BUSINESS

Karakteristik Gen Z di Tempat Kerja, Betul Kurang Ambisius?

Bagaimana karakteristik Gen Z di dunia kerja?

Karakteristik Gen Z di Tempat Kerja, Betul Kurang Ambisius?Ilustrasi sekelompok anak muda sedang nonton bareng lewat smartphone (Shutterstock/imtmphoto)
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Bagaimana karakteristik Gen Z di dunia kerja? Benarkah mereka kurang berambisi dibanding generasi sebelumnya?
Melansir situs web McKinsey, Gen Z atau Generasi Z adalah mereka yang lahir di antara 1996 sampai dengan 2010. Kelompok itu merupakan generasi termuda kedua setelah Generasi Alfa. Sama seperti generasi lain, karakteristik Gen Z dibentuk oleh cara mereka dibesarkan. Baik itu faktor internal maupun eksternal.

Sejumlah problem eksternal yang membayangi pertumbuhan generasi ini, di antaranya: perubahan iklim, ketakutan akan keruntuhan ekonomi, hingga pandemi global. Gen Z lahir saat penggunaan internet mulai masif, karena itu mereka dijuluki digital natives.

Secara internasional, seperempat populasi di kawasan Asia Pasifik pada 2025 adalah Gen Z. Maka, penting untuk memahami karakteristik Gen Z di dunia kerja. Mengingat mereka-lah talenta-talenta yang akan mengisi posisi penting di perusahaan Anda.

Banyak Gen Z yang memasuki dunia kerja selama krisis kesehatan global; pandemi Covid-19. Mereka belum mengenal kehidupan profesional selama periode sebelum pandemi. Sejalan dengan itu, muncul narasi yang memandang mereka malas dan tidak ambisius–karena terbiasa dengan hal instan. Tapi, apakah itu benar?

Karakteristik Gen Z di dunia kerja: ambisius dengan cara berbeda

Jenis pekerjaan paling dicari di Indonesia.Shutterstock/G-Stock Studio
  • Gen Z tak memusatkan hidup hanya untuk pekerjaan

Dosen Senior subjek Perilaku Organisasi di Yale School of Management, Heidi Brooks menyangkal persepsi itu. Menurutnya, pekerja muda sebetulnya ambisius, tetapi tak tertarik untuk ‘menaiki tangga’ korporat secara kuno. Definisi ‘sukses’ mereka bergeser dibanding generasi-generasi sebelumnya.

“Banyak pekerja mapan [dari semua level] lahir dari paradigma: pekerjaan adalah identitas sentral Anda, dan cara untuk berkembang hanyalah memusatkan pekerjaan dalam hidup,” katanya, dilansir dari Fortune.com. “[Gen Z] tak termasuk di dalamnya. Ternyata ada cara berpikir lain tentang kehidupan dan pekerjaan [dari mereka], yang mana itu bagus.”

  • Gen Z berambisi, tapi kurang berminat mengejar kenaikan jabatan secara kuno

Studi global dari United Minds dan KRC Research (2022) menyebut, Gen Z memang lebih tertarik untuk mengejar posisi kepemimpinan. 38 persen dari mereka bercita-cita jadi CEO, dibandingkan dengan Gen X atau milenial (18 persen) dan Generasi Y atau boomer (21 persen). Meski berambisi, mereka tampak kurang tertarik meraihnya di perusahaan berstruktur tradisional, dan memilih cara lain.

Angelica Song (24) adalah salah satu contohnya. Dia berhasil bergabung dengan Google sebagai pekerja penuh waktu pada 2021, setelah melalui masa magang. Di samping itu, dia menekuni pekerjaan sebagai influencer di media sosial. Dengan pekerjaan sampingan itu, dia bekerja sama dengan berbagai perusahaan dan merek. Lexus dan LinkedIn, misalnya.

“Saya mungkin pemula dalam posisi di Google, tapi di pekerjaan sampingan, saya seperti CEO di perusahaan sendiri. Saya menjalankan bisnis saya sendiri dan memiliki tim yang membantu saya,” ceritanya kepada Fortune.com. “Perlu banyak ambisi untuk terjun ke pekerjaan lainnya setelah Anda selesai dengan pekerjaan harian Anda.”

Song bukan satu-satunya. Bank of America menyebut, 31 persen Gen Z memanfaatkan hobi mereka sebagai pekerjaan sampingan. Itu menunjukkan sifat kewirausahaan dan keinginan untuk menjadi ‘kapten’ di kapalnya sendiri.

  • Gen Z punya perspektif berbeda tentang ‘kesuksesan’ dan ‘kenaikan jabatan’

Camila (26), bukan nama sebenarnya, baru mengajukan diri untuk promosi di perusahaannya–yang bergerak di bidang kehumasan. Dengan melakukan itu, kira-kira akan ada kenaikan gaji US$10.000, masih dengan tugas yang pada dasarnya sama seperti yang dilakukannya. Tapi dengan tanggung jawab sedikit lebih besar.

Kendati begitu, ia tak begitu memikirkan arti promosi tersebut untuk kariernya dalam jangka panjang. Ia mengaku, visinya tentang pekerjaan dan hidupnya tak berkaitan dengan jabatan.

“Saya tak perlu menghasilkan US$1 juta. Ya, itu memang bagus, tapi saya tak butuh itu. Sukses tak harus tentang naik jabatan, itu bisa saja berarti melakukan pekerjaan Anda dengan sangat baik,” jelasnya.

Ia tertarik untuk menjadi direktur, suatu hari nanti. Tapi dengan syarat: bisa tetap melakukan pekerjaan yang memungkinkannya menjaga keseimbangan kehidupan personal dan profesional. Ia tak ingin menerima panggilan telepon dan surel saat berlibur, seperti yang terjadi pada bos-bosnya sebelumnya.

Song juga berkeinginan jadi CMO di perusahaan besar suatu saat. Tapi, di luar itu, di sebetulnya ingin merasa bergairah dalam urusan pekerjaan dan menunjukkan keterampilannya. Bukan hanya menduduki jabatan tinggi di perusahaan besar.

“Saya punya mentor yang sangat baik, yang bertanya kepada saya, ‘apa yang kamu inginkan dari posisi dan gelar itu?’,” ceritanya. “Jelas ada aspek keangkuhan di dalam pertanyaan itu, seperti deklarasi bahwa kita bisa mencapai titik sejauh itu. Tapi, tanyakan pada diri sendiri, ‘Anda ingin jadi pemimpin seperti apa?’.”

Brooks mengatakan, retorika itu umum terjadi di kalangan Gen Z. Karena secara luas, mereka melakukan pekerjaan yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut.

  • Gen Z suka fleksibilitas dan lebih sadar keberagaman

Studi United Minds juga menemukan, Gen Z cenderung lebih bersedia melakukan pekerjaan yang dibayar, tak lebih. Mereka juga menghargai fleksibilitas di tempat kerja, serta memperhatikan kesenjangan antara hal yang mereka inginkan dan dapatkan di tempat kerja. Termasuk gaji yang layak serta hubungan sehat dengan rekan dan atasan.

Studi pusat penelitian Generational Kinetics menyebut, “Mereka juga paling termotivasi oleh perasaan dihormati dan suka saat pekerjaannya dihargai.”

Generasi ini juga lebih menyadari keberagaman dan lebih menggali identitas dirinya dibandingkan generasi sebelumnya. Secara politik dan kehidupan sosial, mereka terbilang aktif. Tak lupa, mereka juga menempatkan nilai substansial pada keadilan dan keberlanjutan rasial.