Comscore Tracker
BUSINESS

Grup Sinar Mas Akuisisi Tambang Senilai Rp19,5 Triliun di Australia

Sinar Mas melakukan akuisisi melalui anak usahanya.

Grup Sinar Mas Akuisisi Tambang Senilai Rp19,5 Triliun di AustraliaANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wsj

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Entitas Grup Sinar Mas melalui anak usaha tak langsungnya meneken perjanjian akuisisi perusahaan tambang di Australia, yaitu BHP Mitsui Coal (BMC), yang merupakan anak usaha BHP Minerals. 

Grup Sinar Mas melakukan akuisisi via Stanmore Resources Limited, anak usaha dari Golden Energy Resources, perusahaan yang mayoritas sahamnya (86,87 persen) dikendalikan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Sekretaris Perusahaan Dian Swastatika Sentosa, Susan Chandra, mengatakan Stanmore Resources Limited menandatangani perjanjian jual beli dengan BHP Minerals, Senin (8/11). Penandatanganan ini sehubungan dengan rencana perolehan 80 persen kepemilikan saham BHP Mitsui Coal oleh BHP.

Total nilai transaksi tersebut US$1,35 miliar atau setara Rp19,5 triliun. Pembayaran atas rencana transaksi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mengombinasikan pendanaan internal dan eksternal, kata Susan. Secara mendetail, pembayaran US$1,1 miliar (Rp15,95 triliun) akan jatuh tempo saat penyelesaian transaksi.

Kemudian, US$100 juta (Rp1,45 triliun) enam bulan pasca penyelesaian transaksi. Selanjutnya, maksimum US$150 juta (Rp2,17 triliun) berdasarkan mekanisme bagi hasil atas pendapatan jika harga jual rata-rata berada di atas ambang tertentu selama periode dua tahun, jatuh tempo dalam waktu tiga bulan setelah akhir periode pengujian (diperkirakan 2024)

“Harga pembelian akan tunduk pada penyesuaian lazimnya saat penyelesaian rencana transaksi. Lebih lanjut, penyelesaian rencana transaksi diperkirakan akan terlaksana pada pertengahan 2022, yang mana penyelesaiannya masih tunduk pada pemenuhan syarat-syarat pendahuluan,” kata Susan, seperti dikutip pada Selasa (9/11).

Memperkuat posisi perusahaan

Menurut Susan, perseroan melalui entitas anak berharap bahwa dengan terealisasinya rencana transaksi ini, akan memperkuat posisi sebagai salah satu pelaku bisnis dalam usaha batu bara metalurgi di wilayah Asia dan Oseania. Untuk selanjutnya dapat memberikan dampak positif bagi para pemegang saham.

Dia menginformasikan bahwa BMC memiliki tambang aset batu bara metalurgi yang terletak di Queensland, Australia, terdiri dari South Walker Creek dan tambang Poitrel. Total produksi aset tersebut sekitar 10 Mt per tahun dan total cadangan sebanyak 171 Mt. Ada juga proyek batu bara Wards Well yang belum dikembangkan.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir perusahaan, Dian Swastatika Sentosa, per kuartal kedua 2021 memiliki aset US$3,01 miliar atau setara Rp43,70 triliun. Aset itu tumbuh 3,9 persen dari US$2,90 miliar pada periode sama 2020. Perusahaan juga berhasil mencetak laba US$43,92, atau meningkat 95,6 persen secara tahunan.

Transisi operasi emisi

Sebagaimana diwartakan Australian Mining, BHP Minerals telah setuju menjual 80 persen saham BHP Mitsui kepada Stanmore Resources. Presiden BHP Minerals, Edgar Basto, mengatakan kesepakatan itu akan melanjutkan upaya transisi perusahaan dari operasi emisi karbon besar.

“Transaksi ini sesuai dengan strategi BHP, memberikan nilai bagi perusahaan dan pemegang saham kami serta memberikan kepastian bagi tenaga kerja BMC dan masyarakat setempat,” kata Basto.

Sementara itu, CEO Stanmore, Marcelo Matos, mengatakan akuisisi ini akan menjadi hal yang transformatif bagi perusahaan. Kata dia, perusahaan akan menjadi salah satu produsen batubara metalurgi terkemuka secara global dan memberikan portofolio aset Tier 1.

“(Ini membawa) cadangan dan basis sumber daya dan aset yang meningkat secara signifikan dengan masa pakai tambang yang diharapkan melebihi 25 tahun produksi, memosisikan perusahaan untuk menghasilkan arus kas yang substansial, dan peluang pertumbuhan di masa depan,” kata Matos.

Related Articles