Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Teknologi di Balik Implantasi Pompa Jantung LVAD Pertama di RS Swasta Indonesia

7 min read
Teknologi di Balik Implantasi Pompa Jantung LVAD Pertama di RS Swasta Indonesia
Press Conference Siloam Hospitals Kebon Jeruk: A Heartbeat of History"/Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.
  • Siloam Hospitals Kebon Jeruk mengimplantasikan HeartMate 3 LVAD pada dua pasien gagal jantung stadium lanjut dalam kurang dari sebulan, menjadi yang pertama di rumah sakit swasta Indonesia.
  • LVAD membantu aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta bagi pasien terpilih ketika terapi medis optimal tidak memadai, tetapi memerlukan seleksi ketat dan pendampingan multidisiplin.
  • Pengembangan layanan LVAD di Indonesia menghadapi tantangan kesadaran gagal jantung, keterbatasan tenaga ahli, serta harga perangkat tinggi; layanan saat ini hanya tersedia di Siloam Kebon Jeruk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD) kini hadir di Indonesia. Perangkat berupa pompa jantung mekanis ini berhasil diimplantasikan pada pasien gagal jantung stadium lanjut oleh Siloam Hospitals Kebon Jeruk, serta menjadi implantasi LVAD pertama di rumah sakit swasta Indonesia melalui Advanced Cardiac Care Clinic (ACCC) di Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Dalam waktu kurang dari satu bulan, dua pasien berhasil menjalani prosedur implantasi LVAD.

Teknologi ini dapat menjadi pilihan terapi bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang memenuhi kriteria klinis, terutama ketika terapi medis optimal tidak lagi memadai.

Kehadiran teknologi tersebut menjadi semakin relevan di tengah tingginya kebutuhan penanganan penyakit jantung di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen secara nasional, atau secara estimasi setara dengan sekitar 2,4 juta penduduk Indonesia. Kementerian Kesehatan juga mencatat penyakit jantung sebagai penyebab kematian dan disabilitas kedua tertinggi di Indonesia setelah stroke.

Namun, teknologi secanggih LVAD tidak dapat berdiri sendiri. Perangkat membutuhkan ekosistem medis yang mampu menentukan pasien yang tepat, melakukan implantasi, mengelola risiko selama prosedur, hingga mendampingi pasien setelah alat bekerja di dalam tubuh.

Di titik inilah Siloam Hospitals Kebon Jeruk membangun Advanced Heart Failure Center, pusat layanan yang menangani pasien gagal jantung stadium lanjut secara multidisiplin.

Inge Samadi, Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, mengatakan layanan tersebut mencakup diagnosis, optimalisasi terapi medis, hingga pilihan terapi lanjutan berbasis perangkat seperti LVAD.

“Menjadi satu-satunya rumah sakit di Indonesia dengan Advanced Heart Failure Center bukanlah gelar yang kami kejar, melainkan wujud dari komitmen kami untuk menghadirkan layanan penanganan gagal jantung stadium lanjut yang komprehensif di Indonesia," ujar Inge dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/9).

Ia menambahkan, pihaknya ingin pasien memiliki akses terhadap teknologi, keahlian medis, dan pilihan terapi yang sebelumnya mungkin mengharuskan mereka mencari pengobatan ke luar negeri.

Perangkat yang digunakan dalam prosedur tersebut adalah HeartMate 3™ LVAD dari Abbott. Perangkat ini merupakan LVAD generasi terbaru yang menggunakan Full MagLev™ Flow Technology.

Teknologi tersebut menggunakan levitasi magnetis penuh pada rotor pompa. Dengan mekanisme tersebut, bagian rotor tidak bergantung pada bantalan mekanis yang bersentuhan langsung dalam sistem pompa. HeartMate 3 dirancang untuk membantu menghasilkan aliran darah dari ventrikel kiri menuju aorta sehingga sirkulasi darah ke seluruh tubuh tetap terbantu.

Data uji klinis MOMENTUM 3 yang menjadi dasar penggunaan HeartMate 3 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 58,4 persen. Studi tersebut merupakan salah satu sumber bukti klinis penting mengenai penggunaan pompa LVAD generasi tersebut. Pedoman AHA/ACC/HFSA juga menempatkan durable LVAD sebagai salah satu pilihan mechanical circulatory support bagi pasien tertentu dengan gagal jantung lanjut, dengan seleksi pasien dan evaluasi multidisiplin sebagai bagian penting dari keputusan terapi.

HeartMate 3 telah digunakan pada lebih dari 42.000 pasien secara global. Selain itu, dalam data yang disampaikan rumah sakit, sebanyak 87 persen penerima LVAD menyatakan akan kembali memilih menjalani prosedur tersebut jika mengetahui hasilnya sekarang.

Pada prosedur pertama di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, perangkat tersebut diimplantasikan kepada pasien laki-laki berusia 44 tahun. Kurang dari satu bulan kemudian, tim kembali melakukan prosedur serupa pada pasien kedua.

Bagi rumah sakit, jarak waktu antara dua prosedur tersebut menjadi bagian penting dari pencapaian. Sebab, keberhasilan sebuah operasi belum otomatis menunjukkan bahwa sebuah rumah sakit telah memiliki sistem untuk menyediakan layanan tersebut secara berkelanjutan.

