HRTA Prediksi Permintaan Emas Naik Jelang Idulfitri

- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memprediksi lonjakan permintaan emas menjelang Ramadan dan Idulfitri, didorong tradisi pembelian perhiasan serta meningkatnya minat masyarakat menjadikan emas sebagai tabungan jangka panjang.
- Harga emas global naik akibat pelemahan rupiah dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan rata-rata harga Februari 2026 mencapai US$5.015 per ounce atau sekitar Rp2,71 juta per gram.
- Pemerintah memperkuat ekosistem emas domestik lewat bea ekspor baru dan penurunan tarif PPh 22, sementara bank sentral menambah cadangan emas hingga total 85 ton pada akhir 2025.
Jakarta, FORTUNE – Emiten produsen emas, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memproyeksikan permintaan emas kian melonjak menjelang hari raya Idulfitri.
Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda, mengatakan perayaan Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan Ramadan dan Idulfitri secara tradisional menjadi periode peningkatan pembelian emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun emas batangan, sebagai hadiah maupun instrumen tabungan. Faktor musiman ini dinilai secara konsisten memberikan dorongan tambahan bagi permintaan emas di pasar domestik.
“Menjelang Ramadan dan Idul Fitri biasanya terjadi peningkatan aktivitas pembelian emas. Selain sebagai hadiah, masyarakat juga semakin melihat emas sebagai salah satu cara menabung untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (11/3).
Di sisi lain, naiknya harga emas di pasar domestik turut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia mencatat rupiah berada pada kondisi undervalued di tengah ketidakpastian global, sehingga pelemahan mata uang ini turut membuat harga emas menjadi lebih tinggi dalam rupiah meskipun perubahan fundamental di pasar emas global tidak terlalu besar.
Sementara itu, ketegangan geopolitik global kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap emas. Eskalasi konflik di Timur Tengah, yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal Maret, memicu kenaikan harga emas global setelah sempat mengalami koreksi pada awal tahun.
Sepanjang Februari 2026, harga rata-rata emas tercatat berada di level US$5.015 per ounce atau sekitar Rp2,71 juta per gram, meningkat 17 persen secara tahunan dan 6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga emas bahkan ditutup pada level US$5.278 per ounce, mendekati rekor tertinggi yang tercapai pada Januari lalu. Sebagai informasi, harga terbaru HRTA Gold per 10 Maret 2026, pukul 08.40 WIB tercatat sebesar Rp 2.893.000 per gram.
Di tingkat global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor penting. The Federal Reserve kembali menahan suku bunga pada Februari di tengah inflasi yang masih berada di atas target, meskipun tetap membuka ruang untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.
Ketegangan geopolitik juga menjadi katalis terbaru bagi pergerakan harga. Pada awal Maret, serangan militer yang menewaskan pemimpin Iran memicu kenaikan harga emas sekitar 1 persen diikuti lonjakan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini mendorong sebagian pelaku pasar untuk menempatkan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik maupun tekanan inflasi, masyarakat cenderung melihat emas sebagai sarana menabung nilai yang relatif stabil. Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ujar Thendra.
Selain faktor permintaan masyarakat, tren akumulasi emas oleh bank sentral juga menunjukkan sinyal kuat. Bank Indonesia menambah 7 ton emas ke dalam cadangan nasional sepanjang 2025, sehingga total cadangan emas mencapai 85 ton pada akhir tahun tersebut. Pembelian kembali sekitar 2 ton emas pada Januari 2026 menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai dalam cadangan negara.
Pemerintah juga mengambil langkah untuk memperkuat ekosistem emas domestik. Kementerian Keuangan mulai memberlakukan bea ekspor produk emas sejak Desember 2025, berkisar 7,5–12,5 persen dan meningkat menjadi 10–15 persen ketika harga emas melampaui US$3.200 per ounce, untuk menjaga pasokan emas di dalam negeri dan mendorong pengolahan bernilai tambah di dalam negeri. Sementara itu, tarif PPh 22 untuk transaksi emas batangan ritel telah dipangkas menjadi 0,25 persen, sehingga dapat membantu menekan biaya perdagangan bagi konsumen.
Ke depan, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah katalis utama dari Amerika Serikat, termasuk rilis data tenaga kerja, inflasi (CPI), serta keputusan FOMC, yang berpotensi memengaruhi arah harga emas global.
Sejumlah institusi keuangan global bahkan mulai menaikkan proyeksi harga emas. Goldman Sachs meningkatkan target harga emas menjadi US$5.400 per ounce untuk 2026, dari sebelumnya US$4.900 per ounce. Sementara JP Morgan memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 6.000 per ounce dalam jangka panjang, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan institusi di tengah kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang global.
“Dengan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta momentum permintaan domestik menjelang Ramadan, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan aset lindung nilai bagi masyarakat untuk ditabung dalam jangka panjang,” pungkasnya.

















