Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bos BSI: Tambahan Dana Pacu Aktivitas Ekonomi
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo saat ditemui dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025. (Dok/Istimewa),
  • Pemerintah berencana menempatkan kembali dana SAL senilai Rp75–100 triliun ke perbankan nasional untuk menjaga likuiditas dan menurunkan biaya dana, terutama bagi bank-bank Himbara.
  • BSI menyambut positif kebijakan ini karena diyakini memperkuat intermediasi perbankan, memperluas akses pembiayaan UMKM, serta menjaga daya saing tarif pembiayaan di sektor riil.
  • Hingga April 2026, BSI mencatat pertumbuhan pembiayaan 15,59% YoY menjadi Rp332 triliun dengan rasio NPF gross membaik ke 1,80%, menunjukkan kinerja sehat dan ekspansif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rencana penempatan kembali dana SAL oleh pemerintah disambut positif oleh BSI karena dinilai mampu memperkuat likuiditas dan menjaga biaya pembiayaan tetap kompetitif. Dengan dukungan ini, BSI dapat memperluas pembiayaan produktif bagi UMKM dan sektor strategis lain, sekaligus menunjukkan kinerja intermediasi yang sehat dan berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menyambut positif langkah Kementerian Keuangan yang berencana kembali melakukan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada sektor perbankan nasional. Kebijakan stimulus ini diproyeksikan mampu mempertebal likuiditas, menurunkan biaya dana (cost of fund), sekaligus menjaga tarif pembiayaan tetap kompetitif bagi sektor riil.

Strategi tersebut membidik penguatan kapasitas intermediasi perbankan, khususnya yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), guna memacu pertumbuhan perekonomian domestik di tengah tantangan pasar global.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan penempatan dana negara ini akan memberikan dampak berantai positif terhadap masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui akses pembiayaan yang lebih terjangkau.

"Di sinilah kolaborasi pemerintah dan industri perbankan menjadi penting, yakni menjaga likuiditas, memperkuat kepercayaan pasar, serta memastikan aliran dana tetap mendukung aktivitas ekonomi, dunia usaha, serta pembangunan nasional," ujar Anggoro melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (29/6).

Anggoro mengatakan likuiditas yang kokoh akan langsung dioptimalkan korporasi untuk memperluas penetrasi ke sektor-sektor produktif nasional.

"Kami optimalkan untuk memperkuat pembiayaan produktif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha," kata Anggoro.

Hingga April 2026, BSI memperlihatkan performa intermediasi yang ekspansif namun tetap prudent. Pembiayaan perseroan tumbuh 15,59 persen secara year-on-year (YoY) menjadi Rp332 triliun. Kualitas aset juga berada dalam posisi sehat, ditandai oleh rasio Non-Performing Financing (NPF) gross yang membaik ke level 1,80 persen.

Pertumbuhan kuantitatif ini diiringi komitmen BSI dalam menyukseskan program prioritas pemerintah. Dana kelolaan tersebut disalurkan ke berbagai lini strategis, meliputi pembiayaan UMKM, Kredit Usaha Rakyat (KUR), koperasi, program pembiayaan rumah bersubsidi, hingga dukungan bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi memperluas jangkauan inklusi keuangan syariah di Tanah Air.

Sebagai latar belakang kebijakan, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pemerintah tengah mempersiapkan penataan ulang portofolio dana SAL di perbankan. Setelah melakukan penarikan dana SAL senilai Rp300 triliun yang sempat dititipkan sejak awal 2025, Kemenkeu siap mengucurkan kembali dana serupa dengan skema lebih akomodatif guna memastikan likuiditas perbankan tidak mengering.

Pemerintah menjanjikan volume dana yang akan ditempatkan kembali ke Himbara berkisar Rp75 triliun-100 triliun, dengan mengeksploitasi momentum waktu penempatan yang paling presisi.

"Saya akan kembalikan lagi uang pemerintah ke Himbara. Bahkan saya tambah, tadinya Rp300 [triliun], saya tambah Rp100 triliun. Nanti ada yang Rp75 triliun hingga Rp100 triliun lebih fleksibel. Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita," ujar Purbaya.

Editorial Team

Related Article