Inflasi Medis RI Tertinggi di Asia, Proteksi Jangka Panjang Krusial

- Inflasi medis Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026, tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan 12,5%, menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat dan industri kesehatan.
- Kenaikan biaya kesehatan dipicu oleh mahalnya tindakan medis, teknologi canggih, harga alat dan obat impor, serta pelemahan rupiah yang menekan biaya layanan kesehatan nasional.
- Allianz menekankan pentingnya perlindungan kesehatan jangka panjang karena lonjakan biaya penyakit kritis seperti jantung, kanker, dan stroke berdampak besar pada keuangan serta produktivitas keluarga.
Jakarta, FORTUNE – Kenaikan biaya layanan kesehatan di Indonesia semakin menjadi perhatian. Laporan MMB Asia Health Trends 2026 memproyeksikan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8 persen pada 2026, menjadikannya yang tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan yang diperkirakan berada di level 12,5 persen.
Tingginya inflasi medis tersebut memunculkan tantangan baru bagi masyarakat, pelaku industri kesehatan, hingga perusahaan asuransi. Di saat yang sama, kebutuhan akan perlindungan kesehatan yang berkelanjutan dinilai semakin penting, terutama untuk menghadapi risiko penyakit kritis yang memerlukan biaya perawatan besar.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi Allianz Indonesia bertajuk “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis”, yang menghadirkan pandangan dari kalangan medis dan industri asuransi mengenai tren peningkatan biaya kesehatan di Indonesia.
"Kenaikan biaya medis menjadi tantangan bagi seluruh ekosistem kesehatan, termasuk perusahaan asuransi," kata Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, dalam diskusi secara daring, Rabu (17/6).
Menurut Rina, kenaikan biaya kesehatan tidak hanya dipicu oleh inflasi secara umum. Berbagai faktor lain turut berkontribusi, mulai dari mahalnya tindakan medis, pemanfaatan teknologi kesehatan yang semakin maju, kenaikan harga alat kesehatan dan obat-obatan, hingga pengaruh kondisi ekonomi makro.
"Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan teknologi medis, biaya kesehatan juga terdampak dinamika ekonomi makro," ucapnya.
Ia menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah turut memberikan tekanan terhadap biaya layanan kesehatan karena sebagian besar bahan baku obat-obatan dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor.
Data Allianz Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan biaya penanganan penyakit kritis dalam lima tahun terakhir. Sepanjang periode 2020–2025, biaya perawatan penyakit jantung meningkat 219 persen, kanker naik 179 persen, sedangkan stroke melonjak 169 persen.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan penyakit tidak menular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Ia menyoroti meningkatnya kasus penyakit jantung yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. "Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus penyakit jantung pada kelompok usia produktif," katanya.
Menurut Bayushi, berbagai faktor seperti hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, pola makan yang tidak sehat, hingga kebiasaan merokok menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit jantung. “Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor risiko yang dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting,” ujar dr. Bayushi.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi medis memang berperan besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan. Namun, di sisi lain, pemanfaatan teknologi yang semakin canggih juga turut mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan.
Dampak penyakit kritis, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien, tetapi juga memengaruhi produktivitas, kualitas hidup, hingga stabilitas keuangan keluarga. Karena itu, langkah pencegahan, deteksi dini, dan kesiapan perlindungan kesehatan perlu menjadi perhatian utama.
Sementara itu, Allianz mencatat telah membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun sepanjang 2025. Dari total tersebut, sekitar Rp3,7 triliun merupakan pembayaran klaim kesehatan.
“Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ungkap Rina.
Menurutnya, berbagai penyesuaian yang dilakukan industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya menjaga kecukupan manfaat sekaligus memastikan keberlanjutan perlindungan bagi nasabah di tengah lonjakan biaya medis.
Rina menilai perlindungan kesehatan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi keuangan jangka panjang. Sebab, dampak finansial penyakit kritis tidak berhenti pada biaya perawatan di rumah sakit, tetapi juga mencakup rehabilitasi, terapi lanjutan, hingga pemantauan medis yang dapat berlangsung dalam periode panjang. Ia mengatakan tantangan ke depan bukan hanya menyediakan produk perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, melainkan juga menjaga agar manfaatnya tetap relevan dan berkelanjutan di tengah perubahan sektor kesehatan.

















