Comscore Tracker
FINANCE

Perekonomian Tiongkok Melambat, Kekayaaan Miliardernya Pun Melandai

Para Taipan juga menghadapi risiko pengawasan dari Tiongkok.

Perekonomian Tiongkok Melambat, Kekayaaan Miliardernya Pun MelandaiJack Ma, pendiri Alibaba, saat bertemu dengan PM Thailand selama kunjungan ke Thailand untuk mengumumkan investasi grup. Shutterstock/feelphoto

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Perlambatan perekonomian Tiongkok tampaknya berdampak pada kinerja sejumlah perusahaan raksasa di negara tersebut. Pada gilirannya, itu berakibat terhadap harta maupun kekayaan para konglomerat pendiri perusahaan.     

Seperti dilansir dari Forbes, Selasa (07/12), jumlah harta konglomerat perusahaan internet Tiongkok, seperti Jack Ma, Pony Ma, Colin Huang, dan Wang Xing, menyusut lebih dari US$73 miliar atau sekitar Rp1.040,3 triliun (asumsi kurs Rp14.250) dari kekayaan bersih gabungannya sejak April 2021.

Perseroan seperti raksasa e-commerce Alibaba hingga platform pengiriman makanan Meituan disebut-sebut sedang berjuang melawan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang berkepanjangan. Prospek bisnis mereka pun kemungkinan akan tetap suram setidaknya sampai awal tahun depan, kata sejumlah analis.

“Mereka (investor) sekarang kembali melihat fundamental, tetapi prospek jangka pendek tidak begitu menarik,” kata Shi Jialong, kepala China Internet and New Media Research di Nomura Securities yang berbasis di Hong Kong.

Para taipan itu juga menghadapi risiko pengawasan yang meningkat dari pemerintah Tiongkok. Didi, misalnya. Perusahaan ride-sharing itu baru saja mengumumkan akan delisting (penghapusan saham) dari bursa saham New York. Keputusan delisting itu dikabarkan datang dari permintaan pemerintah Tiongkok.

Perekonomian Tiongkok pada kuartal ketiga tahun ini hanya tumbuh 4,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dari 7,9 persen pada kuartal sebelumnya. Menurut Shi Jialong, perekonomian diperkirakan akan turun menjadi 5,5 persen tahun depan akibat wabah COVID-19 dan kinerja industri properti yang melambat.

Sementara itu, Tiongkok kini telah memiliki lebih dari 1 miliar pengguna internet. Itu artinya, sebagian besar penduduknya sudah melek internet. Pada saat bersamaan, pengguna baru lebih sulit diraih.

Revisi prospek bisnis

Dalam kondisi serba menantang ini, Alibaba, misalnya, yang didirikan oleh miliarder Jack Ma, telah memangkas perkiraan pertumbuhan untuk tahun fiskal 2022: dari proyeksi 29,5 persen pada Mei menjadi 20 hingga 23 persen. Pemangkasan ini menyebabkan sahamnya yang terdaftar di bursa New York menurun 11 persen.

Sementara itu, Meituan, yang dipimpin oleh konglomerat Wang, menurunkan prospek bisnis pengiriman makanan—yang merupakan bisnis intinya. Perusahaan tersebut mencetak kerugian lebih besar setelah mesti membayar denda anti-trust US$532 juta (Rp7,58 triliun) pada Oktober.

Lalu, Pony Ma Huateng, orang terkaya ketiga di Tiongkok sekaligus pendiri Tencent, baru-baru ini juga melaporkan pertumbuhan pendapatan terlambat sejak perusahaan go public di Hongkong pada 2004. Tencent mewanti-wanti tentang sektor periklanan yang akan melemah hingga tahun depan, berkat tindakan keras pemerintah Tiongkok yang membatasi anggaran iklan perusahaan pendidikan dan real estate.

Namun, penghapusaan kekayaan terbesar terjadi pada Colin Huang dari Pinduoduo. Taipan berusia 41 itu telah kehilangan hampir US$35 miliar (Rp498,75 triliun) sejak April. Kekayaannya merosot seiring koreksi pada saham platform perdagangan elektroniknya (e-commerce) sebesar lebih dari setengah di bursa saham Nasdaq, Amerika Serikat.

Related Articles