Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DBS: Potensi Investasi Indonesia Strategis, Perkuat Infrastruktur dan Regulasi
Monumen Nasional (Monas) di Jakarta dengan latar belakang langit jingga dan siluet gedung-gedung tinggi (pexels.com/Tom Fisk)
  • DBS Group Research menilai Indonesia strategis untuk menarik investasi besar di tengah ekonomi global yang makin multipolar.
  • Infrastruktur, regulasi, kualitas sumber daya manusia, dan kemudahan berusaha menjadi faktor penting bagi minat investor.
  • Realisasi investasi semester pertama 2026 hampir mencapai 50 persen dari target, sementara arus PMA Asia Tenggara meningkat pada 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Asia Tenggara mencatat arus PMA sekitar US$225 miliar.

2025

Arus PMA Asia Timur mencapai sekitar US$245 miliar. Asia Tenggara mencatat hampir US$250 miliar.

semester pertama 2026

Realisasi investasi di Indonesia hampir mencapai 50 persen dari target.

Jumat (11/9)

Radhika Rao menyampaikan peluang Indonesia memperkuat posisi sebagai pusat pertumbuhan baru dalam ekonomi global multipolar.

menuju 2027

Arah suku bunga AS dan kondisi pasar global disebut memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta pendanaan Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DBS Group Research menyoroti peluang Indonesia menarik investasi besar di tengah ekonomi global yang semakin multipolar.
  • Who?
    Radhika Rao dari DBS Group Research serta Riyatno dan Riyanto dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyampaikan pandangan tentang investasi Indonesia.
  • Where?
    Pernyataan Radhika dikutip di Jakarta, sementara pembahasan mencakup Indonesia, Asia Timur, Asia Tenggara, dan ASEAN.
  • When?
    Pernyataan Radhika dikutip pada Jumat (11/9). Realisasi investasi dibahas untuk semester pertama 2026 dan arus PMA Asia dicatat pada 2024–2025.
  • Why?
    Diversifikasi investasi, manufaktur, dan rantai pasok global membuka peluang, meski persaingan antarnegara kawasan untuk menarik investasi semakin ketat.
  • How?
    Minat investor dapat ditarik dan dipertahankan melalui penguatan energi, transportasi, logistik, regulasi, kualitas sumber daya manusia, kemudahan berusaha, serta stabilitas kebijakan dan makroekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia punya peluang besar mendapat investasi. Kak Radhika dari DBS bilang dunia sekarang punya banyak pusat ekonomi. Indonesia perlu punya energi, jalan, aturan, dan pekerja yang baik. Pak Riyanto dari BKPM juga bilang investasi di Indonesia masih naik. Banyak perusahaan melihat aturan, izin, dan nilai rupiah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Peluang investasi Indonesia didukung oleh sejumlah faktor yang saling melengkapi, mulai dari ukuran pasar, biaya, tenaga kerja, hingga ekosistem industri. Penguatan infrastruktur dan kepastian regulasi yang disebutkan dapat menjadi dasar untuk mempertahankan minat investor, sejalan dengan tren peningkatan PMA di Asia Tenggara dan capaian investasi domestik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menarik arus investasi besar di tengah pergeseran ekonomi global yang semakin tidak terpusat. Potensi ini ditopang oleh kombinasi faktor penawaran dan permintaan domestik yang kuat.

Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, menyatakan persaingan antarnegara di kawasan Asia kini kian ketat. Karena itu, penguatan daya saing menjadi kunci utama.

“Perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru, seiring dengan semakin terdiversifikasinya investasi, manufaktur, dan rantai pasok global,” kata Radhika melalui keterangan resmi yang dikutip Jumat (11/9).

Radhika memerinci penguatan tersebut mencakup infrastruktur fisik—seperti energi, transportasi, dan logistik—serta infrastruktur nonfisik, termasuk kepastian regulasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kemudahan berusaha.

Selain kekayaan sumber daya alam dan skala pasar yang besar, daya tarik Indonesia ke depan bergantung pada kemampuan menarik investasi berteknologi, memperkuat rantai nilai domestik, serta menjaga stabilitas makroekonomi.

Di sisi lain, pergerakan suku bunga Amerika Serikat dan dinamika global tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta biaya pendanaan perusahaan multinasional menjelang 2027.

Optimisme serupa disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno. Ia menyebutkan realisasi investasi di dalam negeri tetap resilien, dibuktikan dengan capaian paruh pertama 2026 yang hampir mencapai 50 persen dari target tahun berjalan.

“Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik,” kata Riyanto.

Riyanto menambahkan, keunggulan kompetitif Indonesia turut ditopang oleh efisiensi biaya, ketersediaan tenaga kerja, dan kematangan ekosistem industri. Meski demikian, investor global kini semakin menuntut kecepatan perizinan serta stabilitas kebijakan ekonomi.

Prospek penanaman modal di Indonesia juga mendapat angin segar dari pertumbuhan investasi asing di kawasan regional. DBS Group Research mencatat arus Penanaman Modal Asing (PMA) di Asia Tenggara naik dari sekitar US$225 miliar pada 2024 menjadi hampir US$250 miliar pada 2025.

Sebagai perbandingan, total PMA di Asia Timur pada 2025 mencapai sekitar US$245 miliar. Tren positif ini didorong oleh relokasi rantai pasok global dan ekspansi manufaktur di kawasan ASEAN.

Editorial Team

Related Article