BI Tahan Bunga Acuan 4,75% pada RDG Pertama 2026

- BI mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75% dan suku bunga deposit facility 3,75%
- Prediksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 kuat, inflasi terjaga rendah
- Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1 persen
Jakarta, FORTUNE – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen. Sedangkan, untuk suku bunga deposit facility juga ditahan sebesar 3,75 persen, sementara suku bunga lending facility tetap 5,50 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan sebagai upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. Serta guna mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kebijakan makroprudensial Bank Indonesia tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan atau pro-growth termasuk dengan meningkatkan efektivitas kebijakan insentif likuiditas untuk mempercepat penurunan suku bunga dan meningkatkan pertumbuhan kredit ke sektor riil,” kata Perry saat konferensi pers, Rabu (21/1).
BI yakin ekonomi RI tumbuh kuat di akhir 2025

Sementara itu, bank sentral memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 akan kuat dan lebih tinggi dari capaian triwulan III-2025 yang mencapai 5,04 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal.
Sementara itu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pada 2025 dinilai masih terjaga dengan Inflasi IHK Desember 2025 sebesar 2,92 persen (YoY). Sedangkan, inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,38 persen (YoY), sejalan pertumbuhan ekonomi serta didukung konsistensi suku bunga kebijakan moneter bank sentral.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1 persen. Inflasi inti diprakirakan tetap rendah seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, dan dampak positif dari digitalisasi.
Ekonomi global diprediksi hanya tumbuh 3,2%

BI memandang perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3 persen.
“Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global. Meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence dan stimulus fiskal pengurangan pajak,” jelas Perry.
Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) diprediksi berkurang dan disertai masih tingginya yield UST sejalan defisit fiskal AS yang masih besar. Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.
“Perkembangan ini mengakibatkan peningkatan aliran modal ke emerging market tertahan dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju. Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Perry.
Dengan demikian, ke depannya arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk tetap mempertahankan stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


















