Pola Pilihan Konsumen Indonesia Terhadap BEV, HEV dan PHEV
Pasar elektrifikasi Indonesia tumbuh melalui BEV, HEV, dan PHEV; pilihan konsumen dipengaruhi kebutuhan perjalanan, akses pengisian daya, efisiensi, serta keragaman merek dan model.
Survei internal Wuling menunjukkan minat ICE turun dari 66 persen pada 2024 menjadi 58 persen, sementara EV naik dari 14 persen menjadi 24 persen; hybrid turun dari 20 persen menjadi 18 persen.
Permata Bank memproyeksikan pangsa xEV mencapai 53-75 persen pada 2030, tetapi penjualan BEV diperkirakan 266.000-376.000 unit, masih di bawah target pemerintah yang mencapai 600.000 unit.
Jakarta, FORTUNE - Pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia berkembang ke arah multi-powertrain seiring meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap beragam teknologi, mulai dari mobil listrik berbasis baterai (BEV) hingga kendaraan hybrid (HEV dan PHEV), yang didorong oleh pertimbangan infrastruktur, pola perjalanan, dan kebutuhan konsumen.
Marketing Director Wuling Motors, Ricky Christian, menyatakan tiga teknologi elektrifikasi—BEV, HEV, dan PHEV—menunjukkan pertumbuhan signifikan dan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan tersebut tecermin pada kian banyaknya merek dan model yang masuk ke masing-masing segmen.
“Ketiganya memiliki pertumbuhan yang signifikan, jadi kami melihat tiga-tiganya juga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia,” kata Ricky dalam Dialog Otomotif Nasional bertajuk "The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia", yang dikutip Senin (10/8).
Lonjakan pertumbuhan paling menonjol terjadi pada segmen PHEV pada 2025. Peningkatan ini didorong oleh makin banyaknya produsen yang menawarkan kendaraan PHEV dengan harga lebih terjangkau dan sesuai kebutuhan konsumen.
Pilihan merek di pasar otomotif nasional juga kian beragam. Pemain kendaraan listrik yang awalnya hanya sekitar tujuh merek terus bertambah.
Pada segmen hybrid, jumlahnya kini mencapai sekitar 14 merek. Sementara itu, segmen PHEV yang pada 2022 baru diisi satu merek, berkembang menjadi sekitar sembilan merek hingga 2025. Perluasan pilihan model ini dinilai penting karena konsumen mempertimbangkan aspek desain selain teknologi.
Karakteristik masing-masing teknologi membuat satu jenis kendaraan elektrifikasi tidak mungkin cocok untuk seluruh konsumen Indonesia. Mobil konvensional berbahan bakar minyak (Internal Combustion Engine / ICE) masih menjadi pilihan mayoritas karena teknologinya sudah familier.
Di sisi lain, HEV dan PHEV berfungsi sebagai jembatan bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik namun masih mengkhawatirkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. SeBEV dipandang sebagai teknologi masa depan, meski penggunaannya saat ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Dinamika preferensi tersebut turut terekam dalam survei internal Wuling terhadap sekitar 1.000 responden. Pada 2024, sebanyak 66 persen responden masih mempertimbangkan ICE, disusul hybrid sebesar 20 persen, dan EV sebesar 14 persen. Dua tahun kemudian, dalam survei terbaru dengan jumlah sampel yang kurang lebih sama, minat terhadap ICE turun menjadi 58 persen dan hybrid menyusut ke 18 persen. Sebaliknya, minat terhadap EV melonjak signifikan menjadi 24 persen.
Meskipun survei tersebut bersumber dari data internal perusahaan, Ricky menduga tekanan biaya bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi peningkatan minat terhadap kendaraan listrik. Perubahan ini juga membuka kemungkinan bahwa EV mulai diposisikan sebagai kendaraan tambahan bagi sebagian konsumen, sementara ICE tetap diandalkan sebagai kendaraan utama.
Pendekatan multi-powertrain dinilai sebagai strategi yang relevan karena setiap teknologi memiliki keunggulan tersendiri, dengan efisiensi sebagai faktor utama yang dicari konsumen.
