Jakarta, FORTUNE – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem keamanan untuk mengawasinya. Riset terbaru Akamai Technologies menunjukkan hampir separuh aktivitas penggunaan AI di perusahaan berlangsung di luar pengawasan tim keamanan, memperlebar kesenjangan visibilitas atau yang dikenal sebagai shadow AI.
Temuan tersebut menjadi sinyal baru perusahaan yang tengah menggenjot investasi AI. Di satu sisi, AI semakin terintegrasi ke berbagai fungsi bisnis. Di sisi lain, penggunaan platform AI yang tidak terkelola berpotensi membuka celah terhadap data sensitif, kode sumber, kredensial, hingga aset digital perusahaan.
Dalam laporan State of the Internet (SOTI): The Enterprise AI Usage Risk Report 2026, Akamai mengungkapkan bahwa risiko AI tidak tersebar secara merata di seluruh organisasi. Sebagian besar paparan justru terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna yang sangat aktif menggunakan AI.
Pada laporan terbarunya, Akamai menyebut sekitar 5 persen karyawan berisiko tinggi menghasilkan sebagian besar interaksi melalui prompt AI. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu mengubah pendekatan keamanan, dari pengawasan yang merata ke pemantauan berbasis risiko dengan memberikan perhatian lebih besar kepada pengguna AI paling aktif.
“AI kini bukan lagi sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas, melainkan telah menjadi rekan kerja yang memiliki akses langsung ke aset-aset paling berharga perusahaan,” ujar Or Eshed, Vice President, Enterprise Security Product and Engineering Akamai dalam keterangan tertulis, Selasa (12/8).
Menurut dia, sistem pencegahan kebocoran data konvensional yang selama ini berfokus pada perpindahan file dan email perlu beradaptasi. Data perusahaan saat ini dapat tersebar melalui jutaan prompt, akun pribadi yang tidak dikelola, serta agen AI otonom yang dapat mengambil tindakan atas nama pengguna.
