HSBC Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen pada 2026

- HSBC memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen pada 2026, lalu melambat tipis menjadi 5,2 persen pada 2027, namun tetap dinilai kuat.
- Ketidakpastian global, lonjakan harga energi, tekanan harga pangan akibat El Nino, serta suku bunga Fed 3,75–4,00 persen membayangi ekonomi Indonesia.
- HSBC menilai penggunaan APBN untuk subsidi bahan bakar membantu stabilisasi harga dan daya beli; proyeksi 2027 berada di bawah target pemerintah 6 persen.
Jakarta, FORTUNE – HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 5,4 persen hingga akhir 2026 dan melambat tipis ke 5,2 persen pada 2027. Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann, mengungkapkan laju pertumbuhan tersebut dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global, lonjakan harga energi, hingga tren tingginya suku bunga acuan dunia.
Kendati dibayangi berbagai tantangan eksternal, HSBC menilai kinerja ekonomi nasional masih tergolong sangat kuat karena mampu bertahan di atas 5 persen hingga 2027.
"Perekonomian global saat ini cukup menantang. Ada sejumlah guncangan yang dihadapi oleh semua negara. Salah satunya adalah guncangan energi yang masih berlangsung. Saat ini, harga solar berada pada rekor tertinggi secara global. Kemudian, ada pula dampak El Nino yang meningkatkan tekanan terhadap harga pangan, misalnya di sebagian besar wilayah Asia," ujar Frederic dalam konferensi pers pada acara HSBC Summit 2026 di Jakarta, Selasa (29/9).
Tekanan terhadap perekonomian negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, juga diperberat oleh kebijakan ketat bank sentral Amerika Serikat (AS), Fed. Pada September 2026, Fed baru saja menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen.
Untuk meredam dampak dinamika tersebut, HSBC mengimbau pemerintah Indonesia terus mengantisipasi gejolak ekonomi global. Frederic menilai, langkah pemerintah yang memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna menopang subsidi bahan bakar cukup efektif dalam menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat.
"Kami memproyeksikan pertumbuhan untuk ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun ini juga akan mencapai 5,4 persen. Untuk tahun depan, kami memproyeksikan angka 5,2 persen. Jadi, meskipun sedikit melambat, pertumbuhannya tetap sangat kuat mengingat adanya guncangan-guncangan tersebut," ujarnya.
Proyeksi HSBC untuk 2027 berada di bawah target resmi pemerintah. Sebagai perbandingan, pemerintah telah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen, tingkat inflasi 2,5 persen, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun pada kisaran 6,9 persen, serta nilai tukar rupiah pada kisaran Rp17.500 per dolar AS.
















