannya terus berkembang di berbagai stasiun layanan Kereta Api Jarak Jauh. Pada Semester I 2026, Face Recognition Boarding telah digunakan oleh 5,56 juta pelanggan.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana digitalisasi ticketing pada akhirnya berkembang menjadi transformasi menyeluruh terhadap customer journey. Tiket tidak lagi berhenti sebagai bukti pembayaran perjalanan, melainkan menjadi bagian dari ekosistem digital yang menghubungkan proses perencanaan, pembelian, informasi perjalanan, hingga boarding.

“Kereta api tumbuh bersama perubahan zaman. Tiket yang dahulu menjadi lembar perjalanan fisik kini berkembang menjadi layanan digital yang membantu pelanggan merencanakan perjalanan secara lebih mudah,” kata Anne.

Memasuki usia ke-81 tahun, perjalanan KAI dalam mengembangkan sistem ticketing mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam industri transportasi: teknologi secara bertahap memindahkan titik interaksi pelanggan dari loket dan lembar tiket ke platform digital yang terintegrasi.

Bagi KAI, evolusi tersebut masih berlanjut seiring perubahan ekspektasi pelanggan terhadap pengalaman perjalanan. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article