Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina (Persero) melakukan peremajaan terhadap kilang Balikpapan melalui Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Proyek modernisasi yang menelan investasi sekitar Rp123 triliun ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, hingga mendorong hilirisasi industri petrokimia.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron menyampaikan, RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksi.
"RDMP Balikpapan menjadi fondasi penting penguatan sistem energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan," ujar dia dalam keterangan resmi, Senin (12/1).
Dalam RDMP Balikpapan terdapat tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.
Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.
"Early work menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan," ujar Baron.
Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit. Dari jumlah tersebut, 21 merupakan unit proses baru dan 13 unit fasilitas utilitas pendukung.
Pertamina juga merevitalisasi empat unit pengolahan utama, termasuk unit distilasi minyak mentah, pengolahan residu, hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG. Revitalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, serta mendukung peningkatan kualitas produk BBM.
Terakhir pada lingkup ketiga yang merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Pada tahap tersebut, Pertamina membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT. Infrastruktur ini difokuskan untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan proses penerimaan minyak mentah dari kapal tanker.
Dengan cakupan pembangunan komprehensif, mulai dari pekerjaan pendahuluan, pembangunan unit proses dan utilitas, hingga penguatan fasilitas penerimaan minyak mentah, Baron mengklim RDMP Balikpapan adalah langkah transformasi infrastruktur yang mendukung ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
