Jakarta, FORTUNE - Pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia berkembang ke arah multi-powertrain seiring meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap beragam teknologi, mulai dari mobil listrik berbasis baterai (BEV) hingga kendaraan hybrid (HEV dan PHEV), yang didorong oleh pertimbangan infrastruktur, pola perjalanan, dan kebutuhan konsumen.
Marketing Director Wuling Motors, Ricky Christian, menyatakan tiga teknologi elektrifikasi—BEV, HEV, dan PHEV—menunjukkan pertumbuhan signifikan dan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan tersebut tecermin pada kian banyaknya merek dan model yang masuk ke masing-masing segmen.
“Ketiganya memiliki pertumbuhan yang signifikan, jadi kami melihat tiga-tiganya juga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia,” kata Ricky dalam Dialog Otomotif Nasional bertajuk "The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia", yang dikutip Senin (10/8).
Lonjakan pertumbuhan paling menonjol terjadi pada segmen PHEV pada 2025. Peningkatan ini didorong oleh makin banyaknya produsen yang menawarkan kendaraan PHEV dengan harga lebih terjangkau dan sesuai kebutuhan konsumen.
Pilihan merek di pasar otomotif nasional juga kian beragam. Pemain kendaraan listrik yang awalnya hanya sekitar tujuh merek terus bertambah.
Pada segmen hybrid, jumlahnya kini mencapai sekitar 14 merek. Sementara itu, segmen PHEV yang pada 2022 baru diisi satu merek, berkembang menjadi sekitar sembilan merek hingga 2025. Perluasan pilihan model ini dinilai penting karena konsumen mempertimbangkan aspek desain selain teknologi.
Karakteristik masing-masing teknologi membuat satu jenis kendaraan elektrifikasi tidak mungkin cocok untuk seluruh konsumen Indonesia. Mobil konvensional berbahan bakar minyak (Internal Combustion Engine / ICE) masih menjadi pilihan mayoritas karena teknologinya sudah familier.
Di sisi lain, HEV dan PHEV berfungsi sebagai jembatan bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik namun masih mengkhawatirkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. SeBEV dipandang sebagai teknologi masa depan, meski penggunaannya saat ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Dinamika preferensi tersebut turut terekam dalam survei internal Wuling terhadap sekitar 1.000 responden. Pada 2024, sebanyak 66 persen responden masih mempertimbangkan ICE, disusul hybrid sebesar 20 persen, dan EV sebesar 14 persen. Dua tahun kemudian, dalam survei terbaru dengan jumlah sampel yang kurang lebih sama, minat terhadap ICE turun menjadi 58 persen dan hybrid menyusut ke 18 persen. Sebaliknya, minat terhadap EV melonjak signifikan menjadi 24 persen.
Meskipun survei tersebut bersumber dari data internal perusahaan, Ricky menduga tekanan biaya bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi peningkatan minat terhadap kendaraan listrik. Perubahan ini juga membuka kemungkinan bahwa EV mulai diposisikan sebagai kendaraan tambahan bagi sebagian konsumen, sementara ICE tetap diandalkan sebagai kendaraan utama.
Pendekatan multi-powertrain dinilai sebagai strategi yang relevan karena setiap teknologi memiliki keunggulan tersendiri, dengan efisiensi sebagai faktor utama yang dicari konsumen.
“Yang mereka mau adalah value untuk efisiensinya,” ujar Ricky.