Jakarta, FORTUNE – Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menarik arus investasi besar di tengah pergeseran ekonomi global yang semakin tidak terpusat. Potensi ini ditopang oleh kombinasi faktor penawaran dan permintaan domestik yang kuat.
Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, menyatakan persaingan antarnegara di kawasan Asia kini kian ketat. Karena itu, penguatan daya saing menjadi kunci utama.
“Perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru, seiring dengan semakin terdiversifikasinya investasi, manufaktur, dan rantai pasok global,” kata Radhika melalui keterangan resmi yang dikutip Jumat (11/9).
Radhika memerinci penguatan tersebut mencakup infrastruktur fisik—seperti energi, transportasi, dan logistik—serta infrastruktur nonfisik, termasuk kepastian regulasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kemudahan berusaha.
Selain kekayaan sumber daya alam dan skala pasar yang besar, daya tarik Indonesia ke depan bergantung pada kemampuan menarik investasi berteknologi, memperkuat rantai nilai domestik, serta menjaga stabilitas makroekonomi.
Di sisi lain, pergerakan suku bunga Amerika Serikat dan dinamika global tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta biaya pendanaan perusahaan multinasional menjelang 2027.
Optimisme serupa disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno. Ia menyebutkan realisasi investasi di dalam negeri tetap resilien, dibuktikan dengan capaian paruh pertama 2026 yang hampir mencapai 50 persen dari target tahun berjalan.
“Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik,” kata Riyanto.
Riyanto menambahkan, keunggulan kompetitif Indonesia turut ditopang oleh efisiensi biaya, ketersediaan tenaga kerja, dan kematangan ekosistem industri. Meski demikian, investor global kini semakin menuntut kecepatan perizinan serta stabilitas kebijakan ekonomi.
Prospek penanaman modal di Indonesia juga mendapat angin segar dari pertumbuhan investasi asing di kawasan regional. DBS Group Research mencatat arus Penanaman Modal Asing (PMA) di Asia Tenggara naik dari sekitar US$225 miliar pada 2024 menjadi hampir US$250 miliar pada 2025.
Sebagai perbandingan, total PMA di Asia Timur pada 2025 mencapai sekitar US$245 miliar. Tren positif ini didorong oleh relokasi rantai pasok global dan ekspansi manufaktur di kawasan ASEAN.
