Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Riset: Shadow AI Intai Perusahaan, Hampir Separuh Aktivitas AI Tak Terawasi
Ilustrasi penggunaann AI di pekerjaan. (dok. Akamai)
  • Riset Akamai menemukan hampir separuh aktivitas AI perusahaan berlangsung tanpa pengawasan keamanan, meningkatkan risiko kebocoran data sensitif, kode sumber, kredensial, dan aset digital.
  • Sekitar 5 persen karyawan berisiko tinggi menyumbang mayoritas interaksi prompt AI; penggunaan aplikasi mandiri juga menciptakan shadow AI yang sulit dilacak dan dikelola.
  • Akamai merekomendasikan pemantauan pengguna aktif, SSO, analisis kontekstual real-time, pengamanan ekstensi browser dan IDE, serta pembatasan hak akses agen AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem keamanan untuk mengawasinya. Riset terbaru Akamai Technologies menunjukkan hampir separuh aktivitas penggunaan AI di perusahaan berlangsung di luar pengawasan tim keamanan, memperlebar kesenjangan visibilitas atau yang dikenal sebagai shadow AI.

Temuan tersebut menjadi sinyal baru perusahaan yang tengah menggenjot investasi AI. Di satu sisi, AI semakin terintegrasi ke berbagai fungsi bisnis. Di sisi lain, penggunaan platform AI yang tidak terkelola berpotensi membuka celah terhadap data sensitif, kode sumber, kredensial, hingga aset digital perusahaan.

Dalam laporan State of the Internet (SOTI): The Enterprise AI Usage Risk Report 2026, Akamai mengungkapkan bahwa risiko AI tidak tersebar secara merata di seluruh organisasi. Sebagian besar paparan justru terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna yang sangat aktif menggunakan AI.

Pada laporan terbarunya, Akamai menyebut sekitar 5 persen karyawan berisiko tinggi menghasilkan sebagian besar interaksi melalui prompt AI. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu mengubah pendekatan keamanan, dari pengawasan yang merata ke pemantauan berbasis risiko dengan memberikan perhatian lebih besar kepada pengguna AI paling aktif.

“AI kini bukan lagi sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas, melainkan telah menjadi rekan kerja yang memiliki akses langsung ke aset-aset paling berharga perusahaan,” ujar Or Eshed, Vice President, Enterprise Security Product and Engineering Akamai dalam keterangan tertulis, Selasa (12/8).

Menurut dia, sistem pencegahan kebocoran data konvensional yang selama ini berfokus pada perpindahan file dan email perlu beradaptasi. Data perusahaan saat ini dapat tersebar melalui jutaan prompt, akun pribadi yang tidak dikelola, serta agen AI otonom yang dapat mengambil tindakan atas nama pengguna.

Shadow AI Jadi Risiko Baru

Riset Akamai juga menyoroti masalah lain, seperti kesenjangan antara AI yang secara resmi disetujui perusahaan dan aplikasi AI yang digunakan karyawan secara mandiri.

Tim keamanan, menurut laporan tersebut, cenderung berfokus pada sejumlah platform AI yang telah disetujui. Sementara itu, terdapat long tail aplikasi AI yang digunakan tanpa pengelolaan justru berpotensi luput dari pemantauan.

Bagi perusahaan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebocoran data sekaligus memperumit tata kelola teknologi. Penggunaan AI yang tidak tercatat juga membuat perusahaan kesulitan mengetahui data apa yang telah diberikan kepada layanan eksternal dan siapa saja yang memiliki akses terhadapnya.

Akamai menilai perusahaan perlu memperluas pengawasan dari sekadar platform AI resmi ke seluruh lapisan interaksi, termasuk prompt, aktivitas copy-paste, unggahan dokumen, serta penggunaan akun dan layanan AI berbasis SaaS.

Risiko bisnis tidak berhenti pada kebocoran data. Akamai juga mengidentifikasi tiga metode serangan baru sepanjang 2026 yang dapat melewati pertahanan keamanan konvensional.

Pertama, vibe hacking, yakni manipulasi file instruksi Markdown lokal yang dapat menipu asisten pemrograman berbasis AI untuk menghasilkan kode tidak aman atau menjalankan tindakan yang tidak sah.

Kedua, CursorJacking, yaitu penyalahgunaan ekstensi browser dengan hak akses luas untuk mengambil kunci API, basis kode perusahaan, serta riwayat percakapan dari lingkungan browser. Serangan ini menyasar asisten pemrograman berbasis AI seperti Cursor.

Ketiga, CometJacking, serangan berbasis indirect prompt injection yang menyisipkan instruksi berbahaya ke halaman web publik untuk memanipulasi agen AI lokal pengguna. Agen yang telah terkompromi berpotensi mengirimkan file, email, hingga kredensial sesi tanpa sepengetahuan pengguna.

Munculnya metode tersebut menunjukkan bahwa perluasan penggunaan AI turut memperluas permukaan serangan perusahaan. Risiko tidak lagi hanya berada di pusat data atau jaringan korporasi, tetapi juga pada browser, IDE, ekstensi, prompt, dan agen AI yang digunakan karyawan.

Mengubah Strategi

Untuk mengimbangi ekspansi penggunaan AI, Akamai merekomendasikan lima langkah bagi Chief Information Security Officer (CISO) pada 2026.

Pertama, perusahaan perlu memprioritaskan pemantauan terhadap pengguna AI paling aktif. Telemetri, pengawasan, dan edukasi dapat diarahkan secara khusus kepada kelompok 5 persen karyawan yang memiliki tingkat penggunaan AI tertinggi.

Kedua, perusahaan perlu mengurangi shadow AI melalui penerapan single sign-on (SSO) dan identifikasi berkelanjutan terhadap berbagai layanan AI berbasis SaaS.

Ketiga, perusahaan perlu beralih dari pendekatan Data Loss Prevention (DLP) statis menuju analisis kontekstual secara real time terhadap interaksi AI.

Keempat, ekstensi browser dan IDE perlu diperlakukan sebagai perangkat lunak dengan hak akses tinggi. Akamai mencatat hampir 75 persen ekstensi AI meminta izin akses tingkat tinggi atau kritis, sementara 16,3 persen mengandung CVE yang telah diketahui.

Kelima, perusahaan perlu mengamankan agen AI dengan menerapkan prinsip least privilege dan memonitor perilaku agen yang dapat bertindak secara otonom atas nama karyawan.

Bagi dunia usaha, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa investasi AI tidak lagi cukup hanya diukur dari potensi produktivitas atau efisiensi biaya. Perusahaan juga perlu memasukkan biaya pengawasan, tata kelola, dan keamanan AI sebagai bagian dari investasi transformasi digital.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article