Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CYBR Ungkap Pola Ransomware dalam Jaringan Bisnis
Ilustrasi virus ransomware (unsplash.com/Glen Carrie)
  • CYBR menemukan serangan ransomware dapat berkembang sebelum file terenkripsi, melalui akses jarak jauh, pengumpulan kredensial, pemetaan jaringan, dan pergerakan lateral.

  • Analisis GodDamn ransomware mengidentifikasi sinyal awal, termasuk eksekusi mencurigakan, perubahan Registry, SMB probing, dan modifikasi file dalam jumlah besar.

  • ITSEC Asia menekankan deteksi dini pada identitas, endpoint, dan jaringan, serta perlindungan terhadap infrastruktur backup dan recovery.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 Agustus 2026

Periode penelitian whitepaper From Sample to Signal: Uncovering the GodDamn Ransomware Operation berlangsung hingga tanggal ini.

kini

Serangan ransomware tidak lagi hanya dilihat dari tahap ketika file mulai terenkripsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    CYBR menyoroti jejak potensi serangan ransomware yang berlangsung bertahap sebelum file terenkripsi.
  • Who?
    PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher, dan tim Threat Intelligence perusahaan.
  • Where?
    Pada jaringan bisnis dan lingkungan Windows maupun Linux.
  • When?
    Whitepaper disusun berdasarkan periode penelitian hingga 10 Agustus 2026.
  • Why?
    Aktivitas sebelum enkripsi dapat membuka jalan bagi gangguan operasional dan penyebaran ke perangkat lain dalam jaringan.
  • How?
    Aktivitas berlangsung melalui akses jarak jauh, pengumpulan kredensial, pemetaan jaringan, pergerakan lateral, serta proses enkripsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

CYBR melihat ransomware tidak langsung mengunci file. Penyerang bisa lebih dulu masuk, mengambil kredensial, melihat jaringan, dan berpindah ke komputer lain. Dalam satu insiden, 10 host terdampak. ITSEC Asia menemukan tanda-tanda seperti perubahan file dan aktivitas mencurigakan. Perusahaan diminta lebih cepat mendeteksi agar sistem penting bisa dilindungi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Riset CYBR membantu memperluas pemahaman bahwa ransomware dapat dikenali melalui rangkaian aktivitas sebelum enkripsi. Pengelompokan temuan menjadi Observed, Reported, dan Assessed juga membedakan bukti langsung, laporan eksternal, dan penilaian tim, sehingga analisis terhadap sampel tidak serta-merta digeneralisasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Emiten teknologi, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) menyoroti jejak potensi serangan ransomware terhadap jaringan bisnis. Temuan tersebut diungkap melalui whitepaper terbarunya bertajuk: From Sample to Signal: Uncovering the GodDamn Ransomware Operation.

Serangan ransomware kini tidak lagi dapat dilihat hanya dari tahap ketika file mulai terenkripsi. Aktivitas seperti penyalahgunaan kredensial, akses jarak jauh, pemetaan jaringan hingga pergerakan lateral dapat berlangsung lebih dulu dan membuka jalan bagi gangguan operasional yang lebih luas.

Riset Threat Intelligence perusahaan menunjukkan bahwa serangan ransomware merupakan rangkaian aktivitas yang dapat berkembang jauh sebelum korban melihat dampak paling jelas berupa file yang terenkripsi.

Bagi perusahaan, pola tersebut membuat kemampuan mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak tahap awal kian penting. Pasalnya, ketika enkripsi sudah terjadi, penyerang berpotensi lebih dulu memperoleh akses ke sistem, mencuri kredensial dan bergerak ke sejumlah perangkat lain di dalam jaringan.

Dalam salah satu insiden yang dianalisis CYBR, aktivitas sebelum ransomware deployment mencakup penggunaan remote access, pengumpulan kredensial, network discovery dan lateral movement. Sedikitnya 10 host telah terdampak sebelum ransomware mulai dijalankan.

Analisis terhadap GodDamn ransomware juga menemukan sejumlah aktivitas yang dapat menjadi sinyal awal serangan, antara lain eksekusi mencurigakan, perubahan Registry dan service, ARP scanning, SMB probing, modifikasi file dalam jumlah besar hingga pembuatan ransom note.

Sampel yang diteliti menunjukkan kemampuan pemrosesan dan enkripsi pada lingkungan Windows maupun Linux. ITSEC Asia juga mencatat laporan mengenai penggunaan PoisonX, malicious kernel driver yang disebut digunakan untuk mengganggu proses produk keamanan sebelum tahap enkripsi.

ITSEC Asia mengklasifikasikan temuan dalam riset tersebut menjadi tiga kategori, yakni Observed, Reported, dan Assessed. Klasifikasi ini digunakan untuk membedakan temuan yang diamati langsung dari sampel, informasi berdasarkan laporan eksternal, dan hasil penilaian tim, sehingga temuan dari satu sampel atau insiden tidak serta-merta digeneralisasi sebagai pola seluruh operasi ransomware.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher mengatakan perusahaan perlu mengubah cara memandang ransomware, dari sekadar ancaman yang mengenkripsi data menjadi sebuah proses intrusi yang berlangsung bertahap.

“Ransomware sering kali baru terlihat ketika file sudah terenkripsi dan operasional mulai terganggu. Padahal sebelum itu, penyerang bisa saja sudah memperoleh akses, mengumpulkan kredensial dan bergerak di dalam jaringan. Karena itu, kemampuan mendeteksi aktivitas yang tidak wajar sejak tahap awal menjadi sangat krusial,” ujar Patrick.

Menurut riset tersebut, perusahaan perlu memperkuat pengamatan deteksi pada endpoint dan jaringan, serta perlindungan terhadap infrastruktur backup dan recovery.

Tim keamanan juga disarankan memantau sejumlah aktivitas yang dapat menjadi indikasi awal serangan, seperti penggunaan remote access yang tidak biasa, SMB probing, lateral movement, perubahan file dalam volume besar serta upaya mengganggu sistem perlindungan endpoint.

Dari perspektif bisnis, kemampuan mendeteksi rangkaian aktivitas tersebut sebelum enkripsi dapat menjadi bagian penting dari strategi menjaga kesinambungan operasional. Semakin cepat aktivitas mencurigakan teridentifikasi, semakin besar ruang bagi perusahaan untuk mengisolasi sistem yang terdampak sebelum serangan meluas ke infrastruktur yang lebih kritis.

“Semakin cepat organisasi dapat menghubungkan sinyal dari identitas, endpoint dan jaringan, semakin besar kesempatan untuk menghentikan serangan sebelum mencapai sistem yang lebih kritis. Fokus pertahanan perlu bergeser dari sekadar mencari indikator malware menjadi memahami perilaku yang muncul sepanjang rangkaian serangan,” kata Patrick.

Whitepaper From Sample to Signal: Uncovering the GodDamn Ransomware Operation disusun berdasarkan bukti teknis dan informasi yang tersedia dengan periode penelitian hingga 10 Agustus 2026.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article