Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Rugi TOBA Menyusut hingga 83% di Kuartal I 2026, Ini Penyebabnya

Rugi TOBA Menyusut hingga 83% di Kuartal I 2026, Ini Penyebabnya
Electrum H5.
Intinya Sih
  • TOBA mencatat peningkatan pendapatan 20,5% dan laba kotor 46,7% pada kuartal I 2026, dengan kerugian menyusut 83% berkat tidak berulangnya rugi divestasi PLTU tahun lalu.
  • Segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor utama dengan lonjakan pendapatan 447,69%, menyumbang 60% dari total pendapatan dan 93% EBITDA yang disesuaikan.
  • Bisnis energi terbarukan dan kendaraan listrik tumbuh pesat; PLTM beroperasi penuh, proyek PLTS terapung berjalan, serta armada motor listrik naik jadi 9.082 unit dengan 426 stasiun penukaran baterai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE – PT TBS Energi Utama (TOBA) mencatat kinerja positif sepanjang kuartal I 2026 seiring dengan transformasi portofolio bisnis perseroan ke sektor bisnis hijau melalui akuisisi dan divestasi pada 2025.

TOBA memperkuat stabilitas operasional pada lini bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.

Sepanjang kuartal I 2026, TOBA mencatat peningkatan pendapatan konsolidasi sebesar 20,5 persen dan laba kotor konsolidasi sebesar 46,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Efisiensi operasional perseroan terus membaik tercermin dari posisi arus kas operasional yang sebelumnya negatif US$2,9 juta pada 2025 menjadi positif US$9,9 juta pada kuartalI 2026.

Secara keseluruhan, total kerugian periode berjalan menyusut 83 persen secara tahunan dari US$58,9 juta menjadi US$9,5 juta karena tidak berulangnya kerugian dari divestasi entitas PLTU tahun lalu.

Direktur TBS, Juli Oktarina, Direktur TBS, mengatakan optimistis dengan apaian kinerja di kuartal pertama 2026. “Ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan. Langkah besar akuisisi dan divestasi di 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan perseroan,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/5 ).

Fase transisi menurutnya akan berdampak sementara pada laba perseroan, namun transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.

Berdasarkan lini bisnis, pengelolaan limbah merupakan kontributor utama perusahaan yang berkontribusi 60 persen terhadap total pendapatan konsolidasi perseroan dan 93 persen dari total EBITDA yang disesuaikan didorong oleh pertumbuhan pendapatan segmen yang melonjak 447,69 persen dari US$9,4 juta menjadi US$51,9 juta.

Segmen pengelolaan limbah menjadi salah satu penopang utama kinerja TBS dengan daya tahan yang tinggi di tengah berbagai kondisi ekonomi. Di tengah fluktuasi pasar dan ketidakpastian global, bisnis ini diklaim mampu menghasilkan pendapatan berulang yang stabil dengan tingkat profitabilitas yang kuat.

Di sisi lain, kinerja operasional unit pengelolaan limbah juga terus menunjukkan ekspansi. Cora Environment di Singapura kini melayani lebih dari 470.000 pelanggan dengan tingkat ketersediaan fasilitas operasional mencapai 100 persen. Sementara itu, Asia Medical Enviro Services mempertahankan posisinya sebagai pemain utama pengelolaan limbah medis di Singapura dengan pangsa pasar sekitar 45 persen. Di Indonesia, ARAH Environmental telah melayani lebih dari 5.000 pelanggan dari berbagai sektor di 15 provinsi.

Di lini energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 MW telah beroperasi penuh dan menyumbang pendapatan sebesar US$3,2 juta. Perseroan juga melanjutkan pengembangan proyek PLTS terapung berkapasitas 46 MWp yang saat ini memasuki tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.

Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum mencatat pertumbuhan agresif. Pendapatan dari penjualan dan penyewaan kendaraan listrik melonjak 137,82 persen secara tahunan, dari US$1,3 juta menjadi US$3,2 juta. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi armada motor listrik yang meningkat dari 5.100 unit pada Maret 2025 menjadi 9.082 unit pada Maret 2026.

Untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik, Electrum juga menambah jumlah stasiun penukaran baterai (battery swapping station) menjadi 426 unit, naik 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 310 unit.

Di tengah volatilitas harga komoditas, segmen batu bara tetap dijaga sebagai sumber profitabilitas melalui strategi efisiensi operasional. Perseroan mencatat penurunan biaya operasional tunai sebesar 5,8 persen menjadi US$42,5 per ton, sehingga margin laba kotor bisnis pertambangan tetap stabil di level 15,8 persen pada kuartal pertama 2026.

Juli mengatakan capaian tersebut merupakan bagian dari roadmap transformasi perusahaan menuju bisnis yang lebih berkelanjutan. “Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta dan manajemen modal kerja yang disiplin, perseroan memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” pungkasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Related Articles

See More