"Keberhasilan satu kasus merupakan pencapaian penting. Namun, keberhasilan dua kasus dalam waktu kurang dari satu bulan menunjukkan kesiapan sistem, tim, dan kapabilitas yang telah kami bangun. Ini bukan sekadar tentang berhasil melakukan sebuah prosedur, tetapi tentang memastikan bahwa kami memiliki kesiapan untuk memberikan layanan ini secara berkelanjutan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang membutuhkan,” kata dr. Melissa, MARS, Hospital Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk.

Implantasi LVAD merupakan tindakan kompleks yang membutuhkan kolaborasi antara dokter spesialis jantung dan dokter bedah toraks-kardiovaskular. Tim Siloam Hospitals Kebon Jeruk yang terlibat dalam prosedur tersebut terdiri dari dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, bersama dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV(K), dan dr. Sugisman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K).

Tim tersebut juga menjalani pelatihan intensif bersama para ahli LVAD internasional untuk mempersiapkan kemampuan melakukan prosedur dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Bagi dr. Leonardo, keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan salah satu persoalan besar dalam pengembangan teknologi medis di Indonesia: teknologi yang tersedia secara global belum tentu langsung dapat digunakan di dalam negeri jika belum ditopang tenaga medis yang memiliki keahlian khusus.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Singapura. Menurut dr. Leonardo, penggunaan HeartMate 3 di Singapura telah berlangsung lebih dahulu, dengan hampir 200 pasien yang telah mendapatkan perangkat tersebut sejak 2009.

Perbandingan itu menjadi semakin mencolok jika melihat perbedaan ukuran populasi kedua negara. Singapura memiliki sekitar 5,5 juta penduduk, sedangkan Indonesia memiliki populasi jauh lebih besar. Leonardo menilai kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan LVAD di Indonesia bukan sekadar ada atau tidak adanya teknologi.

Ada tiga persoalan yang ia soroti: kesadaran mengenai gagal jantung, ketersediaan tenaga medis yang memiliki keahlian khusus, serta akses terhadap perangkat LVAD yang mahal.

Selain itu, masyarakat selama ini lebih banyak mengenal penyakit jantung melalui istilah penyumbatan pembuluh darah, pemasangan stent, atau tindakan balon. Sementara itu, gagal jantung belum banyak dipahami sebagai kondisi yang juga dapat berkembang menjadi stadium lanjut dan membutuhkan terapi khusus.

Persoalan berikutnya adalah ketersediaan dokter dengan keahlian khusus. dr. Leonardo menyebut saat ini baru enam orang yang telah menyelesaikan pendidikan di luar negeri untuk subspesialis gagal jantung, termasuk dirinya.

Kondisi itu membuat pengembangan teknologi seperti LVAD tidak cukup hanya dengan mendatangkan perangkat. Rumah sakit juga perlu membangun sumber daya manusia yang memahami teknologi tersebut sekaligus mampu mengelola pasien sebelum dan sesudah implantasi. Selain itu, salah satu kendala yang ia lihat adalah harga perangkat yang tinggi.

“Alat ini bukan satu-satunya terapi untuk gagal jantung, tetapi gagal jantung lanjut. Dan ini terapi utama gagal jantung artinya obat-obatan, comprehensive care, klinik dan sebagainya. Salah satu halangannya ini karena alat ini sangat mahal,” ujar Leonardo.

Di balik kecanggihan perangkat tersebut terdapat proses seleksi yang tidak kalah penting. LVAD bukan teknologi yang dapat dipasang begitu saja kepada setiap pasien gagal jantung.

Ketika gagal jantung sudah tidak lagi dapat dikendalikan dengan terapi obat secara optimal, pasien dapat masuk dalam evaluasi untuk terapi lanjutan seperti LVAD atau transplantasi jantung. Namun, kondisi organ lain juga harus diperiksa. Sebagai contoh, pasien dengan penyakit penyerta seperti gagal ginjal perlu melalui evaluasi lebih menyeluruh. Jika organ lain sudah mengalami kerusakan berat, perawatan setelah implantasi LVAD menjadi lebih kompleks.

"Waktu menjadi faktor penting. Perangkat tidak boleh dipasang terlalu cepat ketika pasien masih mungkin ditangani dengan obat. Namun, tindakan juga tidak boleh terlalu lambat ketika kerusakan organ lain telah berkembang," ujar dr. Leonardo.

Setelah mendapatkan LVAD, pasien juga tidak berarti harus menghentikan seluruh aktivitas fisik. Dengan batasan tertentu dan sesuai kondisi masing-masing, aktivitas seperti berjalan kaki, senam, dan latihan di pusat kebugaran masih dapat dilakukan, bukan olahraga air.

Inge mengatakan, saat ini, implantasi LVAD tersebut baru tersedia di Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Namun, kemungkinan pengembangan layanan ke rumah sakit Siloam lainnya terbuka.

“Saat ini baru Siloam Hospital Kebon Jeruk. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan terbuka untuk Siloam lainnya,” ujar Inge.

Sementara untuk biaya, ia tak menyebut nominal pasti tetapi semua bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien, termasuk hasil pemeriksaan dan apakah pasien memang memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan LVAD.

“Pasien harus dicek kondisi masing-masing parameternya. Apakah memerlukan tindakan ini atau tidak. Dari situ baru bisa dijelaskan kurang lebih estimasi biayanya,” kata Inge.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More