BUSINESS

Freeport Targetkan Ekspor 2,3 Juta Ton Tembaga Tahun Ini

PTFI berbekal RKAB dari Kementrian ESDM untuk ekspor.

Freeport Targetkan Ekspor 2,3 Juta Ton Tembaga Tahun IniTony Wenas. (dok. pribadi)

by Hendra Friana

07 February 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengatakan perusahaannya menargetkan ekspor 2,3 juta ton konsentrat tembaga tahun ini.

Meski proses perizinan ekspor belum rampung, PTFI telah mendapatkan persetujuan awal dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2023 yang diajukan ke Kementerian ESDM.

"Memang untuk persetujuan izin ekspor selanjutnya masih berproses," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Senin (6/2).

Tony menuturkan izin ekspor tersebut berkaitan dengan progres pembangunan smelter mereka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE) Manyar, Gresik.

Verifikasi perkembangan proyek smelter akan dilakukan oleh verifikator independen dan menjadi salah satu pertimbangan persetujuan RKAB dalam pengajuan izin ekspor.

Sementara itu, Direktur Utama MIND ID, Hendi Prio Santoso, mengungkapkan progres pembangunan smelter PTFI telah mencapai 54 persen.

"Syukur Alhamdulillah progres yang sudah tercapai kami terinfokan mencapai 54 persen di akhir Januari," katanya.

Target rampung konstruksi pada akhir 2023

Ia mengatakan proyek tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2023.

"Insya Allah akan mencapai 100 persen penyelesaian konstruksi di akhir 2023 dan akan lanjut ke fase 'soft commissioning' dan 'ramp up' operasi di bulan Juni 2024," ujar Hendi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin, mengatakan pemerintah tetap mengizinkan PTFI mengekspor konsentrat meski smelter baru yang mereka diperkirakan molor.

"Pemerintah sudah menerima surat dari Freeport yang intinya belum bisa menyelesaikan smelter di 2023," katanya dalam konferensi pers, Rabu (1/2).

Namun terkait dengan larangan ekspor konsentrat, ia mengatakan hal tersebut masih akan dikaji dan dibahas. 

“Kalau kebijakan dibuat tentunya tidak khusus untuk Freeport, dong? Kan yang lain juga sama juga. Ada juga yang lain yang bermasalah juga. Itu yang harus dipastikan karena tidak diskriminatiflah kita, ya,” ujar Ridwan.