Investor dapat menerapkan diversifikasi dengan berbagai cara, mulai dari menyebarkan investasi ke berbagai kelas aset, sektor, wilayah geografis, hingga jangka waktu investasi. Berikut langkah-langkah penerapannya.
Salah satu cara umum adalah membagi dana ke beberapa kelas aset, seperti saham, obligasi, reksa dana, ETF, properti, komoditas, dan instrumen pasar uang. Setiap kelas aset memiliki karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.
Saham umumnya memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi dengan tingkat volatilitas yang lebih besar, sedangkan obligasi sering digunakan sebagai aset dengan karakteristik yang lebih stabil.
Investor juga dapat melakukan diversifikasi dengan memilih aset dari sektor industri berbeda. Risiko yang terjadi pada satu sektor tidak selalu berdampak sama pada sektor lainnya.
Misalnya, perubahan harga komoditas dapat memengaruhi sektor energi, sementara perubahan tren konsumsi dapat berdampak pada sektor barang konsumen.
Setiap investor memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi perubahan nilai investasi. Karena itu, diversifikasi perlu disesuaikan dengan profil risiko.
Investor konservatif biasanya lebih mempertimbangkan instrumen dengan tingkat risiko rendah. Investor moderat dapat mengombinasikan aset dengan risiko menengah, sedangkan investor agresif cenderung memiliki porsi aset berisiko tinggi dengan peluang imbal hasil besar.
Komposisi portofolio dapat berubah seiring kondisi pasar dan perubahan tujuan keuangan. Evaluasi secara berkala diperlukan untuk melihat apakah alokasi aset masih sesuai dengan rencana investasi.
Penyesuaian dapat dilakukan dengan menambah, mengurangi, atau mengubah porsi instrumen tertentu agar tetap sesuai dengan kebutuhan.