Jakarta, FORTUNE - Schneider Electric Indonesia mengklaim telah menurunkan emisi karbon dari operasional perusahaan (Scope 1 dan Scope 2) hingga 82 persen pada semester I 2026 dibandingkan tingkat emisi pada 2017. Sementara itu, emisi Scope 3 tercatat menurun 12 persen dibandingkan baseline 2021.
Presiden Direktur Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan mengatakan capaian tersebut merupakan bagian dari implementasi program keberlanjutan Impact 2030 yang berfokus pada dekarbonisasi operasional, pengembangan produk berkelanjutan, penguatan rantai pasok, serta perluasan akses energi.
"Kami meningkatkan ambisi dengan memperkuat fondasi yang telah dibangun, sekaligus mempercepat integrasi keberlanjutan ke dalam setiap aspek bisnis kami untuk mendukung kemajuan bagi semua," ujar Martin dalam keterangan resmi, Senin (3/8).
Selain menekan emisi di internal perusahaan, Schneider Electric mengklaim membantu penghematan konsumsi energi sebesar 129,5 juta MWh pada semester pertama 2026.
Dari inisiatif tersebut, perusahaan menilai telah menghindari lebih dari 50 juta ton emisi karbon dioksida (CO₂), sehingga akumulasi emisi yang berhasil dihindari sejak 2018 mencapai 913 juta ton.
Pada sisi pengembangan produk, sebanyak 27 persen produk dan solusi utama yang masih dalam tahap perancangan telah memenuhi standar sirkularitas dan lingkungan melalui program Future-designed. Sementara itu, perusahaan memperluas program dekarbonisasi pemasok dengan melibatkan 1.500 pemasok dalam inisiatif The Zero Carbon Pathway.
Dalam program itu, para pemasok diminta mengukur emisi operasional Scope 1 dan Scope 2, menetapkan target penurunan emisi, serta mulai menghitung emisi Scope 3 dan product carbon footprint. Hingga kuartal II 2026, sebanyak 15 pemasok telah memenuhi seluruh persyaratan tersebut.
Untuk mendukung implementasi program, Schneider Electric juga mulai menerapkan perangkat digital berbasis kecerdasan buatan (AI) kepada lebih dari 1.000 pemasok selama semester pertama tahun ini.
