Jakarta, FORTUNE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membukukan lonjakan laba bersih konsolidasi sebesar 41,18 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp2,40 triliun pada semester I-2026. Kinereja emiten dengan kode saham BBTN ini disokong akselerasi penyaluran kredit dan keberhasilan menekan rasio kredit bermasalah.
Realisasi keuntungan bersih tersebut melonjak signifikan dari posisi Rp1,70 triliun pada periode sama tahun lalu.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan pencapaian positif pada paruh pertama tahun ini merupakan buah dari pembenahan fundamental internal perusahaan yang terstruktur.
“Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/7).
Hingga akhir Juni 2026, total pembiayaan dan kredit konsolidasi yang dikucurkan BTN melaju 11,2 persen (YoY) hingga mencapai Rp418,11 triliun, naik dari posisi sebelumnya Rp376,11 triliun. Sektor perumahan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp332,88 triliun, atau tumbuh 4,8 persen (YoY).
Pada segmen ini, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tetap menjadi mesin pertumbuhan utama dengan kenaikan 8,1 persen (YoY) menjadi Rp196,96 triliun. Selain itu, produk baru berupa Kredit Program Perumahan (KPP) menyumbang portofolio senilai Rp4,1 triliun sejak pertama kali diperkenalkan ke pasar pada akhir Oktober 2025.
"Kami tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut didukung struktur pendanaan yang semakin kuat sehingga mampu menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis Perseroan dalam jangka panjang," kata Nixon.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, BBTN menggenjot sektor non-perumahan melalui penetrasi ke ceruk pasar korporasi dan ritel, meliputi bidang pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga lembaga keuangan.
Diversifikasi instrumen niaga (beyond mortgage) juga diimplementasikan lewat kolaborasi dengan perusahaan pembiayaan (multifinance) guna memfasilitasi kredit kendaraan bermotor sekaligus memaksimalkan taktik penjualan silang (cross-selling) kepada basis nasabah yang sudah ada.
Agresivitas penyaluran kredit ini secara langsung mendorong total aset konsolidasi BTN meroket 12,4 persen (YoY) menjadi Rp545,16 triliun per semester I-2026. Peningkatan skala aset ini memperkokoh kapasitas perseroan dalam memperluas ekosistem perumahan nasional.
Dari sisi likuiditas, pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp433,00 triliun, tumbuh 6,6 persen secara tahunan. Manajemen mengunci efisiensi operasional dengan memperkuat basis dana murah melalui akuisisi retail, optimalisasi transaksi berbasis digital, perluasan sistem penggajian (payroll), serta integrasi kemitraan strategis dengan institusi maupun pemerintah daerah.
Strategi ini sukses mempertahankan biaya dana perseroan 3,01 persen sepanjang paruh pertama 2026.
Kendati ekspansi pembiayaan berjalan agresif, emiten perbankan pelat merah ini mampu meningkatkan kualitas portofolio asetnya. Rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) gross berhasil ditekan ke angka 2,99 persen pada semester I-2026, membaik dari posisi 3,3 persen pada semester I-2025.
Perbaikan kualitas manajemen risiko juga tecermin pada penyusutan rasio Loan at Risk (LAR) yang turun menjadi 18,6 persen dari posisi sebelumnya 20,2 persen pada periode sama tahun lalu.
Efisiensi biaya risiko juga terlihat nyata dari pos Cost of Credit (CoC) yang terpangkas drastis menjadi 0,7 persen dari angka 2,0 persen pada semester I-2025. Seluruh indikator ini menegaskan keberhasilan BTN dalam mengimplementasikan asas kehati-hatian (prudent banking) dan memperketat manajemen risiko portofolio terkelola.
