Cadangan Devisa RI Capai US$156,5 miliar di 2025, Begini Prospek 2026

- Cadangan devisa RI mencapai US$156,5 miliar di akhir 2025, naik dari November 2025.
- BI yakin cadangan devisa akan mendukung ketahanan sektor eksternal dan stabilisasi makroekonomi.
- Proyeksi 2026 menunjukkan pergerakan cadangan devisa yang relatif stabil dengan tiga faktor penentu.
Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar, meningkat bila dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2025 sebesar US$150,1 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyatakan bahwa kenaikan tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (8/1).
Posisi cadangan devisa pada akhir 2025 ini, lanjut Ramdan, masih setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pergerakan cadangan devisa RI masih dibayangi 3 faktor

Pada 2026 ke depan, bank sentral juga meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing yang diprakirakan terus berlanjut.
Sementara itu, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede memproyeksikan arah cadangan devisa pada 2026 relatif stabil dengan kecenderungan naik tipis. Kenaikan ini didorong oleh fondasi eksternal masih terjaga. Josua menyebut, pergerakan cadev RI masih ditentukan oleh tiga faktor.
Pertama, kinerja surplus perdagangan yang berpeluang masih berlanjut. Sepanjang Januari–Oktober 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$234,04 miliar, tumbuh 6,96 persen (YoY), sementara impor tercatat sebesar US$198,16 miliar atau naik 2,19 persen (YoY).
Dengan pertumbuhan ekspor yang tetap lebih tinggi dibandingkan impor, surplus perdagangan RI dapat dipertahankan selama periode tersebut.
Kedua, lanjut Josua, arus keuangan juga masih rentan ketika ketidakpastian geopolitik global meningkat. Kondisi ini dapat menekan nilai tukar dan mendorong Bank Indonesia melakukan stabilisasi pasar sehingga menggerus cadangan devisa.
“Tetapi pada horizon menengah, penurunan suku bunga global dan perbaikan kepastian kebijakan domestik berpotensi memulihkan minat investasi asing,” tambah Josua saat dihubungi Fortune Indonesia di Jakarta, (8/1).
Faktor terakhir ialah pembiayaan pemerintah berupa penerbitan surat utang valas atau sukuk global, penarikan pinjaman luar negeri. Menurutnya, dinamika penempatan dan pembayaran kewajiban valas pemerintah dapat menambah atau mengurangi cadangan devisa dari waktu ke waktu.

















