Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ilustrasi menyeduh kopi (pexels.com/Maksim Goncharenok)
ilustrasi menyeduh kopi (pexels.com/Maksim Goncharenok)

Jakarta, FORTUNE - Di tengah tekanan ekonomi yang makin terasa, masyarakat menyesuaikan pola konsumsi mereka. Kebiasaan minum kopi pun berkembang, tak hanya meminum kopi di kedai tapi meracik sendiri di rumah. Tren ini turut mendorong penjualan kopi secara daring.

Dalam Data Compas Market Insight Dashboard, kategori kopi mencatatkan kinerja paling menonjol di platform e-commerce sepanjang Januari hingga November 2025. Dengan kata lain, menunjukkan nilai penjualan kopi melonjak 120 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dari Rp1,1 triliun pada 2024 menjadi Rp2,4 triliun pada 2025.

Kenaikan tersebut tidak hanya ditopang oleh peningkatan volume penjualan, tetapi juga oleh lonjakan nilai transaksi per unit. Sepanjang 2025, jumlah produk kopi yang terjual naik dari 23 juta unit menjadi 29 juta unit, atau tumbuh 26 persendibandingkan tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, harga rata-rata per unit melonjak signifikan dari Rp46.000 menjadi Rp81.000, atau meningkat sekitar 75 persen. CEO Compas.co.id, Hanindia Narendrata, menyatakan tren ini mencerminkan perubahan pola belanja konsumen.

“Lonjakan permintaan dan peningkatan harga rata-rata menunjukkan bahwa konsumen kini mulai terbiasa membeli dalam kemasan besar, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan stok jangka panjang,” ujar Narendrata, dalam keterangannya, Senin (12/1).

Dok. ⁠Compas.co.id

Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut adalah pergeseran ke format kemasan karton. Berdasarkan analisis Compas.co.id, penjualan kopi dalam kemasan karton mencatat pertumbuhan nilai hingga 563 persen, jauh melampaui format kemasan lain yang hanya tumbuh 53 persen.

“Kenaikan ini mencerminkan strategi pembelian baru dari konsumen e-commerce, yang kini lebih memilih kemasan besar untuk meningkatkan efisiensi belanja,” kata Narendrata.

Selain perubahan format kemasan, dinamika di sisi penjual turut berkontribusi terhadap pertumbuhan. Semakin banyak distributor besar yang kini aktif menjual langsung melalui e-commerce, sehingga memudahkan konsumen memperoleh produk kopi dalam jumlah besar dengan harga lebih kompetitif serta memperluas distribusi ke berbagai wilayah di Indonesia.

Narendrata menambahkan bahwa tren format besar mendorong kenaikan nilai belanja per transaksi (basket size) sekaligus memperkuat pola pembelian berulang, terutama melalui kanal grosir dan distributor. Hal ini dinilai menjadi indikator penting dalam merancang strategi penjualan daring pada 2026.

Tren ini juga menjadi sinyal bagi pelaku industri makanan dan minuman untuk menyesuaikan strategi e-commerce mereka ke depan. Penyesuaian format kemasan, penguatan peran distributor, serta perencanaan program bundling dinilai menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan pada 2026.

Editorial Team