- Pesimisme terhadap kondisi ekonomi
Mengenal Doom Spending: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasi

Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif akibat stres, kecemasan, atau pesimisme terhadap masa depan yang memberi rasa nyaman sementara.
Fenomena ini dipicu oleh pesimisme ekonomi, paparan berita negatif, pencarian kepuasan instan, serta pengaruh media sosial dan FOMO yang mendorong perilaku konsumtif.
Untuk mengatasinya, disarankan menerapkan aturan 24 jam sebelum membeli serta mengganti pelampiasan stres dengan aktivitas positif.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya paparan informasi di media sosial, istilah doom spending semakin sering dibahas. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kebiasaan membelanjakan uang secara impulsif.
Berbeda dengan impulse buying yang umumnya dipicu keinginan sesaat, doom spending lebih berkaitan dengan kondisi emosional. Seseorang berbelanja untuk memperoleh rasa nyaman sementara ketika menghadapi tekanan psikologis seperti rasa cemas, stres, atau pesimisme.
Ingin tahu lebih dalam mengenai doom spending? Simak penjelasan selengkapnya di sini!
Table of Content
Apa itu doom spending?
Doom spending adalah perilaku mengeluarkan uang secara spontan sebagai mekanisme menghadapi kecemasan, ketidakpastian, atau stres. Istilah ini berasal dari kata doom yang berarti malapetaka atau kehancuran, dan kata spending yang berarti pengeluaran.
Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten bernada negatif. Setelah terpapar informasi mengenai krisis ekonomi, perang, PHK, atau isu lain yang memicu kecemasan, sebagian orang terdorong membeli barang atau pengalaman sebagai self-reward.
RTE mewartakan doom spending bukan sekadar persoalan pengendalian diri. Hal tersebut juga mencerminkan bagaimana seseorang merespons masa depan yang dipandang semakin tidak pasti.
Penyebab doom spending
Doom spending umumnya dipicu oleh kombinasi faktor psikologis, ekonomi, dan sosial. Sejumlah kondisi yang dapat mendorong seseorang melakukan doom spending antara lain sebagai berikut:
Naiknya biaya hidup, harga properti, hingga ketidakpastian ekonomi membuat sebagian orang merasa target finansial semakin sulit diwujudkan. Akibatnya, mereka memilih menikmati uang saat ini dibanding menabung untuk masa depan.
- Paparan berita negatif
Akses informasi selama 24 jam melalui media sosial maupun internet membuat seseorang lebih mudah terpapar kabar perang, inflasi, PHK, atau bencana. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan berkepanjangan yang kemudian dilampiaskan melalui aktivitas belanja.
- Mencari kepuasan instan
Saat membeli barang yang diinginkan, otak melepaskan dopamin yang memunculkan rasa senang. Efek tersebut hanya berlangsung sementara sehingga sebagian orang kembali berbelanja ketika rasa cemas muncul lagi.
- Pengaruh media sosial dan FOMO
Media sosial menampilkan gaya hidup yang tampak ideal, mulai dari perjalanan, barang bermerek, hingga gawai terbaru. Hal ini dapat memicu fear of missing out (FOMO) sehingga seseorang terdorong mengikuti tren meski tidak sesuai kebutuhan.
Tanda-tanda mengalami doom spending
Tidak semua aktivitas belanja termasuk doom spending. Namun, beberapa ciri berikut dapat menjadi indikator.
- Sering berbelanja saat merasa stres, sedih, atau cemas.
- Membeli barang yang sebenarnya bukan kebutuhan.
- Menyesal setelah transaksi selesai.
- Sulit mengingat atau mengendalikan total pengeluaran bulanan.
- Menggunakan kartu kredit, paylater, atau pinjaman untuk memenuhi keinginan belanja.
- Tetap berbelanja meski kondisi finansial sedang tidak stabil.
Perbedaan doom spending dengan pengeluaran biasa adalah motivasinya. Belanja menjadi masalah ketika digunakan sebagai cara utama mengatasi kecemasan atau tekanan emosional.
Dampak doom spending terhadap keuangan
Jika terus dilakukan, doom spending dapat memengaruhi kondisi finansial dalam jangka panjang. Salah satunya adalah hilangnya kendali terhadap anggaran karena dana yang dialokasikan untuk kebutuhan pokok atau tabungan habis untuk pembelian impulsif.
Kondisi tersebut akhirnya dapat menghambat pembentukan dana darurat maupun investasi. Selain itu, penggunaan kartu kredit, paylater, atau pinjaman untuk memenuhi keinginan belanja berisiko meningkatkan utang.
Setelah euforia berbelanja berakhir, rasa bersalah kerap muncul. Akibatnya,, terbentuk siklus emosional yang berulang, yaitu stres, berbelanja, lalu kembali merasa menyesal.
Cara mengatasi doom spending
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebiasaan doom spending, di antaranya:
- Terapkan aturan 24 jam sebelum membeli barang agar keputusan diambil secara lebih rasional, bukan karena dorongan emosi sesaat.
- Batasi paparan berita negatif dan kurangi kebiasaan doomscrolling dengan menetapkan waktu khusus untuk mengikuti perkembangan informasi.
- Susun anggaran bulanan, termasuk alokasi untuk hiburan, agar pengeluaran tetap terkendali tanpa menghilangkan ruang untuk menikmati hasil kerja.
- Kenali pemicu emosional yang mendorong keinginan berbelanja dan biasakan menerapkan mindful spending sebelum melakukan pembelian.
- Gunakan aplikasi pencatat keuangan untuk memantau arus kas dan mengevaluasi pola pengeluaran secara berkala.
- Cari cara lain untuk mengelola stres, seperti berolahraga, membaca, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.
- Tetapkan tujuan keuangan, misalnya membangun dana darurat, menabung, atau berinvestasi, agar lebih disiplin dalam membedakan kebutuhan dan keinginan.
Demikian informasi mengenai doom spending mulai dari pengertian, penyebab, dampak, serta cara mengatasinya. Semoga bermanfaat.
FAQ seputar doom spending
| Apa itu doom spending? | Doom spending adalah kebiasaan berbelanja impulsif sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau pesimisme terhadap masa depan. |
| Apa penyebab utama doom spending? | Penyebabnya antara lain ketidakpastian ekonomi, paparan berita negatif, FOMO, dan keinginan memperoleh kepuasan instan. |
| Apa dampak doom spending bagi keuangan? | Doom spending dapat mengganggu anggaran, menghambat tabungan, dan meningkatkan risiko utang konsumtif. |
| Bagaimana cara mengurangi doom spending? | Kebiasaan ini dapat dikurangi dengan mengatur anggaran, menerapkan aturan 24 jam, dan mengenali pemicu emosional sebelum berbelanja. |




















