Mega Syariah Bukukan Laba Rp117 M Ditopang Fungsi Intermediasi

- Bank Mega Syariah mencatat laba sebelum pajak Rp137 miliar per Juni 2026, naik 17,56 persen dari tahun sebelumnya berkat fungsi intermediasi yang optimal.
- Pertumbuhan pembiayaan didorong segmen komersial seperti corporate dan business banking, serta peningkatan signifikan pada pembiayaan ritel melalui Syariah Card dan produk konsumer.
- Dana pihak ketiga terutama dari segmen retail meningkat dengan pertumbuhan giro 24,03 persen dan tabungan 10 persen, menunjukkan perbaikan komposisi dana murah bank.
Jakarta, FORTUNE - Bank Mega Syariah membukukan laba sebelum pajak mencapai Rp137 miliar, naik 17,56 persen dibandingkan Juni 2025 hanya sekitar Rp117 miliar.
Torehan laba tersebut ditopang oleh fungsi intermediasi yang berjalan optimal. Bank milik konglomerat Chairul Tanjung itu tercatat menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp10 triliun, naik 6 persen secara tahunan.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, mengatakan pertumbuhan pembiayaan terutama didorong oleh segmen komersial, khususnya corporate banking dan business banking, serta didukung pertumbuhan pembiayaan ritel melalui Syariah Card dan pembiayaan konsumer.
"Segmen komersial naik menjadi lebih dari Rp5,96 triliun per Juni 2026. Segmen tersebut mencatat kenaikan lebih dari 15 persen secara year to date (ytd)," ujar Hanie melalui keterangan resmi, Jumat (10/6).
Secara terperinci, pembiayaan corporate banking menjadi kontributor utama dengan outstanding lebih dari Rp4,5 triliun, atau naik 16 persen dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara itu, pembiayaan business banking juga tumbuh Rp156,0 miliar atau sekitar 12 persen menjadi Rp1,45 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.
Selain segmen komersial, pembiayaan ritel juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pembiayaan Syariah Card tercatat mencapai lebih dari Rp325,4 miliar, tumbuh hingga lebih dari 67 persen secara tahunan. Sedangkan pembiayaan konsumer mencapai Rp601,0 miliar atau meningkat sebesar 17,73 persen dibandingkan Juni 2025.
"Pertumbuhan pembiayaan yang sehat menjadi salah satu fokus utama Bank Mega Syariah. Kami terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, kualitas portofolio, dan kontribusi yang berkelanjutan terhadap profitabilitas bank," kata Hanie.
Sementara di sisi dana pihak ketiga (DPK), Bank Mega Syariah mencatatkan perbaikan komposisi dana murah terutama terlihat pada segmen retail. DPK retail tercatat sebesar Rp5,84 triliun per Juni 2026, meningkat lebih dari 3,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada segmen ini, giro tumbuh sekitar 24,03 persen secara tahunan, sementara tabungan meningkat 10,0 persen secara tahunan.
Menurutnya, perusahaan akan terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas aset agar mampu membukukan profitabilitas dan tetap relevan bagi nasabah.


















