Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

BI: Penjualan Eceran Terkontraksi 4,4 Persen, Ini Segmen Penyebabnya

BI: Penjualan Eceran Terkontraksi 4,4 Persen, Ini Segmen Penyebabnya
ilustrasi berbelanja eceran (pexels.com/Tianwang Xiao)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Indeks Penjualan Riil Juni 2026 turun terutama karena penurunan pada sektor barang budaya, rekreasi, dan bahan bakar kendaraan.

  • Penurunan indeks tertahan oleh peningkatan penjualan suku cadang, aksesori, serta perlengkapan rumah tangga.

  • Pelaku usaha eceran optimistis penjualan meningkat pada Agustus dan November 2026.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 bertengger pada level 221,6. Angka ini mencerminkan terjadinya kontraksi 4,4 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY).

Kendati laju transaksi di pasar eceran melambat, otoritas moneter menilai kondisi perdagangan domestik masih tetap terjaga.

Penyebab utama dari penyusutan indeks tersebut ditengarai akibat lesunya performa pada sejumlah sektor. Kelompok barang budaya dan rekreasi merosot hingga 8,5 persen (YoY). Setali tiga uang, kelompok komoditas bahan bakar kendaraan bermotor juga ikut tergerus 7,8 persen (YoY).

Meski demikian, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebutkan roda perputaran pasar eceran tidak sepenuhnya lesu. Penahan kejatuhan indeks ini ditopang oleh perbaikan penjualan tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori.

Selain itu, sektor perlengkapan rumah tangga lainnya ikut menjadi penyokong pertumbuhan yang positif.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak,” kata Ramdan melalui keterangan yang dikutip Jumat (10/7).

Memasuki paruh kedua tahun ini, para pelaku usaha eceran membayangkan adanya titik cerah. Penjualan eceran pada Agustus dan November 2026 diperkirakan bakal kembali naik. Optimisme tersebut tecermin secara gamblang melalui Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP).

Untuk Agustus 2026, nilai IEP tercatat 159,8. Sementara itu, IEP untuk November 2026, angkanya diprediksi mencapai 153,8. Kedua prediksi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan IEP Juli dan Oktober 2026 yang masing-masing 138,3 dan 149,4.

Para responden menyigi lonjakan omzet pada Agustus 2026 kelak dipicu oleh semaraknya kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI). Adapun geliat pasar pada November 2026 mendatang didorong oleh eskalasi persiapan menjelang HBKN Natal.

Di sisi lain, pergerakan harga dan tekanan inflasi pada Agustus 2026 diperkirakan naik. Sebaliknya, tekanan harga pada November 2026 diprediksi akan relatif stabil.

Kondisi tersebut tecermin pada Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 yang menyentuh 178,0. Nilai ini lebih tinggi ketimbang IEH Juli 2026 yang mencapai 175,8 akibat didorong oleh lonjakan harga bahan baku.

Sementara itu, IEH November 2026 diperkirakan 167,5, atau relatif stabil jika disandingkan dengan IEH Oktober 2026 yang mencapai 167,6.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More