BUSINESS

Mayoritas Konsumen Indonesia Gunakan Omnichannel untuk Berbelanja

Pebisnis perlu mengoptimalkan omnnichannel.

Mayoritas Konsumen Indonesia Gunakan Omnichannel untuk BerbelanjaTalkshow “Omnichannel Trends: Meeting the Modern Shopper’s Preferences”/Dok. Fortune idn/Desy Y.

by Desy Yuliastuti

25 October 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Strategi omnichannel nampaknya kini perlu diterapkan para pebisnis, sebab konsumen Indonesia gemar melakukan pembelian daring atau online, tapi juga menyukai pengalaman berbelanja langsung.

Helmy Herman selaku Regional Account Director Worldpanel Division, Kantar Asia, mengatakan secara keseluruhan, keberadaan saluran online dan offline dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan konsumen, masing-masing menyediakan pilihan kenyamanan berbelanja yang berbeda. 

“Contohnya, dalam sektor Fast Moving Consumer Goods atau FMCG, lebih dari 50 persen konsumen berbelanja di lebih dari empat saluran, mencakup baik saluran offline maupun online,” ujar Helmi dalam talkshow “Omnichannel Trends: Meeting the Modern Shopper’s Preferences” yang digelar GDP Venture, Selasa (25/10).

Helmy menekankan bahwa pelanggan menjadi pusat dari setiap interaksi, sehingga memungkinkan mereka beralih dari satu saluran ke saluran lain dengan mulus. 

“Hasilnya, perusahaan dapat menciptakan kohesi dan konsistensi dalam pengalaman pelanggan mereka, memperkuat loyalitas dan meningkatkan efisiensi operasional,” katanya.

Kunci pendorong omnichannel

Helmy mengungkap sejumlah faktor kunci pendorong tren omnichannel di masa depan akan didorong oleh beberapa faktor kunci. Di antaranya peningkatan penggunaan internet di daerah perdesaan yang didukung oleh infrastruktur pemerintah yang semakin berkembang.

Faktor lainnya, yakni penggunaan pembayaran berbasis mobile yang luas, serta perkembangan produk lokal yang sering dimulai secara online sebelum membuka toko fisik.

“Pentingnya pengalaman berbelanja semakin bertambah baik melalui saluran online maupun offline, karena keduanya menawarkan pengalaman yang unik. Herman menambahkan bahwa Generasi Z memainkan peran utama dalam pertumbuhan tren omnichannel,” ujar Helmy.

Generasi Z yang memiliki literasi dan keterampilan digital tinggi dinilai berperan dalam pengalaman belanja langsung, misalnya dalam membuat konten saat berbelanja. Konten yang dihasilkan bisa mendorong omnichannel dan mempengaruhi masyarakat di masa mendatang.

Group Head Groceries & Lifestyle Blibli, Fransisca Krisanti Nugraha, menjelaskan di tengah perubahan dinamika pasar dan tren konsumen yang terus berkembang, masyarakat justru mengincar toko fisik untuk berbelanja.

Hal ini sejalan dengan semangat ‘Simplify to Amplify’ Blibli sebagai pelopor ekosistem perdagangan omnichannel dan gaya hidup terintegrasi. Fransisca mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus berinovasi dalam memberikan pengalaman belanja yang mudah, aman, dan relevan dengan berbagai preferensi online maupun offline

“Blibli akan terus memberikan dukungan maksimal untuk produk lokal agar dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Fransisca.

Omnichannel mendongkrak UMKM

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengungkapkan keragaman produk UMKM semakin diakui dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya, kombinasi saluran offline-online yang menarik perhatian konsumen dengan produk lokal yang berkualitas dapat signifikan meningkatkan pendapatan para UMKM. Pemerintah juga mendorong UMKM dengan berbagai kebijakan.

“Pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mendukung dan melindungi UMKM di Indonesia, termasuk dukungan konsisten Pemerintah mengalokasikan 40 persen dari anggaran untuk belanja produk lokal,” ujar Menteri Teten.

Selain itu, upaya perlindungan UMKM juga terwujud melalui peraturan yang jelas, mencakup aspek teknologi, platform, dan jenis distribusi. Melalui platform e-commerce resmi, UMKM dapat menjangkau konsumen lebih luas, meningkatkan popularitas produk, dan membuka peluang baru. 

Co-founder & CEO Dekoruma, Dimas Harry Priawan, berpendapat bahwa perilaku konsumen dalam menggunakan omnichannel berlaku juga pada industri furnitur. Faktanya, konsumen membutuhkan rasa kepercayaan yang lebih dalam menentukan produknya.

Dekoruma mengadopsi strategi omnichannel untuk memperluas penjualan sebagai respons terhadap permintaan konsumen yang menginginkan pengalaman langsung dalam melihat dan merasakan produk furnitur sebelum melakukan pembelian. 

“Kualitas, material dan kenyamanan sangat sulit sekali didapatkan dari online saja. Selain itu, dengan tujuan mengembangkan bisnis di luar kota-kota besar, kehadiran saluran offline tetap krusial karena penetrasi online dan e-commerce masih belum sekuat di daerah-daerah tersebut,” ujarnya.

Strategi omnichannel juga menjadi pilihan bagi CEO Brodo, Yukka Harlanda, dalam mengembangkan bisnisnya dan memenuhi berbagai preferensi berbelanja konsumen Indonesia.

“Brodo berasal dari dunia digital dan sedang meluaskan keberadaannya ke dunia offline. Kami meyakini, tiap saluran baik online maupun offline, memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, yang membuatnya saling melengkapi,” kata Yukka.

Diproduksi sejak tahun 2010, Brodo telah membuka flagship store ketiganya di Bekasi, setelah di Jakarta dan Bandung. Langkah ini sebagai respons atas permintaan tinggi dari para penggemar sepatu lokal. Brodo juga menggunakan website www.bro.do dan mengoptimalkan marketplace, dan SIS (store in store) di beberapa department store.

"Omset di flagship store juga mengalami pertumbuhan sebesar 22,2 persen dari tahun 2022 ke 2023 untuk dua toko di Bandung dan Jakarta. Dengan kehadiran store baru di Bekasi, diharapkan pertumbuhan ini akan semakin meningkat serta memperluas target pasar yang sudah ada," ujarnya.