Comscore Tracker
BUSINESS

Biaya Kapal Mahal, Menimbang Untung Rugi Ekspor Lewat Udara

Ekspor produk Indonesia terkendala mahalnya jasa pengiriman.

Biaya Kapal Mahal, Menimbang Untung Rugi Ekspor Lewat UdaraIlustrasi Kegiatan Ekspor Impor. (ShutterStock/WeerasakSaeku)

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE – Dengan adanya perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut, memberikan berkah tersendiri bagi Indonesia, terutama meningkatknya permintaan ekspor produk dari Tanah Air.  Momentum baik ini sedikit terhambat tingginya biaya pengapalan.

Saat ini, tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga 10 kali lipat dari sebelumnya akibat kelangkaan kontainer, yaitu menjadi US$10.000—US$20.000 per kontainer.

Guna menyiasati hal tersebut, Lutfi menyarankan, para pelaku UKM, khususnya mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara. “Hal ini mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat yang mengharuskan perusahaan penerbangan untuk tetap terbang dengan membawa muatan kargo,” kata Lutfi, Minggu (3/10).

Pengiriman jalur ekspor juga bisa menjadi alternatif mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat saat pandemi Covid-19. Sementara, maskapai harus tetap terbang dengan membawa muatan kargo.

1. Maskapai dukung ekspor melalui jalur udara

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia menyambut baik usulan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara.

Terkait layanan kargo, Garuda Indonesia bekerja sama dengan Angkasa Pura Kargo menyediakan fasilitas penyediaan layanan jasa pengambilan barang untuk layanan kargo Garuda Indonesia. “Kami tentu saja support dan akan dukung ekspor lewat udara,” kata Irfan kepada Fortune Indonesia, Senin (4/10).

Untuk rencana tersebut, Irfan mengungkapkan telah melakukan diskusi dengan kementerian terkait serta dengan asosiasi eksportir. Sebab, hal ini tentu baik dalam mendukung kinerja perseroan.

Dengan melihat tren peningkatan jumlah kargo yang diangkut di setiap penerbangannya. Saat ini, rata-rata trafik angkutan kargo sebesar 100 ribu ton yang dilayani Garuda Indonesia melalui bandara Internasional Soekarno Hatta setiap tahunnya.  

"Layanan ini kami harapkan akan semakin meningkatkan pangsa pasar pengiriman kargo melalui Bandara Soekarno Hatta yang saat ini menjadi salah satu hub terbesar pendistribusian kargo domestik Garuda Indonesia," tuturnya.

2. Ekspor jalur udara bisa diperhitungkan

Ekonom Bhima Yudhistira mengatakan pemangku kepentingan perlu memastikan agregasi pada barang-barang sejenis dilakukan demi mencapai efisiensi pengiriman. “Jika lewat jalur udara lebih efisien, kenapa tidak diterapkan. Saya harap bisa difasilitasi segera, terutama oleh BUMN yang menyediakan jasa logistik ekspor,” kata dia, Senin (4/10).

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) ini menilai pemberian subsidi bisa menjadi solusi jangka pendek jika biaya pengiriman lewat udara justru mengakibatkan harga produk menjadi lebih mahal. Menurutnya, masih banyak pelaku tetap memilih ekspor lewat jalur udara karena biaya akhir produk yang tetap lebih murah.

3. Pelaku usaha terus mencari solusi

Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menambahkan, pihaknya akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait untuk bersama mencari solusi terkait tantangan dan hambatan yang dialami para pelaku usaha.

“Kadin juga berupaya membuat ekosistem yang dapat menghubungkan UKM dengan para calon buyers. Hal itu dilakukan untuk mempermudah ekspor ke negara-negara tujuan. Rencananya, proyek ini akan dilakukan di Australia, Swiss, serta akan memanfaatkan perhelatan Expo 2020 Dubai untuk mengembangkan proyek di UEA,” tutur Arsjad.

Arsjad menyebut, Kadin juga terus berupaya mendorong ekspor nasional dengan memprioritaskan ekspor ke negara-negara yang memiliki comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Indonesia, antara lain UEA, Australia, Swiss, Hongkong, Uni Eropa, Turki, dan Korea Selatan. CEPA merupakan perjanjian kerja sama antar negara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan perdagangan internasional.

Related Articles