Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ALVAboard Gandeng Rekosistem Perluas Model Bisnis Ekonomi Sirkular
Dok. Rekosistem

Jakarta, FORTUNE – ALVAboard menjalin kerja sama dengan Rekosistem untuk membangun sistem pengelolaan sampah kemasan berbasis ekonomi sirkular. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas praktik daur ulang material kemasan industri sekaligus membuka peluang nilai ekonomi dari limbah yang selama ini belum terkelola optimal.

Kerja sama tersebut difokuskan pada penyetoran dan pengolahan sampah kemasan berbahan corrugated plastic dan material sejenis. Sampah yang terkumpul, baik dari proses produksi maupun distribusi, akan dipilah, dicatat, dan diproses ulang melalui sistem pengelolaan milik Rekosistem.

CEO ALVAboard, Alden Lukman, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem ekonomi sirkular di sektor kemasan. “Melalui penyetoran dan pengelolaan yang terintegrasi, kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (25/2).

Menurutnya, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari strategi pengurangan dampak lingkungan dan emisi karbon yang akan diukur seiring dengan peningkatan skala program.

Lonjakan aktivitas logistik dan e-commerce dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong peningkatan volume sampah kemasan. Material seperti kardus dan plastik dinilai masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui skema daur ulang yang terstruktur.

Melalui jaringan pengumpulan dan fasilitas pemulihan material Rekosistem, setiap kemasan yang disetorkan akan tercatat dalam sistem dan diproses sesuai standar pengelolaan. Co-founder Rekosistem, Ernest, menyebut kolaborasi ini dirancang sebagai sistem terintegrasi, bukan sekadar program kampanye.

“Setiap kemasan yang disetorkan tercatat, terlacak, dan diproses dalam alur pengelolaan daur ulang yang terintegrasi. Bersama ALVAboard, kami ingin memastikan material kembali masuk ke siklus produksi melalui mekanisme yang terukur,” ujarnya.

Selain aspek lingkungan, skema ini juga memuat insentif ekonomi bagi pelanggan. Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan menerima Rp600 per kilogram. Khusus material kemasan ALVAboard, nilai yang diterima dapat mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp1.400 per kilogram.

Perusahaan menilai skema tersebut dapat mendorong partisipasi industri dalam pengelolaan limbah sekaligus memperkuat implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG).

Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi mitra industri untuk terlibat dalam rantai pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, dengan tujuan memperpanjang siklus hidup material dan menekan kebutuhan bahan baku baru.

Editorial Team