“Yang mereka mau adalah value untuk efisiensinya,” ujar Ricky.
Pilihan berbeda berdasarkan wilayah
Head of Public Relations & Motorsport PT Toyota-Astra Motor, Philardi Ogi, memandang Indonesia membutuhkan pendekatan berbeda untuk setiap teknologi.
Toyota, kata dia, telah menjual kendaraan hybrid di 38 provinsi, termasuk hingga Papua Pegunungan. Bahkan, sekitar 51 persen penjualan kendaraan elektrifikasi Toyota berada di luar Jakarta.
Menurut Ogi, pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi multi-pathway, karena kondisi dan kebutuhan konsumen di Indonesia tidak seragam.
HEV, misalnya, dapat menjangkau konsumen di kota besar maupun kota-kota yang lebih kecil. PHEV memiliki keunggulan untuk konsumen yang membutuhkan jarak tempuh lebih panjang, sedangkan BEV lebih banyak sesuai dengan karakter mobilitas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
“Namun, kita tidak bisa membuat satu seragam, semua mobil dalam satu teknologi untuk masyarakat Indonesia,” ujar Ogi.
Pandangan serupa disampaikan Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. Menurut dia, pasar sebenarnya sudah mulai menemukan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Konsumen tidak semata-mata memilih teknologi yang dianggap paling unggul antara BEV, HEV, dan PHEV. Kenaikan ketiga teknologi menunjukkan konsumen justru menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan pola penggunaan kendaraan secara pribadi.
BEV, misalnya, paling sesuai bagi konsumen yang memiliki akses pengisian daya di rumah dan mayoritas beraktivitas di dalam kota. Dengan biaya energi relatif rendah, kendaraan listrik murni menjadi pilihan ekonomis untuk penggunaan harian dengan jarak tempuh tinggi.
Lalu, HEV lebih praktis bagi konsumen yang kerap melakukan perjalanan jauh atau belum memiliki akses pengisian baterai. Teknologi ini tidak membutuhkan pengisian daya eksternal sehingga lebih fleksibel menghadapi kondisi infrastruktur Indonesia saat ini.
Adapun PHEV berada di antara keduanya. Kendaraan ini dapat digunakan seperti mobil listrik untuk perjalanan harian, tetapi masih memiliki mesin bensin yang dapat digunakan ketika konsumen membutuhkan perjalanan lebih jauh.
Dengan pola tersebut, Josua menilai pemerintah sebaiknya tidak menetapkan satu teknologi sebagai pemenang. Regulasi justru perlu memberikan ruang bagi BEV, HEV, dan PHEV berkembang sesuai karakteristik pengguna.
“Tugas kebijakan adalah berhenti memilih pemenang,” kata Josua.
Potensi pertumbuhan kendaraan elektrifikasi juga tecermin pada proyeksi Permata Bank hingga 2030. Bank tersebut memproyeksikan pangsa kendaraan elektrifikasi atau xEV, yang mencakup BEV, HEV, dan PHEV, terhadap total kendaraan penumpang akan terus meningkat.
Pada 2026, pangsa xEV diperkirakan sekitar 41 persen. Hingga 2030, pangsa tersebut diproyeksikan mencapai 53 persen dalam skenario pesimistis, 62 persen dalam skenario moderat, dan bahkan 75 persen dalam skenario optimistis.
Tetapi, tingginya penetrasi xEV tidak otomatis membuat target penjualan BEV tercapai. Permata Bank memperkirakan penjualan BEV domestik pada 2030 hanya sekitar 266.000 unit dalam skenario "bear", 311.000 unit dalam skenario "base", dan 376.000 unit dalam skenario "bull."
Angka tersebut masih berada di bawah target pemerintah sebesar 600.000 unit pada 2030. Dalam skenario paling optimistis sekalipun, terdapat selisih sekitar 224.000 unit terhadap target tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan pertumbuhan kendaraan elektrifikasi tidak identik dengan dominasi BEV. Pertumbuhan xEV ke depan justru berpotensi ditopang oleh kombinasi BEV, HEV, dan PHEV sesuai kebutuhan konsumen.
























